Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #5

Chapter 2

Dalam balutan malam yang beku dan kelam—

Kael Vieron berjalan di tengah lorong logam yang hancur, dikelilingi sisa-sisa masa lalu yang terkorosi oleh waktu. Udara di sekitarnya dingin, berat, dan berbau karat; setiap tarikan napas seolah menyeret rasa asing dari dunia yang bukan lagi miliknya.

Ia tampak seperti siluet yang terlahir dari kehancuran, berjalan teratur di bawah cahaya redup biru kehijauan yang berkedip dari dinding. Sorot matanya merah—bukan merah yang menyala membara, melainkan merah yang dalam dan sunyi, seperti bara yang menolak padam.

Rambut hitam pendeknya berantakan, sebagian jatuh menutupi matanya. Wajahnya pucat, datar, dan dingin seperti baja yang baru ditempa. Tidak ada amarah, tidak ada kesedihan—hanya tatapan kosong yang menyimpan sisa-sisa tekad lama.

Ia mengenakan armor taktis berwarna hitam pekat dengan aksen perak di dada dan kaki; rancangan yang dirancang untuk bertahan, bukan untuk pamer. Di atasnya menjuntai jubah merah tua, panjang hingga lutut, ujungnya robek tidak beraturan, berkibar pelan setiap kali ia melangkah. Bekas luka dan goresan menghiasi permukaan pelindungnya—jejak masa lalu yang menolak hilang.

Di lorong sempit itu, hanya suara langkahnya yang terdengar—gema sepatu menghantam lantai logam berdebu, berpadu dengan suara jauh dari sistem tua yang masih bernapas lemah. Dalam kesunyian itu, Kael seperti bayangan yang hidup; satu-satunya hal yang masih bergerak di antara dunia yang telah mati.

Keberanian ... atau mungkin kebodohan yang dulu disebut petualangan, kini tinggal bara kecil yang menahan jiwanya agar tak ikut padam.

Yang ia cari sekarang bukan kejayaan, melainkan kehidupan dari serpihan masa lalunya—para sahabat, orang-orang tercinta, dan pasukan The Silent Oath yang telah terkubur di bawah reruntuhan waktu.

Ia tentu ingin segera pergi dari tempat ini. Namun sebagai seseorang yang selalu hidup dengan naluri perhitungan, ia tahu benar aturan tak tertulis yang menjadi pedomannya selama ini.

Amati.

Analisis.

Rasakan.

Simpulkan.

Baru bertindak.

Langkahnya terhenti di tengah lorong yang remang. Lampu-lampu di atas kepala berkelip satu-satu, seolah ragu untuk tetap menyala.

“Sebelum aku menelusurinya lebih jauh,” gumamnya pelan.

Kael menyipitkan mata. Cahaya merah di irisnya memantulkan kilau logam dan debu yang melayang di udara. Ia menyapu pandang ke setiap inci ruang di hadapannya.

“Lorong ini ... terlalu tenang,” ucapnya, nyaris seperti berbisik pada dirinya sendiri. “Aku merasa ... ada sesuatu yang sedang bersembunyi di balik keheningannya.”

Hening.

Begitu dalam hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar jelas.

“Jika tak ada apa-apa, aku takkan rugi,” lanjutnya, “tapi kalau ada—aku harus tahu ... sebelum semuanya terlambat.”

Hawa dingin menyelusup di balik mantel panjangnya, seperti napas dari dunia yang telah mati. 

Kael tak menghiraukannya. Ia hanya menegakkan tubuhnya, menahan napas sejenak, lalu melangkah lagi.

Satu langkah ke depan.

Telapak kakinya menyentuh lantai.

RAKK!

Suara kerikil dan serpihan puing terinjak rapuh.

Dan sesaat setelah itu—ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya.

Pandangan Kael membelalak. Nafasnya tercekat.

Huh ..!?

Gelombang memori menyerbu tubuhnya. Bukan sekadar sensasi—melainkan ledakan jiwa, denyut yang menembus waktu dan daging.

Tunggu ... kakiku!?

Ia mencoba menarik kakinya, namun tak bergerak. Bahkan tubuhnya pun menolak diperintah. Seolah waktu sendiri telah membekukan dirinya—menjadikannya saksi abadi dari dunia yang telah mati.

GLITCH!

Kilatan kode rusak menyambar udara, menembus ruang dan dinding. Denyut cahaya aneh berlari di sepanjang lorong, seperti arus listrik yang kehilangan jalurnya.

Lorong yang tadinya kosong ... kini terpelintir.

Gkkrrhhhhh ...

Langit-langit menjerit. Ruang bergetar, seperti dilipat oleh tangan yang tak kasatmata.

Whoooommm ... wuuuuummm ...

Cahaya berkedip dengan ritme yang mustahil ditangkap mata manusia.

Dan tiba-tiba—dunia terbalik.

ZrRkKTT—!!

Ledakan energi meledak dalam diam; udara sendiri seperti retak.

... Apa ... a ...

Pandangan Kael berputar, bukan dalam arti biasa—melainkan berputar dalam waktu absolut, seperti kesadarannya dicabut dari tubuhnya sendiri.

Swwwiirrr ... whirr ... thkkk ...

Tubuhku ... sama sekali tak bisa digerakkan. Semuanya ... berat.

Apa yang terjadi denganku ..? Ruangan ini ... terpelintir?

Pikirannya terjebak di antara dua realitas yang saling menelan.

Lalu—

SKRREEEEAAAAAAACHHHH!!!

BOOOOMMM!!

Splasshhh!!!

Suara-suara itu datang seperti mimpi buruk yang diputar ulang. Jeritan, ledakan, darah yang tumpah.

Namun ia tak bisa melihat apapun selain bayangan dari apa yang pernah ada—kontur samar yang belum sempat terbentuk sempurna, menari dalam kabut memori.

Perlahan, lorong itu berubah.

Menjadi medan perang.

Tanahnya berlumur darah yang hanya ada di antara ingatan dan kenyataan.

Suara tangisan dan dentuman logam menyusul dari kejauhan, bergema di antara waktu yang rusak.

Ting ... ting ... clang ...

Kael mengerutkan dahi.

Suara ini ...

Peperangan ..!?

Dan tiba-tiba—

CEPRAT!

Darah segar memercik ke arah sepatunya.

Hangat.

Lengket.

Nyata.

Ia membeku. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Mata merahnya melebar—tidak karena ketakutan, tapi karena kesadaran mendadak bahwa batas antara memori dan realitas baru saja runtuh.

Huhh—

Dengan paksa, Kael mengangkat kepalanya. Gerakannya lambat, kaku ... seperti mesin tua yang dipaksa hidup kembali setelah ribuan tahun tertidur.

Dan di depan sana—sebuah bayangan mulai terbentuk dari kabut merah.

Jantungnya menggedor dada, menghantam dari dalam seolah mencoba kabur dari tubuhnya sendiri. Matanya membesar—terpaku pada lorong yang kini telah berubah total.

Yang tadi hanyalah koridor logam berdebu, kini menjelma menjadi medan perang bayangan. Asap tipis menutupi pandangan, kilatan cahaya dari ledakan dan benturan logam menembus udara.

Di sana—prajurit-prajurit berarmor mekanik, dengan logo Tyrak Megakorporasi di bahunya, saling menembak dan beradu dengan sosok-sosok berjubah hitam ... berjubah seperti miliknya.

The Silent Oath.

Bayangan pemburu, para Assassin.

Lihat selengkapnya