Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #9

Chapter 6

Ia melangkah maju. Menembus tirai air terjun yang anehnya tidak membasahi tubuhnya. Seakan di sini, fisik bukanlah inti dari ujian—melainkan jiwa yang cukup jernih untuk diperjuangkan.

Di baliknya, ruang bundar raksasa terbuka. Lebarnya mungkin tujuh puluh meter, namun keheningan membuatnya terasa tak berbatas.

Udara berubah. Lebih berat, lebih pekat—seakan tiap tarikan napas membawa masuk serpihan debu yang telah menunggu berabad-abad. 

Sunyi di sini bukan sekadar hening. Ia punya bentuk. Punya bobot. Punya umur. 

Seperti warisan bisu yang menyimpan sesuatu yang tak pernah diucapkan: kenangan ... dendam ... penghakiman ... atau kehadiran yang menanti untuk diadili.

Kael berdiri di ambang ruang itu. Pandangannya menyapu perlahan, memeriksa setiap detail.

Langit-langitnya melengkung tinggi, terbuat dari batu abu yang separuhnya runtuh, diselubungi akar-akar tua yang menjulur dari celah batu. Dari atas, cahaya samar menyusup entah dari mana, jatuh dalam garis-garis tipis yang berdebu, menyentuh lantai seperti jemari waktu.

Di tengahnya, sebuah lingkaran besar terukir di lantai—seperti kelopak bunga raksasa yang mekar. Dari pusatnya, garis-garis ukiran menjalar keluar, membentuk simbol yang sama dengan glyph di lorong tadi—hanya saja di sini, jauh lebih rumit. Lebih ... hidup.

Dari arah jam sembilan dan tiga, tirai air terjun jatuh dari langit-langit, masing-masing membasahi patung kesatria yang berdiri tepat di bawahnya. Air itu terbelah di kepala patung, mengalir ke dua sisi, menciptakan ilusi seperti membelah kebenaran dan kebohongan.

Kesatria-kesatria itu membeku oleh waktu, menjadi sejarah yang diam. Pedang mereka terangkat tinggi—sebuah sumpah batu untuk menegakkan hukum, sekaligus peringatan bahwa keputusan di ruang ini adalah absolut.

“Ruangan ini ...” bisik Kael, suaranya nyaris tenggelam di dalam gema.

Ia menunduk sedikit, meresapi udara yang menekan dadanya. 

“Ini bukan sekadar ruang tersembunyi. Ini ... vault. Atau ... altar. Ruang perantara—antara sesuatu yang telah mati, dan sesuatu yang belum layak dilahirkan.”

Lalu pandangannya terangkat.

Dari arah jam dua belas, tirai air lain jatuh, namun dijaga oleh dua patung malaikat batu. Mereka berdiri di kedua sisi, tinggi, anggun, namun menakutkan. 

Seluruh tubuh mereka terbungkus jubah batu, wajahnya tersembunyi di balik tudung panjang. Sayap-sayap mereka terlipat rapat seperti tak ingin terbang. Atau ... menahan kebebasan.

Kedua tangan mereka terulur ke depan, dalam gestur doa. Di telapak tangan kanan patung yang satu, cahaya putih menyilaukan memancar lembut—hangat, namun tak tersentuh. Di tangan kiri patung lainnya, cahaya hitam pekat berpendar samar, seperti bara dari bintang mati—dingin, namun seolah memanggil jiwa yang berani melihatnya.

Kael melangkah pelan, seakan setiap jarak yang ia tempuh mengikatnya lebih dalam pada ruang ini. Matanya tak berkedip, menyapu setiap detail di hadapannya.

“Aku ... tidak mengerti ...” gumamnya, napasnya tipis, hampir tertelan oleh keheningan.

Siapa pun akan kebingungan melihat ruangan yang telah lama mati namun masih berdenyut di dalam arus waktu—seakan menolak untuk benar-benar dilupakan.

“Dua cahaya di tangan mereka?” Ia menatap serius, langkahnya terus maju, hingga berhenti tepat di pusat lingkaran lantai. “Apa maksudnya?”

Cahaya itu bukan sekadar pancaran—mereka berdenyut, seperti rune yang masih hidup, merespons keberadaannya.

Semakin ia mendekat, kedua pancaran itu mulai berputar, membentuk pusaran glyph di udara. Putarannya lambat, namun setiap gerakannya memancarkan sensasi ... seperti detak jantung mesin purba yang dipaksa untuk tetap hidup.

“Putih dan hitam ... cahaya kebenaran yang menembus, berdampingan dengan kegelapan yang menelan segalanya?” bisiknya, matanya terpejam sesaat.

Seketika, sebuah pikiran terlintas di kepalanya, dingin:

Jangan bilang ... tempat ini dibuat hanya untuk menyuruhku memilih.

Ia menggeleng pelan. “Tidak ... ini bukan sekadar terang dan gelap.”

Napasnya keluar pendek, tajam. “Dua jalan ... dan tak satu pun di antara mereka menunjukkan niat sebenarnya.”

Ia memejamkan matanya sekali lagi‒lebih lama, mencoba mendengar—bukan suara manusia, melainkan getaran. Sebuah komunikasi diam-diam yang merayap melalui udara, melalui batu, melalui denyut yang tak kasatmata.

Ini bukan soal benar atau salah.

Ini tentang sesuatu yang jauh lebih dalam ... sesuatu yang bahkan belum bisa aku pahami. Pikirnya.

Lalu, sebuah kesadaran lain menghantamnya. 

Dan juga ....

Ia menoleh ke belakang. Tajam.

Gerbang batu besar yang sebelumnya ia lewati kini perlahan menutup.

GRUUUUHHHHHNNNKKHHH—

Batu kuno itu bergeser, setiap gesekan mengaduk udara dengan nada rendah dan berat, seperti suara gunung yang mengubah letaknya sendiri. Dari celahnya, debu berjatuhan dalam hujan tipis. Kerikil-kerikil kecil memantul ke lantai, trrt ... trrt ...—suara mungil yang nyaris hilang di tengah gemuruh.

DUUUGGHHHMM!

Hentakan terakhir memukul lantai, getarannya menjalar hingga ke tulang. Gema berat itu memantul di seluruh kubah, sebelum tenggelam ke dalam ruang ... seperti mulut raksasa yang menelan suara Kael dan menguncinya di dalam.

“Sesuai yang sudah kupikirkan ...” ia berbisik, nadanya tenang tapi dingin. “Aku terkunci di sini.”

Lihat selengkapnya