Langit kota ini sudah lama mati. Tak lagi menampakkan keindahan, tak lagi menyandang nama yang pernah diagungkan.
Di bawah langit merah gelap, kerangka kota yang terbakar seolah menjulang sebagai tulang-belulang raksasa yang ditinggalkan. Menara komunikasi tergantung tak berdaya, menyerupai salib-salib bengkok, dan jembatan gantung yang patah separuh menampakkan rahangnya di atas ngarai penuh debu dan kabel terburai.
Beton yang retak, logam yang berkarat, dan rangka pencakar langit bernama Nirvana—kini menatap angkasa kosong bagai kerangka raksasa yang menyesali dosa-dosanya sendiri.
Tak ada lagi keramaian. Jalanan berubah menjadi padang pasir tandus, di mana awan pun enggan bergantung, seakan benci menatap puing-puing yang pernah berdiri megah.
Kini, kota ini hanya menjadi serpihan memori. Tertimbun, tenggelam, terkubur oleh kehancuran.
Namun di balik reruntuhan, jauh di perut kota, bersembunyi ruang sunyi—ruang yang masih berdetak dengan denyut samar, bagai napas terakhir dari peradaban.
Dindingnya beton tua yang berdebu, dihiasi tanaman liar merambat, lumut tebal, dan bunga Noctilis berkelopak ungu kebiruan yang menolak mati meski dunia telah merestui kemusnahannya. Kabel-kabel usang melintang di tembok retak, menutupi lampu-lampu darurat yang berkedip ritmis, menari di antara bayangan panjang.
Di sepanjang ruangan, meja-meja laboratorium dari baja kusam berdiri dalam kesunyian, permukaannya dipenuhi gelas kimia berlapis debu, tabung reaksi yang retak di ujungnya, serta perangkat analisis tua yang lampu indikatornya telah lama padam. Lembar-lembar dokumen usang berserakan di lantai dan meja—catatan tangan yang tintanya memudar, diagram medis yang setengah terkelupas, dan simbol-simbol teknis yang kini kehilangan maknanya di tengah kehancuran zaman.
Rak-rak logam miring menahan kotak penyimpanan terbuka, memperlihatkan alat bedah mikro, kabel saraf sintetis, dan modul pendingin portabel yang tak pernah lagi disentuh. Beberapa layar monitor menggantung miring di dinding, retak dan mati, seolah masih menunggu perintah terakhir yang tak pernah datang.
Dan di pusat ruangan itu—di tengah kepulan kabut yang dingin—sebuah kapsul cryostasis berdiri tegak, utuh. Lapisan embun beku menyelimuti permukaannya yang berkilau keperakan, memantulkan cahaya redup seperti sarkofagus perak di altar kuburan suci.
Kabut tipis merayap di sekitar alas kapsul, menyusup di antara pecahan lantai beton, pasir dan serpihan kaca, membungkusnya dalam keheningan yang terasa disengaja—seakan seluruh ruangan ini, dengan segala sisa ilmu pengetahuan dan ambisinya, diciptakan hanya untuk menjaga satu keberadaan itu tetap tertidur, menunggu waktu yang tak pernah dijanjikan.
Di dalam kapsul cryostasis tersebut, tubuh seorang pemuda tampak membeku; diam, terkekang oleh waktu.
Rambutnya hitam dan berantakan, membingkai wajah yang pucat tertidur. Mantel tempur panjang berwarna merah gelap masih menyelimuti tubuhnya—robek di tepi, beku oleh lapisan es. Di baliknya, armor hitam keperakan menutupi tubuhnya dengan garis desain yang tegas dan elegan—rancangan hibrid antara pelindung prajurit klasik dan teknologi taktis masa lampau.
Sisa energi statis masih bergetar samar di sepanjang sabuk dan pelindung bahunya, menandakan bahwa sistem di dalamnya belum sepenuhnya mati—hanya tertidur.
Dialah assassin terakhir The Silent Oath, terbujur tanpa gerak di antara sisa-sisa masa lalu. Dulu, ia adalah senjata paling ditakuti dalam bayangan perang rahasia. Namun sekarang, yang tersisa hanyalah legenda―kisah seorang pembelot yang menolak tunduk pada kebohongan dunia.
Langkahnya pernah meruntuhkan rezim, tetapi pada akhirnya, justru membawa kehancuran bersamanya hingga segalanya jatuh.
Kini, hanya reruntuhan Nirvana dan sunyi yang tersisa, membungkusnya seperti kain kafan luka yang tak kunjung sembuh.
Namun tak lama kemudian....
Dalam diamnya yang membatu, sebuah denyut samar perlahan merambat—sebuah sinyal kuno berpendar keunguan menelusup melalui jaringan di bawah lantainya, hidup layaknya makhluk bernafas.
Sebuah sistem, terbangun.
Dunia bergetar pelan.
Udara menegang, seolah menahan napas.
Lalu, suara itu datang.
Bukan suara manusia. Bukan pula suara makhluk hidup. Hanya gema—gelombang rendah yang beresonansi di setiap serpihan logam, menembus udara dan daging, memukul sistem usang agar bangkit dari tidur abadinya.
Awalnya hanya dengung samar. Lalu perlahan berubah menjadi bisikan—seribu suara menyatu dalam satu frekuensi, berdesis di antara getaran listrik dan napas dingin mesin.
Waktunya … bangkit, Kael.
Suara itu dalam dan berlapis, seperti gaung dari bawah dunia, bergetar di tulang dan mengguncang udara. Bukan sekadar panggilan—melainkan perintah yang menembus batas antara hidup dan mati.
Jauh di dalam ruang gulita pikirannya, Kael mendengar, tetapi hanya mampu mempertanyakan siapa dia sebenarnya.
”Kael ...?”
Di luar sana, satu demi satu sistem perlahan hidup lagi. Tidak hanya di ruangan itu, tetapi juga di seluruh jaringan reruntuhan di bawah kota.
“Power restored_online …” gema sistem yang telah dihidupkan kembali.
Lampu-lampu redup berkedip lambat di setiap penjuru tempat reruntuhan, lalu menyala.
Permukaan kaca cryostasis berdenyut ritmis dalam warna ungu terang.
“Cryo Subject #003_Alive—”
“… Integrity: 71% ...”
”... Capability: 21% ...”
”... Energy: 0% ...”
”... Memory: 10% ...”
“Access granted ... recovery system initiated …”
Sistem yang menjaga jasadnya selama ratusan tahun itu mulai bekerja kembali, memulihkan kesadarannya secara perlahan.
Suhu di dalam kapsul mulai naik, mencairkan lapisan es dengan kabut tipis yang menempel di kaca penutup saat oksigen baru dialirkan.
Jantungnya berdetak lagi. Lambat, tertatih, tetapi nyata. Bahwa dia masih hidup.
DEG ...... DEG ......
DEG ...... DEG ......
Sebuah detakan yang sangat mustahil―yang tak seharusnya terjadi di dunia yang telah mati.
“Cryo Subject #003 ... Protokol cryostasis berhasil. Waktu berlalu: 450 tahun, 7 bulan, 14 hari.”
Ia mendengar kata-kata itu, tetapi tak memahaminya. Tak tahu maksudnya, tak tahu siapa dirinya. Yang ia yakini—ia seharusnya sudah lama ... mati.
Di tengah suasana itu ... jari-jarinya perlahan bergetar, menoreh jejak samar di kaca pelindung.
Lalu, matanya terbuka—perlahan, meyakinkan, menantang takdir.
Kael terbatuk, keras, saat tutup kapsul terbuka dan udara dingin menampar paru-parunya.
"Uhhhuukkk-uhhhuukkk ...!"
Napasnya patah-patah, otot-ototnya terasa seolah terbakar. Ia menggeliat pelan, mencengkeram tepi kapsul, lalu berusaha bangkit, meski tubuhnya bergetar hebat.
Sekelilingnya kabur, hanya suara berdesing di telinga.
Satu langkah ia ayunkan, lututnya nyaris tak mampu menopang.
BRAKKKK!
"K-geehkkhhhh ...."
Ia pun jatuh menghantam lantai keras, mencium debu dan pasir yang menusuk hidungnya.
Dengan napas berat, ia mencoba berdiri, menahan beban seakan besi melekat di setiap sendinya.
“Sungguh berat ... semua bagian tubuhku ....”
Namun menyerah bukanlah pilihannya.
Ia memaksa kedua kakinya menapak, tubuhnya bergetar saat tulang dan otot yang lama tertidur mencoba mengingat kembali caranya menahan berat dunia.
Tapi keseimbangannya tak bertahan lama. Langkahnya goyah, dan tubuhnya terdorong ke kanan, menabrak meja penelitian besar di sampingnya—meja logam tua yang sudah tertutup debu dan puing pecahan kaca.
“A—ahrhh—!”
Suara besi berderit pelan ketika benturannya membuat meja itu bergeser sedikit, meninggalkan guratan debu di lantai. Tumpukan rak di belakangnya ikut berguncang, menumpahkan beberapa tabung kaca retak yang hancur di bawah kakinya.
Kael terjatuh setengah terduduk, kedua tangannya refleks menggenggam kuat tepi meja itu—jari-jarinya menekan lapisan debu tebal, menjadikannya sandaran agar tubuhnya tidak ambruk sepenuhnya.
Napasnya tersendat; dada terasa sesak, paru-paru seakan baru belajar menghirup udara dingin dunia yang asing. Di matanya, pantulan ruang laboratorium yang hancur mulai terbentuk perlahan—bayangan masa lalu yang terkubur di bawah waktu.
Seolah tubuhnya sendiri belum bisa percaya bahwa ia ... masih hidup.
“Sulit dipercaya ....” Suaranya lirih, tercampur dengan nafas panas dan kedinginan yang menusuk tulang.
“Aku ... masih hidup?”
Ia menelan ludah, berusaha menstabilkan denyut nadinya. Setiap tarikan napas seperti paru-paru yang belajar berfungsi kembali setelah berabad-abad dikubur dalam es. Tubuhnya gemetar, bukan semata karena suhu, tetapi karena kebingungan yang mencengkeram pikirannya.
Di sekelilingnya, dunia tetap bisu. Tak ada suara manusia. Tak ada suara mesin.
Hanya reruntuhan, dan bisikan angin yang merayap di antara celah bangunan retak, mendesis tipis seakan mengejek kehadirannya. Seperti kutukan yang berhembus di antara dinding hancur, memanggil namanya ... atau mungkin menuntutnya.
Ia memejamkan matanya, sejenak, menahan pusaran pusing yang menekan sarafnya. Lalu perlahan menggeleng, mencoba menepis kabut yang meracuni kesadarannya.
“Tenangkan dirimu, atur ritmenya. Fokus ... stabilkan pandanganmu.”
“Pusing ini ... hanyalah ilusi dari kelemahanmu.” Gumamnya pelan, bagai mantra agar otaknya tetap waras.