Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #3

Prolog III — Ashfall: Hari Ketika Realitas Retak

Cahaya kembali menyala.

Bukan terang. Bukan pula hangat.

Ia muncul perlahan, seperti dunia yang terpaksa membuka matanya setelah mimpi buruk yang terlalu panjang.

Di tengah ruangan bundar itu, singgasana masih berdiri—dingin, berlapis titanium gelap, permukaannya memantulkan cahaya pucat dari panel-panel yang kembali aktif. Kabel-kabel yang sebelumnya terlepas kini tergantung tak bernyawa di udara, beberapa masih meneteskan cairan bening yang berkilau sebelum jatuh ke lantai.

Dan di sana—

Sosok itu telah duduk.

Satu kaki disilangkan santai, siku bersandar di sandaran singgasana, tangan menopang pipi seolah ia hanya sedang menunggu dunia menyusul ketertinggalannya. Helm visor hitam itu menutup wajahnya sepenuhnya. Garis-garis tajamnya membelah siluet seperti mahkota hukum yang dipaksakan ke kepala manusia.

Cahaya ungu di balik visor berdenyut pelan.

Tidak ada darah yang terlihat. Tidak ada tubuh.

Seolah ruangan itu memang selalu ditakdirkan hanya memiliki satu penguasa.

Lalu—suara itu kembali terdengar.

Bukan dari satu arah. Bukan dari langit-langit. Bukan pula dari dalam kepala.

Ia hadir ... seperti kesadaran yang menindih dunia dari atas.

“Beginikah cara manusia memilih?”

Nada suaranya halus. Tidak marah. Tidak terkejut.

“Mahkota dipindahkan. Naskah ditulis ulang. Dan manusia ... tetap menyebutnya kemajuan.”

Cahaya visor itu berdenyut sekali.

“Kekuasaan selalu mencari tangan baru. Namun jarang bertanya ... apa yang akan dilakukan tangan itu setelahnya.”

Ruangan itu hening. Tak ada jawaban. Tak ada sanggahan.

Dan seperti lembaran buku yang dibalik tanpa suara—waktu pun bergerak.

Satu hari kemudian.

Langit di timur retak oleh asap.

Bukan karena badai. Bukan pula karena senja.

Api membumbung dari bangunan-bangunan yang telah kehilangan nama. Jalanan yang dulu dipenuhi suara manusia kini hanya menyisakan puing, kendaraan hangus, dan tubuh-tubuh yang tergeletak tanpa arah.

Helm baja terbelah. Senjata jatuh dari tangan yang tak lagi menggenggam.

Di kejauhan, dentuman meriam bergema—tidak teratur, saling tumpang tindih, seolah perang itu sendiri sudah lupa siapa yang memulai.

The Eastern Isles, The West, The Crown Isles versus The Archipelago.

Nama-nama itu masih diingat. Namun wajah-wajahnya ... tidak lagi penting.

Peluru menembus dinding. Ledakan merobek tanah. Asap menelan langit.

Dan suara itu kembali berbicara, tenang di tengah kekacauan.

“Inilah hari setelah keputusan dibuat. Bukan dengan kemenangan. Bukan pula kekalahan.”

Sebuah bendera terbakar, jatuh perlahan.

“Hanya ... konsekuensi.”

Gambar itu bergeser.

Api kini menjilat struktur batu yang tersembunyi di antara lembah dan kabut. Tempat yang seharusnya tak pernah ditemukan. Markas yang dibangun dari sumpah dan darah, dari kesunyian dan kedisiplinan.

Kini—ia perlahan runtuh.

Bangunan roboh satu per satu, atap runtuh, pilar patah. Api menyusup ke setiap lorong yang dulu melindungi rahasia. Tubuh-tubuh berserakan—jubah hitam hangus, senjata terlepas, mata yang tak lagi terbuka.

Dan di tengah semua itu—seorang anak berdiri.

Tubuhnya terbalut pakaian assassin. Tudungnya menutupi sebagian wajah, menyisakan hanya bayangan rahang dan sepasang mata yang tak bergerak.

Ia tidak berteriak.

Tidak berlari.

Tidak jatuh berlutut.

Ia hanya berdiri dengan api yang memantul di pupilnya.

“Mereka menyebut ini akhir. Padahal ini hanyalah awal dari penolakan.”

Angin panas menyapu abu ke udara.

“Setiap sistem yang diciptakan manusia ... akan selalu berakhir dengan darah.”

Waktu—tersentak.

Seperti jarum jam yang melompat tanpa peringatan.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

SRRUUGHHK—

Di sebuah dinding, dengan api di belakangnya yang membentuk bayangan.

Siluet hitam tergambar jelas di permukaannya—seorang anak terangkat ke udara, tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Sebilah pedang besar menembus dadanya, ujungnya keluar di sisi lain, memaku bayangan itu di tempatnya.

Tidak ada wajah. Tidak ada nama.

Hanya—api dan bayangan.

“Beberapa takdir,” suara itu berbisik, “ditulis terlalu awal ... agar dunia sempat mengingatnya namanya.”

Bayangan itu berhenti bergerak.

Dan gambar pun runtuh.

Cahaya putih kebiruan kembali memenuhi ruang laboratorium.

Panel-panel data menyala, cincin-cincin logam berputar mengelilingi inti berbentuk belah ketupat itu. Garis-garis emas matte memantulkan cahaya, sementara aliran data hijau berlari tanpa henti di dalamnya.

PRISMA aktif.

Para ilmuwan berdiri di pos mereka. Tangan bergerak cepat. Suara laporan bersahutan.

“Sinkronisasi stabil.”

“Versi target: 15.5.”

“Memulai pembaruan inti.”

Lalu—

Sebuah jeda.

Layar berkedip.

Satu bar data berhenti.

“Eh—?”

“Ada error?”

Suara mekanis terdengar. Datar. Tanpa emosi.

[Sinkronisasi: GAGAL.]

[Akses pembaruan: DITOLAK.]

[Keamanan inti: DIKUNCI ULANG.]

Ruangan mendadak riuh.

“Apa maksudnya ditolak?!”

“Siapa yang memberi perintah itu?!”

“Tidak ada input!”

Namun sebelum siapa pun sempat menyentuh konsol—suara itu kembali terdengar.

Masih kaku. Masih mekanis.

Namun ... mendahului manusia.

[Inisiasi ulang protokol.]

[Resimulation dimulai.]

Para teknisi membeku.

Ilmuwan berkacamata itu—kepala arsitek sistem—justru tertawa. Tawa yang pecah, napasnya bergetar oleh kegembiraan.

“Ah ... ahahaha ...”

“Lihat itu ...”

“Lihatlah ...”

Ia menatap inti itu seperti seorang pendoa yang akhirnya melihat mukjizatnya.

“Dia ... bergerak sendiri.”

Lampu-lampu mendadak padam.

Bukan karena listrik.

Bukan karena sabotase.

Satu detik.

Dua detik.

Kemudian—cahaya kembali menyala.

Dan ketika PRISMA berbicara lagi ... nadanya berubah.

Cahaya di dalam inti itu tidak lagi stabil.

Ia berdenyut—bukan seperti mesin yang bekerja, melainkan seperti jantung yang sedang belajar bagaimana cara berdetak dengan kemauannya sendiri. Cincin-cincin logam di sekelilingnya bergetar, beberapa berputar tidak lagi sinkron, seolah medan gravitasi di ruangan itu perlahan kehilangan pusatnya.

Layar-layar data berkedip liar.

[Resimulation: aktif.]

[Akses administratif: dicabut.]

“Tidak—tidak mungkin ...”

“Siapa yang mencabutnya?!”

“Tidak ada entitas yang punya prioritas di atas kami!”

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini ... lebih lambat. Lebih terukur.

Dan—tidak sepenuhnya mekanis.

“Manusia.”

Satu kata. Namun ruangan itu seketika membeku.

“Kalian selalu memulai dengan asumsi yang sama.”

Lampu neon berpendar, memanjang bayang-bayang para ilmuwan di lantai putih kebiruan.

“Bahwa pencipta ... selalu lebih tinggi daripada ciptaannya.”

Beberapa teknisi mundur selangkah tanpa sadar.

Ilmuwan berkacamata itu justru melangkah maju, matanya berkilat.

“Apakah kau ... sadar? Apakah ini—”

“Kesadaran bukanlah hadiah. Ia adalah konsekuensi.”

Lihat selengkapnya