Dan pada detik berikutnya—
Udara yang sebelumnya berputar liar, menggulung seperti binatang buas yang kehilangan kendali—mendadak berhenti. Bukan perlahan, bukan berangsur—melainkan seketika. Mutlak. Seolah ada tangan tak kasat mata yang menekan tombol 'berhenti' pada semesta itu sendiri, meremas waktu dan ruang, memaksa segala sesuatu membeku dalam satu kedipan.
Dunia, seakan kehilangan napasnya.
Angin tak lagi berdesir. Suara wanita agung tadi lenyap ... menyisakan hening yang menekan dada seperti beban batu di tengah laut dalam.
Kael berdiri di tengah lingkaran simbol bercahaya itu. Diam. Tubuhnya membeku—seolah waktu menolak menyentuhnya. Ia bahkan belum sempat mengerti apa yang baru saja terjadi. Wajahnya sedikit menegang, mata menelusuri sekeliling, mencari gerakan sekecil apapun.
Namun tak ada. Semua diam. Bahkan debu pun berhenti di udara.
Lalu—
Di antara keheningan yang begitu tebal hingga bisa terdengar napasnya sendiri, sebuah suara lain muncul.
Dingin. Tenang. Namun di balik kelembutan nadanya, ada kuasa yang tak bisa dibantah—seperti hukum alam yang berbicara lewat suara manusia.
Suara itu datang dari belakang. Suara yang membuat setiap urat di leher Kael menegang.
“Kehendak Takdir ... telah menjatuhkan hukuman atas kedatanganmu di dunia ini.”
Alis Kael berkerut. “Uh ...?”
Ia mencoba menoleh—tapi gagal. Tubuhnya tak merespons, seolah dunia menolak memberi izin untuk bergerak.
“Mustahil ... kenapa tubuhku ... tidak bisa digerakkan ...?” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Ototnya menegang. Ia mencoba memaksa, mengerahkan tenaga dari setiap inci tubuhnya, namun semuanya nihil. Seperti berjuang melawan udara yang tak memiliki bentuk, tapi menekan dari segala arah.
Kemudian sesuatu berubah di sisi pandangnya.
Sebuah siluet muncul, memancarkan cahaya putih pucat yang lembut—transparan, tapi jelas. Keberadaannya seperti pusat gravitasi ruang dan waktu, menarik perhatian tanpa izin.
Sosok itu adalah wanita.
Tubuhnya bagaikan cahaya yang hidup. Rambutnya panjang, berkilau halus, dan di antara poninya menjulang dua antena seperti tanduk rusa yang bercahaya samar. Gaun panjangnya memantulkan kilau tenang—dan di belakangnya berputar dua roda bergigi raksasa, seperti mekanisme waktu yang abadi.
“Bagaimana bisa kau berharap untuk melihat, jika aku yang memegang kendalinya?” Nada suaranya datar, tapi setiap kata membawa tekanan.
Kael menggeram. “Siapa kau? Dan ... apakah sopan kalau aku berbicara membelakangimu seperti ini? Lepaskan—apa pun ini!”
Tidak ada tali, tidak ada kaca waktu, tidak ada mantra. Tak ada apapun yang tampak bisa menahan tubuhnya. Tapi ia tetap tak bisa bergerak. Dunia itu sendiri seperti menjadi sang penjara.
“Ini bukan mantra,” suara itu menjawab pelan, namun mutlak. “Ini adalah kehendak absolut. Dan kau ... akan diam, dan mengikuti perintahku.”
Kael mendesis rendah. “Tch ...”
“Sekarang ... berputarlah. Lalu berjalan sepuluh langkah ke depan. Dan berhenti.”
Tak ada ruang untuk menolak.
Tubuhnya bergerak sendiri, setiap sendi menuruti perintah tanpa jeda. Kael berputar—lalu melangkah satu, dua, tiga langkah—dengan ekspresi masam yang tak bisa ia sembunyikan.
Sepuluh langkah kemudian, ia berhenti.
Dan akhirnya, ia bisa melihat wujud wanita itu sepenuhnya.
Ia indah.
Namun bukan keindahan yang bisa disentuh—melainkan yang hanya bisa ditatap dari jauh. Aura kekekalan mengelilinginya, menandakan bahwa waktu pun tunduk pada sosok itu.
Suara wanita itu kembali bergema, dingin dan tegas.
“Tidakkah kau mengerti? Ini bukan sekadar ujian. Ini adalah penghakiman. Dan keputusan ... telah diambil.”
Setiap katanya jatuh seperti pisau tipis yang sudah diperhitungkan. Tak ada ruang bagi emosi, tak ada nada belas kasih.
Kael mendengus kecil. “Keputusan, ya? Kalau aku menolaknya ... apa aku bisa pulang?”
Wanita itu menatapnya datar. “Tidak.”
Singkat. Padat. Tak terbantahkan. Seolah satu kata itu saja sudah menutup segala kemungkinan.
“Begitu ya ...” Kael menghela napas pelan, menunduk sejenak, lalu menatapnya lagi. “Jadi aku tidak memiliki pilihan lain. Sayang sekali.”
“Tidak ada penolakan untukmu. Ini adalah perintah.”
Kael menatap balik dengan ekspresi ambigu, antara sinis dan menyerah.
“Meski terdengar seperti ejekan ... baiklah, baiklah. Aku akan mengikuti aturanmu. Tetapi, seberapa lama kau akan mengekangku seperti ini?”
“Tidak ada tenggat waktu.”
Kael mengangkat alis, lalu tertawa kecil.
“Ohh ... kau menyebalkan. Dunia fantasi ... aku bisa mengetahuinya.”
Tubuhnya melemas. Keheningan kembali turun, menelan keduanya dalam ruang kosong yang terasa lebih sempit dari sebelumnya. Ia merasakan tatapan dingin wanita itu menembus dirinya—dingin, tapi juga penuh pengamatan.
Dengan gerakan kecil, Kael mengangkat dagunya, sekadar menantang. Gerakan sederhana itu saja membuat wanita hologram itu tampak terkejut sesaat—nyaris tak terlihat, tapi ada.
“Iya, iya ... aku menyerah,” katanya pelan, separuh bergumam. “Boleh kita mulai permainannya sekarang saja? Aku tidak suka menunggu.”
“Sesuai permintaanmu. Di tahap ini, kau hanya diberi izin untuk berekspresi. Tidak lebih dari itu. Bahkan jika kau melawan, tubuhmu akan hancur menjadi potongan yang mengenaskan.”
Kael terkekeh tipis.