"Kalau saran Mbak yah, Glo," Gloria mengenang kembali ucapan salah satu manager-nya, Tata, "udahlah, jadikan fans kamu dulu aja. Biarin dia yang coba nyamperin kamu. Lagian apa kamu yakin, cowok yang namanya Firman itu yang kamu lihat di mimpimu?"
Gloria meneguk dulu matcha latte, baru menjawab, "Dari gelagatnya sih, Mbak. Iya sih, Mbak Tata benar. Daripada capek-capek saya gerak duluan, maju duluan... mending ai Cogil Resek itu yang kelihatan ngejar-ngejar aku, yah."
"Nah gitu, dong," Tata mengacungkan jempol. "Mending kamu fokus ke karier keartisan kamu. Kamu kan masih ngebet dapet penghargaan sebagai aktris, kan. Lagian kalau jodoh nggak ke mana. Dan, bisa aja, di tengah-tengah..."
Tata berhenti sejenak, dan minum matcha latte, lalu memperagakan situasi terjadi ledakan, serta berkata, "udah nggak lagi mimpi-mimpi yang berkaitan ke cowok yang namanya Firman itu."
Gloria tertawa kecil mengingat ekspresi Tata saat itu. Cara manajernya memperagakan ledakan dengan kedua tangan dan suara boom yang sengaja dibuat dramatis benar-benar konyol. Padahal pembicaraan mereka saat itu cukup serius.
Mereka duduk di sebuah kafe kecil dekat kantor manajemen. Gloria baru saja selesai reading naskah untuk sebuah proyek webseries. Tata yang biasanya sibuk dengan ponsel dan jadwal artis-artisnya, hari itu justru lebih banyak memperhatikan Gloria. Seolah tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran kliennya itu.
“Intinya gini, Glo,” lanjut Tata waktu itu sambil menaruh gelas matcha latte-nya. “Dunia kamu sekarang bukan cuma soal perasaan. Ada karier yang lagi kamu bangun.”
Gloria mengangguk pelan. Ia tahu itu. Sejak keluar dari idol group dan memutuskan serius di dunia akting, jalannya tidak selalu mulus. Banyak audisi, banyak penolakan pula, dan tidak sedikit komentar yang meragukan kemampuannya.
“Idol kok main drama?”
“Pasti cuma numpang populer.”
"Ah, si Glo itu cuma aji mumpung..."
Komentar-komentar seperti itu dulu sering membuatnya kesal. Namun, justru karena itulah Gloria semakin ingin membuktikan sesuatu.
“Aku masih pengen dapet penghargaan sebagai aktris, Mbak,” kata Gloria saat itu jujur. “Minimal sekali aja seumur hidup aku. Biar orang tahu aku nggak cuma bisa nyanyi dan tampil di panggung. Habis itu, serius ke arah mimpiku yang lainnya, jadi CEO.”
Tata tersenyum tipis, seperti sudah menduga jawaban itu, lalu menjawab, “Makanya fokus ke situ dulu aja.”
Gloria mengaduk sisa matcha latte di gelasnya.
“Tapi soal Firman…,” kata Gloria pelan.