BRUAAASH!!
...
blub ... blub blub …
Ruang itu dingin. Gelap di bawah, terang samar di atas dalam cahaya biru.
Air laut menelan suara, waktu, memori, dan denyut hidup yang seharusnya masih kecil bagi seorang anak tak bernama.
Tubuh anak laki-laki, kurus, mengenakan kaos hitam polos—jatuh menembus permukaan air seperti boneka yang dilepaskan begitu saja dari langit. Tidak ada usaha menahan napas. Tidak ada teriakan.
Hanya diam … seperti tubuh yang sudah terlalu lelah untuk menolak dunia.
Suara lembut dan agung mulai berbicara dalam keheningan:
“Manusia … tidak akan pernah mampu melampaui batas tak terhingga hanya dengan satu angka. Bentuk adalah keadaan ... dan alasan ... adalah arti mengapa dunia masih mempertanyakan dirinya.”
Suara itu diam sejenak, seperti gema halus. Lalu...
“Namun cinta dan pengorbanan … adalah alasan utama mengapa mereka masih tetap berjalan hingga saat ini.”
Anak laki-laki itu tenggelam lebih dalam. Cahaya di atasnya memudar. Rambutnya melayang seperti serpihan hitam di air.
Lalu—
BRUAAASH!!
Suara kecil, pecah dari permukaan.
Dua tangan kecil menyusul jatuh ke air.
Satu dengan gelang emas-merah.
Dan yang lain memakai cincin kelopak mawar abu kebiruan.
Tangan-tangan yang dulu menggapainya—terlambat, selalu terlambat—sebelum dunia memutuskan nasib mereka.
“Dan akhirnya … dunia menjawab permohonan mereka dengan kematian.”
Gelombang cahaya meredup—suasana berganti dalam pecahan langkah kaki di atas sinar cahaya mentari di balik bayangan.
Trap ... Trap ... Trap ...
Italia, awal 90-an.
.
.
Sebuah gang besar yang selalu ramai dengan lalu-lalang manusia, pedagang berseru, dan asap rokok yang melayang di udara siang hari.
"Bayangan ... akan selalu mengawasi setiap dosa manusia. Dan kematian ... adalah nama bagi mereka yang milikinya."
Sudut pandang bergerak perlahan dari permukaan tanah, lalu naik ke atas pundak.
Menampilkan seorang pria tua kaya berjalan dengan tenang: jas rapi, topi bundar, jenggot perak, wajah puas, kalung emas berisi jam antik bergoyang tiap langkahnya dengan koper yang ia bawa di tangan kanannya.
Keyakinan itu seolah hidup dan tidak pernah menagih dosa darinya.
Jauh di atas atap perumahan, di antara bayang, seseorang mengamati. Bergelung dalam jubah, wajah tak terlihat dan napas yang nyaris tak berhembus. Satu sosok yang membawa keadilan bagi mereka yang memiliki dosa atas kematian.
Tanpa suara, ia menuruni atap dan mengikuti pria tua itu, menyerap keramaian seperti bagian dari udara.
Suara itu datang, namun kini ... menghakimi:
“Di antara manusia ... masih ada dari mereka yang berjalan dalam sunyi. Mereka yang mengerti bahwa hukum tak selalu turun dari langit. Melainkan dari manusia itu sendiri.”
"Dan kehendak hukum ... sudah menjadi miliknya."
Detik terus berjalan ....
Pria tua masuk gang kecil yang lebih selam. Sunyi. Namun hangat akan satu alasan yang akan membawanya ke jalan kebenaran.
Namun kehadiran dari sang bayangan, membuat ia sadar ada langkah lain.
Ia berbalik.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Namun saat ia kembali menatap depan—
Seseorang sudah berdiri di sana.
Sosok berjubah.
Diam.
Tegas.
Udara seolah berhenti ketika kehadirannya muncul ke permukaan.
“S-siapa kau—”
Sosok berjubah itu berbicara, suaranya datar, seperti keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum hari ini.
“Orang yang hidup tanpa menanggung apa pun … akan selalu membiarkan orang lain mati menggantikannya. Keberadaanmu ... adalah alasan mengapa aku di sini.”
Satu langkah mendekat.
“Aku datang bukan untuk memperkenalkan siapa diriku. Karena alasan di balik mengapa aku hadir adalah untuk mengambil takdir dari dosa terbesarmu sebagai manusia yang memanusiakan lainnya sebagai alat penjinak.”
Belati tipis muncul dari telapak tangan kirinya—bukan ditarik, tapi muncul, seolah berbentuk dari bayangan itu sendiri.
Dalam satu gerakan cepat.
Senar halus darah di leher pria tua pecah.
Ia terjatuh.
Jam emasnya terlepas dan membentur tanah.
TENG!
Suara jam besar bergema meski tidak ada jam besar di sana.
“Waktu berjalan dalam setiap detik … dan mencatat semua yang tidak pernah diucapkan manusia. Dan hari ini ... dunia telah menyaksikan langkah pertama dari kesunyian yang akan membawa kebenaran.”
Sosok berjubah mengambil koper pria itu dan berjalan menyusuri gang yang lebih gelap.
Pandangan mendekati jam emas yang tergeletak—begitu dekat hingga tak ada lagi suasana selain dentikan jarum di dalamnya. Dan jarumnya―berhenti, tepat di angka jam 12 siang.
Lalu―
TICK.
Detik pertama bergerak.
―
Kilasan meledak masuk.