Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #6

Chapter 3

Sepuluh langkah terakhir terlewati ... yang terasa seperti menembus waktu itu sendiri.

Kael tiba—di tempat yang tak pernah ia kenali, tak pernah ia bayangkan, bahkan tak pernah disebut dalam jejak memorinya yang telah tercerabut sebagian.

Di hadapannya. Bukan museum kuno. Bukan pula reruntuhan militer atau ruang teknologi tua.

Melainkan ... sebuah gua kecil yang sempit, menurun seperti leher dunia yang tercekik. Dinding-dindingnya dilapisi lumut lembap, kerikil tajam berserakan di sepanjang lantai, dan udara di dalamnya mengandung bau tanah yang asing—seperti sudah lama tertahan dan dilupakan.

Tempat itu bahkan lebih tua dari reruntuhan manapun yang pernah ia lewati. Lebih sepi dari ingatan paling sunyi yang di milikinya.

Kael melangkah dua kali lagi.

Krauck ... Krauck

Kakinya menyentuh tanah yang seolah menolak disentuh.

Matanya menyapu seluruh ruang dengan keanehan yang tak pernah ia lihat, memperhatikan kontur batu dan bentuk jalan menurun yang diterangi oleh cahaya redup dari obor berapi ungu yang menempel di dinding, berjajar jarang seperti simbol dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

“Aku masuk ke dalam ... gua tersembunyi?” Gumamnya lirih, nyaris tak percaya.

“Meski baunya aneh seperti bau besi dan akar mati. Tempat ini terasa ... bukan bagian dari dunia luar. Mungkinkah ini—”

Whhoooouusssshhhhh—

Tiba-tiba, angin dingin berembus dari belakang. Bukan hembusan alam biasa—melainkan seruan sunyi, seperti pesan tak bersuara yang menusuk hingga ke tulang-tulangnya.

Kael menoleh cepat. Bersamaan dengan portal yang tadi ia lewati lenyap perlahan, menghilang ke celah dunia yang tak terlihat.

Ia terpaku, menyipitkan mata ke arah mulut gua. 

Suara dari angin itu, benar-benar tidak biasa. Aku rasa ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini.

Pikirnya, firasatnya mengatakan bahwa ini adalah tanda dari sesuatu yang buruk, tetapi ia tidak tahu apa itu.

Ada sesuatu dalam angin itu—tak kasatmata, namun terasa seperti membawa pesan. Dingin. Berat. Seolah menyimpan kemarahan lama yang belum selesai.

Angin itu berdesir seperti napas luka lama, menggoreskan keengganan untuk dilupakan.

”Jika aku tidak bisa kembali melalui portal seperti sebelumnya. Maka aku harus mencari jalan lain ... atau sesuatu yang bisa membuatku mengerti mengapa dia ingin membawaku kesini.”

”Di luar ... dan di dalam gua ini,” mata Kael menoleh sedikit ke belakang. ”Pasti ada sesuatu yang harus aku ketahui.”

Whhoooouusssshhhhh—

Hembusan itu terdengar lagi. Kali ini tak berhenti, seolah berputar dalam ruang yang mengekang.

”Aku harus keluar dari gua ini untuk melihat apa yang ada di luar sana.”

Tak ada ancaman jelas, tapi Kael merasa didorong. Bukan oleh rasa takut—melainkan rasa penasaran yang dalam. Panggilan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa yang pernah patah.

Ia pun mulai melangkahkan kakinya ... menapaki tanjakan menuju cahaya samar di mulut gua itu tanpa rasa takut akan bahaya yang tidak ia ketahui.

.

.

Dan saat ia keluar—

FWUUUUUHHHH—!!!

Angin melolong seperti jeritan roh yang terusir, pusaran kabut menelan pandangan.

ZRAK—!! 

Lihat selengkapnya