Druuumm—
Guntur itu kembali bergulung, lebih dalam, lebih jauh—bukan lagi seperti suara yang datang dari langit, melainkan dari sesuatu yang bergerak mundur di dalam kesadaran dunia itu sendiri.
Pandangan yang semula terikat pada satu titik—mata kiri seorang anak—perlahan merenggang.
Bulu mata yang basah oleh hujan tak lagi memenuhi seluruh ruang penglihatan. Garis rahang mulai terlihat, lekuk pipi yang telah kehilangan kelembutan masa kanak-kanak. Wajah itu memanjang, menegang, ditempa waktu dan sesuatu yang tak pernah diberi nama.
Anak itu … telah tumbuh.
Hujan masih turun, namun kini hanya berupa rintik-rintik tipis yang jatuh teratur, mengetuk permukaan lantai keramik dengan bunyi kecil yang nyaris tak terdengar—tik … tik … tik …—mengisi kesunyian yang terlalu tertib untuk disebut alami.
Ia berdiri di antara barisan.
Puluhan sosok lain berdiri tegap di kiri dan kanannya, tersusun rapi dalam formasi satu pleton. Jubah-jubah hitam menjuntai hingga lutut, ditudungkan rapat, menutupi wajah-wajah yang tak ingin dikenali. Di balik kain gelap itu, potongan armor hitam mengilap—bukan baja, bukan besi—melainkan material karbon yang memantulkan cahaya redup langit mendung dengan kilau dingin dan steril.
Mereka tidak tampak seperti pasukan yang akan disorot dunia. Mereka tampak seperti pasukan yang tidak pernah ada.
Anak itu berdiri di sana tanpa pembeda. Tingginya serupa. Posturnya seragam. Napasnya tertahan dalam ritme yang sama seperti yang diajarkan. Jika ada yang melihat sekilas, ia hanyalah satu dari sekian banyak bayangan.
Namun di dalam dadanya, sesuatu bergerak pelan—tenang, tapi tajam.
Lapangan itu luas, diapit oleh bangunan-bangunan tinggi tanpa tanda, jendela-jendela gelap yang seolah menelan pantulan cahaya. Pepohonan tumbuh di beberapa sisi, daunnya basah dan berat, tanpa bunga, tanpa warna—hanya hijau kusam yang bertahan hidup sekadarnya. Di tanah-tanah kosong, tanaman kecil merambat rendah, seakan ragu untuk tumbuh lebih jauh.
Tak ada suara selain hujan.
Lalu, langkah kaki memecah kesunyian itu.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Tiga sosok muncul dari sisi lapangan. Dua berjalan setengah langkah di belakang, bahu mereka kaku, mata lurus ke depan. Yang di tengah melangkah dengan irama berbeda—lebih santai, lebih pasti.
Ia mengenakan jas militer berwarna gelap, rapi tanpa cela. Pangkat berkilau redup di dadanya. Topi militer menaungi wajah yang keras, dipahat garis pengalaman dan keputusan-keputusan yang tidak pernah dicatat sejarah.
Barisan tetap diam. Tak ada aba-aba. Tak ada suara sepatu diseret.
Hanya hujan yang terus jatuh.
Sosok itu berhenti di depan mereka.
Beberapa detik berlalu sebelum ia berbicara—cukup lama untuk membuat udara terasa lebih berat.
“Di dunia ini,” katanya akhirnya, suaranya datar, rendah, namun jelas menembus hujan, “tidak semua pembunuhan adalah kejahatan.”
Tak ada yang bergerak.
“Dan tidak semua kebenaran layak dibiarkan hidup.”
Nada suaranya tidak meninggi. Ia tidak berteriak. Justru karena itu, setiap kata terasa seperti diletakkan langsung di dalam dada para prajurit yang berdiri mendengarkan.
“Kalian dipilih,” lanjutnya, melangkah perlahan menyusuri barisan, “bukan karena keberanian. Keberanian itu murah. Semua orang bisa nekat.”
Ia berhenti sejenak, tepat di depan satu prajurit wanita di barisan depan.
“Kalian dipilih karena kalian mampu membunuh tanpa meninggalkan jejak. Bukan hanya darah. Tapi niat. Ingatan. Bahkan pertanyaan.”
Hujan memantul dari ujung topinya, menetes ke tanah.
“Jika kalian ragu … itu berarti kalian belum cukup mengerti apa yang sedang kalian lindungi.”
Anak itu menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras sedikit saat suara itu masuk ke telinganya—suara yang terlalu ia kenal, bahkan sebelum ia menghafalnya sebagai perintah.
“Dunia ini dibangun di atas hal-hal yang tidak boleh diketahui,” kata sang komandan. “Dan Tyrak … hanya bertahan karena rahasia-rahasia itu tetap terkubur.”
Ia berhenti berjalan. Berdiri tegak di tengah lapangan.
“Namun hari ini,” lanjutnya, “kalian tidak dikumpulkan untuk membersihkan sesuatu di luar sana.”
Nada suaranya berubah tipis. Hampir tak terasa. Tapi cukup untuk membuat udara menegang.
“Kalian dikumpulkan … untuk membersihkan sesuatu di dalam.”
Beberapa napas tertahan serempak.
“Ada seseorang di antara kalian,” katanya pelan, “yang tidak seharusnya ada di sini.”
Jantung anak itu berdenyut satu kali lebih keras.
“Penyamar,” lanjut sang komandan, “yang berpikir bahwa mengenakan jubah yang sama … berarti memiliki tujuan yang sama.”
Ia menyapu pandangan ke barisan, satu per satu, tanpa tergesa. Seolah menikmati ketegangan yang tumbuh di antara tetesan hujan.
“Tugas kalian sederhana,” katanya. “Temukan. Amati. Dan ketika saatnya tiba—hapus.”
Tak ada emosi dalam perintah itu.
Hanya kepastian.
Anak itu tidak bergerak. Tidak menoleh. Tidak bereaksi. Namun di balik tudung hitamnya, matanya sedikit melebar—bukan karena takut, melainkan karena satu hal yang jauh lebih berbahaya.
Kesadaran.
“Jangan pernah hidup hanya untuk mati demi sesuatu yang tidak kalian mengerti,” ujar sang komandan, suaranya kembali datar, hampir seperti nasihat. “Mengerti dulu… baru bunuh.”
Ia berhenti.
“Selesai, semuanya bubar.”
Barisan tetap diam selama sepersekian detik—lalu mulai bergerak serempak, langkah-langkah rapi menyibak genangan air.
Sang komandan sudah berbalik untuk pergi.
Namun tepat sebelum langkah berikutnya, ia berhenti.
Menoleh.
Tatapan itu singkat. Terlalu singkat untuk disebut pengakuan. Terlalu tajam untuk disebut kebetulan.
Matanya bertemu dengan mata anak itu di balik bayangan tudung—satu detik yang terasa lebih panjang dari seluruh hujan yang jatuh di lapangan itu.
Lalu ia berbalik kembali.
Dan berjalan pergi.
Hujan terus turun.
Dan dunia—di tempat lain—tertawa.
“AHAHAHAHAHA—!”
Tawa itu pecah keras, kering, dan tidak pantas berada di ruang mana pun yang masih menyebut dirinya rasional. Ia memantul di dinding-dinding tinggi, berlapis kaca dan logam, lalu kembali ke sumbernya seperti gema yang sengaja dipelihara.
Seorang pria berdiri di lantai atas sebuah ruang laboratorium raksasa.
Punggungnya menghadap ke hamparan cahaya di bawah sana—puluhan ilmuwan, teknisi, dan petugas berseragam putih modern bergerak cepat di antara panel-panel transparan dan lantai bertingkat. Data mengalir di udara sebagai proyeksi, angka dan simbol berputar perlahan, tenang, nyaris indah.
Ia menghadap cermin tembus pandang.
Wajahnya terpantul jelas: rahang tegas, mata tajam di balik kacamata berbingkai tipis, senyum yang terlalu hidup untuk seorang pria yang sedang berbicara tentang masa depan dunia. Jas putihnya bukan kain sederhana, melainkan material sintetis dengan lapisan cahaya halus yang mengikuti gerak tubuhnya—bersih, mahal, dan terlalu sempurna.
Di balik kaca tebal di hadapannya, sesuatu melayang.
Inti itu berputar perlahan di ruang hampa—sebuah struktur yang menolak untuk disebut mesin, namun juga belum pantas disebut makhluk hidup.
Empat bentuk belah ketupat melayang berpasangan, dua di atas, dua di bawah, berputar seperti jarum kompas yang kehilangan arah utara. Garis-garis emas matte membingkai setiap sisinya, sementara di dalamnya, cahaya hijau berdenyut—data yang mengalir, berkumpul, berpisah, lalu kembali lagi, seperti pikiran yang sedang bernapas.
Di pusatnya, lingkaran emas berlapis nikel berputar pelan, dikelilingi ring-ring konsentris yang melayang bebas, saling mengunci tanpa sentuhan fisik. Tak ada kabel. Tak ada penyangga. Seolah gravitasi pun telah diberi tahu untuk tidak ikut campur.
PRISMA (Prismatic Regulatory Intelligence Matrix Authority).
Pria itu menempelkan telapak tangannya ke kaca.
“Akhirnya,” gumamnya, napasnya bergetar oleh kegembiraan yang nyaris religius. “Akhirnya … kau hampir lengkap.”
Ia tertawa lagi, lebih pelan kali ini, seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa doanya sedang dijawab—bukan oleh Tuhan, melainkan oleh ciptaannya sendiri.
“Mereka tidak mengerti,” katanya, berbicara pada pantulannya sendiri, atau mungkin pada sesuatu di balik kaca itu. “Mereka selalu tidak mengerti. Mereka bicara soal kebebasan, soal kehendak … seolah-olah manusia pernah tahu apa yang mereka inginkan.”
Ia menggeleng pelan.
“Dunia ini kacau bukan karena kurangnya hati,” lanjutnya. “Tapi karena terlalu banyak pilihan.”
Tangannya terangkat, menunjuk inti yang berputar.