Empat puluh lima langkah telah berlalu―
Obor-obor berapi ungu yang tertanam di dinding batu perlahan menyala satu per satu, seakan menyambut kehadirannya dalam gelap yang memeluk pekat. Cahaya suramnya bergetar lembut, membentuk siluet bayang-bayang panjang yang menari di sela kabut lembab lorong gua.
Langkah-langkahnya bergema pelan di antara dinding yang membatu diam, seakan suara sepatunya seperti bisikan dari masa lalu, menegaskan bahwa ia belum sendiri di tempat ini—atau setidaknya, belum sepenuhnya ditinggalkan.
Sampai pada satu titik―
Matanya membeku.
Ia melihatnya.
Mayat kedua.
Sebuah kerangka manusia terkapar diam dalam keheningan yang menyiksa.
“... Mayat lagi?” gumamnya lirih, mata menyipit tajam.
Nada suaranya bukan sekadar heran, melainkan campuran dari rasa curiga, dan sedikit kegelisahan yang pelan-pelan merayap ke dalam pikirannya.
Langkahnya terhenti hanya sesaat, lalu tanpa ragu ia mempercepat geraknya.
Bayangan tubuhnya menggulung bersama cahaya api ungu yang berkedip, mendekati kerangka asing yang sama sekali tak ia kenali.
Sesampainya di sana, ia menurunkan tubuhnya perlahan. Lutut kanannya menyentuh tanah lembab yang dingin, sementara tangan kirinya menyentuh permukaan batu kasar. Ia menunduk, tidak dalam rasa duka, tapi dalam pencarian—penuh kehati-hatian dan harapan samar.
“Ini ... bukti kedua pasti ada di sekitar sini.“
Tak ada yang aneh pada pandangan pertama. Namun Kael tetap mengulurkan tangannya, menyusuri tulang belakang yang mulai tergerus usia.
Jemarinya meraba dengan perasaan halus, seolah mencoba membaca kisah yang tertinggal di dalam diamnya. Ia mencari sesuatu. Catatan, atau apapun itu yang bisa memberi jawaban.
Kerangka itu bahkan tidak dalam posisi duduk, melainkan tergeletak memanjang di tanah. Wajah tengkoraknya menghadap langit-langit gua, seakan ingin menatap dunia terakhir yang tak sempat digapainya.
Kedua lengannya terulur ke arah tanjakan di ujung lorong―memanjat naik, seperti meraih kesempatan terakhir untuk bertahan hidup. Namun apa daya, tubuhnya hanya bisa terhenti di sana, tanpa kaki, tanpa harapan yang bisa ia bawa.
Jubah yang dikenakannya robek dan tercabik, meninggalkan jejak seretan panjang di jalan—yang memotong kesunyian lantai batu hingga titik ini.
“Mayat ini berbeda ... aku tidak bisa menemukan catatan apapun ...” bisik Kael nyaris tak terdengar, pandangannya kosong, “Kayaknya ... dia tak sempat meninggalkan sesuatu.”
Ia pun terdiam sejenak. Tapi pikirannya bergerak cepat.
“... Atau lebih tepatnya, dia hanya ingin melarikan diri dari gua ini. Tapi, dari apa?”
Kael menegakkan tubuhnya perlahan, tapi tidak sepenuhnya berdiri.
Wajahnya surut, seolah diterpa beban yang tak bisa ia jelaskan—bukan dari tempat ini, tapi dari apa yang mungkin menantinya lebih dalam.
“Cihh. Aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi ....”
Pandangannya melayang, mencoba menangkap sesuatu yang tidak bisa ia lihat seperti jejak-jejak ketakutan yang tertinggal di udara.
Namun ... ia pun melihat lebih dalam ke arah gua yang hening dalam diam, dan terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
“Apa yang membuatnya sampai seperti ini? Mayatnya ... hanya kehilangan bagian bawah tubuhnya saja. Apa mungkin itu karena ia melawan monster kuat? Tapi ...” Ujarnya sambil menatap ke arah kerangkanya sekali lagi.
“Tidak ada bekas cakaran di tempat ini. Tidak ada hawa panas, dingin, atau bahkan bau darah.”
Kael berdiri perlahan. Pandangannya menyapu keseluruhan tempat itu sekali lagi—dinding batu yang retak, lumut yang tumbuh liar, cahaya obor yang menyala samar, dan aroma tanah basah yang menggantung berat di udara.
Tak ada keanehan.
Tak ada tanda.
Tak ada satu pun bukti bahwa sesuatu pernah melintas, apalagi hidup di tempat ini.
“Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan bahwa makhluk itu pernah berada di sini,” ucapnya pelan, setengah bergumam.
Pandangan matanya kemudian tertuju ke lorong yang lebih dalam, ke arah di mana kegelapan semakin pekat dan suhu mulai menurun.
“Mungkin ... jika aku masuk lebih jauh ke dalam sana. Pasti ... ya, pasti di sana jawabannya,” lanjutnya, kali ini dengan nada yang lebih yakin. Ada sesuatu dalam dirinya—keyakinan atau kegilaan—yang membisikkan bahwa kebenaran tengah menunggu di ujung lorong yang bisu itu.
Sejenak, ia memejamkan kedua matanya, mencoba mengingat kembali catatan sebelumnya—tulisan samar yang ditemukan di luar mulut gua. Yang berisi: