Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #11

Chapter 8

Tatapannya ... tajam, namun kosong. Seperti sebuah idealisme yang telah ditinggalkan oleh harapan. Itulah bayangan Kael versi jahat.

Kael menahan napasnya, seolah paru-parunya enggan menerima udara. Karena yang kini berdiri di hadapannya ... adalah dirinya sendiri.

Bukan Kael yang ia kenal. Melainkan bayangan yang lahir dari sisi tercemar—Kael yang terdistorsi oleh runtuhnya harapan.

Sosok itu menatapnya dengan mata ungu tajam, seperti kehampaan yang dipaksa hidup meski telah kehilangan tempat aslinya. Wajahnya datar, tanpa emosi, tapi udara di sekitarnya bergetar, mendidih oleh aura kehancuran yang ditekan kuat. Seperti cahaya yang dipaksa menjadi tiran.

Kael berbisik lirih, “... Itu ... aku?”

Bayangan itu menyeringai panjang. Suaranya bukan hanya terdengar—tetapi menghantam batin Kael, menusuk seperti bilah tak kasat mata.

“Kael yang kau kenal ... sudah lama mati. Yang tersisa hanyalah retakan, serpihan tak berguna yang membusuk di antara reruntuhan. Aku adalah yang lahir dari runtuhnya harapanmu. Dari cahaya yang gagal menyelamatkanmu ... oleh tanganmu sendiri.”

Kael mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Ulahku sendiri ...? Tidak.” Tegasnya. ”Kau bukan aku. Kau hanyalah salinan busuk yang diciptakan untuk membunuhku.”

Bayangan itu terbahak pendek, mata kirinya terbuka lebar dengan ekspresi ganjil, seperti menertawakan sesuatu yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami.

“Aku adalah semua yang pernah kau dambakan, tapi selalu kau tolak. Aku adalah cahaya yang tersesat, idealisme yang membusuk. Aku lahir bukan untuk menirumu ... tapi untuk menggantikanmu ... di dunia baru ini.”

Kael menunduk, menarik napas berat. Namun ketika wajahnya terangkat kembali, sorot matanya berubah—tenang, dingin, tajam.

“Menggantikanku ...? Omong kosong. Jika kau lahir dari apa yang runtuh dalam diriku, maka keberadaanmu hanya bukti ... bahwa aku masih bertahan. Aku mungkin retak dan tidak sempurna, tapi aku bukan pecahan yang mati. Aku adalah fondasi yang masih menolak hancur.”

Bayangan Kael tersenyum tanpa jiwa, lalu meledak dalam tawa keras, getir, seolah-olah seluruh dunia adalah ejekan.

“Kyahhahhahahaha! Bertahan?! Kau bertahan hanya karena dunia belum sempat menghancurkanmu sepenuhnya. Kau cacat—sampah yang bahkan sejarah ingin singkirkan. Kau adalah ketidakpantasan yang diberi bentuk, Kael Vieron."

Lanjutnya, dengan memaksa. "Sekarang ... biarkan aku yang menyelesaikan segalanya untukmu.”

Kael mendengus pelan, langkahnya sedikit maju. “Huh ... menyerahkan nasibku padamu? Tidak, terima kasih.”

Dan di saat hal itu terjadi, ekspresi wajah wanita yang sebelumnya terdiam hening langsung terkejut kecil―sadar, matanya sedikit terbuka ketika melihat Kael bisa bergerak sebebas itu. Yang seharusnya, ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Sejenak, senyum tipis muncul di wajah Bayangan Kael—seakan ada kemenangan kecil.

“Jangan anti-naif.“

Namun Kael langsung menimpali dingin.

“Sayangnya, aku tidak pernah berniat memberi kehormatanku pada tangan palsu. Kalau ini kesempatan kedua, aku akan memperbaikinya dengan caraku sendiri. Jika kau berhasil menyingkirkanku, maka kaulah pemenangnya. Tapi bila kau kalah—kau akan jadi debu tangisanku, sirna dari sejarah bahkan tanpa sempat disebut.”

Tiba-tiba—

Langit sisi bercahaya memancarkan kilatan. Mimbar kuno terbelah dua: satu tenggelam dalam cahaya, satu lagi diselimuti kabut hitam yang merambat di sepanjang urat Aetherial.

Dari perbatasan di sisi Kael memalingkan pandangannya—di antara cahaya dan kegelapan yang saling menolak—suara itu kembali bangkit.

Wanita sebelumnya kini tidak lagi sekadar cahaya. Ia melayang di udara, mendaki perlahan, seolah tangga tak kasat mata terbentuk di antara dinding dunia siang dan malam. Di titik perbatasan itu, ia berhenti dan berdiri tegak—bukan sebagai saksi, melainkan sebagai hakim.

Dan suaranya menggema:

“Ruang penghakiman telah di aktifkan kembali.”

“Selamat datang ... di The Sanctum of Sanctioned Judgment.”

Kael tidak terkejut. Tidak juga bertanya. Dalam keheningan hatinya, ia tahu—ini adalah ujian yang tak terhindarkan.

< Inscriptor >

Begitulah orang dahulu menyebut mereka.

Bukan Dewi. Bukan roh.

Melainkan barisan entitas kosmik yang diciptakan untuk satu mandat: menjaga catatan semesta. Mereka tidak menulis dengan tinta, melainkan dengan luka, hukum, waktu, dan denyut realitas itu sendiri—setiap goresan adalah kesaksian yang menembus batas hidup dan mati. Mereka disebut Chronicle Inscriptors of the Fourth Sky, dan masing-masing adalah pecahan dari satu akar kesadaran yang sama: Akar Waktu.

Lihat selengkapnya