“Lorongnya terus berubah ....” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar, merasakan pergeseran aneh dari suara batu yang seolah bergeser sendiri, bergemuruh pelan—namun jelas bukan suara alam biasa.
Tak lama setelah gema terakhir itu lenyap, lorong yang tadinya sempit mulai melebar, seolah meregangkan dirinya sendiri.
“Kebenaran ... menyesuaikan diri dengan siapa pun yang melangkah di dalamnya?”
Sesaat kemudian, Kael akhirnya tiba di ujung lorong. Cahaya samar menyambutnya, dan langkah Kael melambat.
Dinding batu yang sebelumnya menjepit di kedua sisi kini membuka, mengungkap sebuah ruangan luas dengan langit-langit tinggi yang penuh retakan. Dari celah-celah itu, cahaya biru redup merembes keluar ... berdenyut perlahan, seperti napas terakhir dari sesuatu yang pernah hidup.
Tak ada jalan besar yang membentang. Sebaliknya, hanya ada jalur-jalur sempit yang berkelok tak beraturan, membentuk pola seperti akar yang tumbuh liar. Setiap jalur seolah menggantung di atas jurang, dengan dasar berupa kawah dalam atau sungai kristal biru yang bersinar dari kegelapan di bawah.
Ia melangkah dengan hati-hati, matanya menyapu tiap detail tempat itu. Udara terasa sunyi, terlalu sunyi. Tapi dari keheningan itu, muncul rasa—bahwa ia sedang diawasi.
Di tengah ruang itu, dikelilingi jalur-jalur sempit yang menjulur dari berbagai arah, terbentang sebuah permukaan datar berbentuk lingkaran. Seolah tempat itu memang sengaja dibentuk sebagai titik pusat—jantung dari seluruh ruangan.
Dan di sanalah ia melihatnya.
“Mayat ketiga ... ada di sini.”
Tapi berbeda dari sebelumnya. Bukan tubuh yang terjatuh ... melainkan tubuh yang tertancap.
Kael berjalan mendekat, mengikuti satu-satunya jalur lurus yang menuntunnya ke tengah.
Begitu cukup dekat, ia terdiam. Matanya terpaku. Ada sesuatu dari tubuh itu yang membuat dadanya ikut sesak.
“Bukan hanya mati ... dia dihukum,” ucapnya pelan, dengan nada nyaris bergetar.
Kerangka manusia itu terjepit oleh tujuh tombak logam raksasa yang menghujam dari langit-langit batu—menancap ke kepala, kedua tangan, kedua kaki, punggung ... dan mengikatnya ke lantai seperti sesajen penderitaan. Sebagian tulangnya remuk, dan darah tua berwarna hitam kecokelatan masih membeku di permukaan batu—tak lagi mengalir, tapi belum lenyap.
Dan di bawah salah satu tombak, Kael melihat sesuatu terselip.
“... Ah. Akhirnya ... sebuah petunjuk lagi.”
Secarik kertas, terhimpit di antara jubah rapuh dan batu dingin tempat tubuh itu terbujur. Ia berjongkok, menariknya perlahan.
“Ini yang aku cari.”
Catatan Ketiga—tulisan tangan gemetar, namun masih jelas. Seolah pemiliknya berusaha membawa pulang pesan ini, meski tubuhnya sudah tak sanggup hidup.
Kael membacanya pelan dalam hati:
Aku tahu aku tidak sendiri.
Aku dengar suara lain saat malam. Mereka ... semua bicara padaku. Tentang ‘jalan ketiga’ yang tak tertulis.
Di mana ada dua suara dalam satu tubuh.
Yang satu membawa terang, yang lain menyulam kelam.
Jika kau terlalu cepat percaya pada satu ... kau akan dikunyah oleh keduanya.
Jangan memihak. Jangan menolak. Terima ... atau mati menjadi bayangan dari dirimu sendiri.
Dan aku ... menolak mendengarnya. Aku hanya ingin pulang.
Tapi sekarang aku mengerti ... tempat ini tidak diciptakan untuk mereka yang ingin kembali.
Kalau kau membaca ini ... jangan berharap keselamatan.
Tempat ini ... akan menghancurkan dirimu sebelum kamu sempat membuktikan apa-apa.
— Vell Garn, peserta ke-98
Kael menggenggam catatan itu lebih erat. Ada getaran halus di ujung jarinya—bukan sekadar rasa, tapi gema tak bersuara, seolah seluruh tempat ini mengirimkan pesan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang masih bernyawa.
Dan semua suara itu ... ingin seseorang menyelesaikan apa yang telah dimulai.
“Dualitas ... bukan pilihan, tapi penerimaan.” gumamnya pelan.
Kael terdiam lama.
Tangannya gemetar saat menutup catatan itu.
“Ke ... sembilan puluh delapan ...? Sudah sejauh itu ... dan mereka semua ... mati.”
Perlahan, ia berdiri. Menatap tombak-tombak itu—yang seolah masih bergetar samar, entah karena hembusan angin, atau sisa gema dari badai yang bergemuruh jauh di atas sana.
“Kalau dia peserta ke-98 ... aku yang keberapa?”
Ia menatap ke atas.
Langit-langit gua terus merekah—membentuk celah baru yang disinari cahaya biru lembut. Energi aneh, seperti tetesan Aetherial Logic yang jatuh perlahan dari celah batu—seperti embun bercahaya, namun tak terasa hidup ... dan tak juga mati.
“... Tempat ini hidup. Atau ... disusun oleh sesuatu yang bukan manusia.”
Tatapannya lalu beralih ke depan.
Tiga jalan terbuka—kiri, kanan, dan tengah. Ia berdiri diam cukup lama, menimbang arah mana yang seharusnya ia pilih. Masing-masing tampak gelap, sunyi, dan tak memberi petunjuk apa-apa ... kecuali satu hal.
Mayat ketiga.
Posisinya, arah tubuhnya yang jatuh menghadap ke jalan keluar… jelas mengisyaratkan satu arah.