Hujan yang tadi malam mengguyur kawasan Modernland sudah lama reda. Namun Firman masih terjaga. Bukan karena hujan, melainkan karena ponselnya yang sejak tadi bergetar pelan.
Ia sedang membuka Instagram, tepatnya DM dari seseorang yang baru saja mengiriminya pesan cukup panjang. Dari sebuah akun. Akun itu memakai foto profil bergambar lightstick idol group yang dulu pernah menjadi tempat Gloria Hao bernaung.
Firman membaca pesan yang baru saja masuk.
"Ngapain sih aku bohong. Di saat fans-fans yang berasa royal semuanya di-follbadi, sedangkan gua udah 5 tahun, gua royal ke dia..."
Firman mengerutkan dahi. Ia tidak langsung membalas. Ia lanjut membaca pesan berikutnya.
"Cuman nggak masuk grup inti ajah, nggak di-follback. Trus kalo aku komen di YouTube atau di Tiktok pas dia live aja, nggak dibaca sedangkan yang lain di baca."
Firman menghela napas kecil. Ia tahu tipe pesan seperti ini. Penggemar yang merasa kecewa. Penggemar yang merasa usahanya tidak terlihat.
Pesan berikutnya masuk lagi.
"Wajar gak sih kalau kita dekat atau mau beradaptasi ke member lain walaupun hanya sekedar support."
Firman menggeser layar.
"Tapi dia kira fans begitu tuh bakal ngelupain. Padahal mah belum tentu orang lain segampang gitu, yang langsung jadiin itu member oshi."
Pesan terakhir yang muncul cukup panjang.
"Buat apa gua masuk ke Glorifinity. Mereka main sirkel-sirkelan biar bisa carmuk ke Gloria, biar dibilang royal dan perhatian. Semua serba mahal kalo masuk di fansbase resmi."
Firman bersandar di kursinya. Ia mulai mencerna setiap kata-kata si penggemar yang kecewa. Pesan seperti ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Ia pernah melihat banyak drama fandom sejak zaman forum internet dulu.
Namun kali ini ia agak berhati-hati. Bahwa orang ini jelas sedang kesal.
Lalu ia mengetik balasan perlahan:
"Santai dulu, lah. Gue paham kok perasaan lo."
Ia berhenti sebentar. Lalu menambahkan:
"Kadang fandom emang bisa bikin orang ngerasa kayak gitu."
Pesan itu terkirim.
Tidak sampai satu menit, balasan datang lagi.
"Bukan kadang, kak. Ini sering banget. Kalo kita nggak punya duit buat kirim gift mahal pas live, langsung gak dianggap."
Firman menghela napas. Ia mengetik lagi.
"Lu dulu di Glorifinity ya?"
Balasan datang cepat.
"Iya. Dulu aktif banget. Bahkan pernah bantu promosi streaming lagu idol group itu."
Firman membaca dengan serius. Bahwa lrang ini sepertinya benar-benar pernah aktif. Namun ia juga tahu satu hal. Semakin seseorang merasa memiliki idolanya, semakin besar juga potensi kecewanya.
Ia menulis lagi.
"Menurut gue sih… idol sama fans itu emang beda dunia."
Ia menghapus kalimat itu sebentsam lalu menulis ulang dengan lebih hati-hati.
"Bukan berarti fans ga penting. Tapi kadang idol juga ga bisa bales semuanya."
Pesan terkirim.
Beberapa detik tidak ada balasan.