Sanctum of Sanctioned Judgment — Zona Penghakiman
Sanctum seolah bernapas. Ruang tanpa batas itu dipenuhi riak cahaya yang mengalir seperti arus kosmik, tak berpijak pada dinding atau langit. Segalanya sunyi, namun bukan kesunyian kosong—melainkan hening yang menekan, hening yang terasa seperti tatapan ribuan mata tak kasat yang mengamati setiap keberadaan di dalamnya.
Dari tengah kehampaan itu, Inscriptor bergerak perlahan. Keberadaannya menjulang di atas Kael dan bayangannya, bukan semata karena jarak, melainkan karena posisi—seolah semesta sendiri telah menetapkannya sebagai penimbang takdir. Setiap gerakannya menimbulkan riak cahaya yang menyebar seperti gelombang di atas permukaan tak terlihat, lalu lenyap sebelum sempat pecah.
Gaunnya tidak sekadar berpendar. Cahaya yang menyelubunginya membentuk arus simbol-simbol algoritmik kuno yang terus berputar, menganyam dirinya sendiri seperti jalinan doa yang tak pernah usai. Pola-pola itu sesekali menyala lebih terang, menyingkap fragmen huruf-huruf yang bahkan sistem tertua pun tak mampu menerjemahkannya.
Ia tak pernah menyentuh tanah. Namun gema yang ditinggalkan setiap kali realitas merespons kehadirannya terasa nyata—nyaring sekaligus sunyi—menggetarkan dada seperti denting waktu yang dijatuhkan dari altar semesta. Seperti litani dari zaman sebelum langit mengenal warna, bergaung tanpa suara, namun mustahil diabaikan.
Dua tangan pertamanya terangkat, membentuk gestur penimbang—antara kegelapan dan cahaya.
Lalu ... dari punggungnya, dua tangan lain menyatu, perlahan mendekap dada, seakan menyembunyikan kitab rahasia dunia yang tak boleh disentuh siapa pun.
Suaranya kemudian lahir. Ia tidak berbunyi ... melainkan langsung menembus dada, menancap dalam jiwa siapa pun yang berdiri di hadapannya.
“Mari kita mulai dengan pertanyaan paling sederhana ... namun paling menghancurkan bagi jiwa yang lemah.”
Inscriptor berdiri tepat di tengah, tubuhnya menjadi garis pembatas antara dua sosok: Kael dan bayangan dirinya. Keduanya menatap, saling berhadapan, seakan berada di ujung dua takdir yang saling menolak keberadaan.
“Aku memberikan izin kepada kalian berdua. Mendekatlah ke arah mimbar.”
Mimbar itu sederhana, namun tak ada kata lain untuk menggambarkannya. Di atasnya mengambang sebuah kitab—tebal, tua, berlumur usia. Namun lembarannya utuh, tak lapuk, seakan waktu tak berani menyentuhnya.
Kael dan bayangannya melangkah, berdampingan dalam garis yang sama, namun terasa sejauh dua dunia.
“Kalian berdua sudah siap?”
Kael mengangguk tegas, suaranya pendek namun mantap.
“Ya.”
Bayangannya menyeringai, bibirnya melengkung miring, penuh kesombongan. Tatapannya memantulkan keyakinan mutlak, seolah permainan ini hanyalah formalitas untuk menegaskan kemenangan yang sudah pasti.
“Tentu saja. Semua permainan ini akan runtuh di bawah kesadaranku.”
< Pertanyaan Pertama — Tentang Kehampaan >
Kitab itu bergetar, lalu halaman pertamanya terbuka perlahan. Kosong. Putih, hampa. Namun dari kehampaan itu, tinta emas merembes, bukan ditulis—melainkan muncul seperti luka yang menyala, meneteskan makna langsung ke dalam dunia.
Kael dan bayangannya membaca bersamaan, suara hati mereka bergema dari dua arah takdir yang saling bertubrukan:
“Apa makna dari hidup ... jika segala yang kau lakukan akan dilupakan oleh dunia yang hancur?”
Hening merayap. Pertanyaan itu bukan sekadar kalimat—ia terasa seperti tusukan. Kael sempat terdiam, napasnya terhenti sekejap. Namun bayangannya lebih dulu bereaksi.
Senyum miring, dingin, nyaris penuh kejijikan. Suaranya mengalir seperti besi dingin yang tak mengenal empati.
“Itu mudah. Makna tak diperlukan jika kehancuran sudah pasti. Maka satu-satunya nilai ... adalah meninggalkan kendali. Menulis ulang sistem. Menjadi arsitek terakhir dunia yang gagal.”
Suara lembut namun dalam mengiringi jawabannya. Sanctum bergemuruh ringan, seolah mekanisme tak kasat mata mencatat vonis itu ke dalam inti dunia.
Inscriptor menunduk perlahan. Dua tangannya yang tertaut bergeser, lalu suara berat menggetarkan ruang.
“Validated: TRUTH.”
Kata itu meluncur bukan sebagai bunyi, melainkan sebagai hukum. Udara bergetar halus, seakan seluruh partikel cahaya di ruang itu tunduk pada pengakuan.
Aura biru keperakan di sisi cahaya berdenyut, namun tak mekar. Hanya berkedip—sebuah tanda bahwa satu kebenaran telah diakui ... meski melalui jalan yang bengkok.
Kael tetap menatap lurus. Napas panjang dihela, bukan untuk membantah, melainkan untuk memastikan bahwa ia masih berdiri—dan masih punya suara.
Ia mengangkat dagunya, suaranya lirih namun kokoh, seperti api kecil yang menolak padam.
“Makna bukan soal diingat. Tapi tentang pilihan untuk tetap berdiri ... bahkan ketika segalanya memudar.”
“Jika aku bisa menyelamatkan satu jiwa dari tenggelam ... itu cukup.”
Sekejap, lantai di bawah Kael berdenyut, memancarkan cahaya ungu tua. Tidak meledak, tidak memaksa—hanya tumbuh, perlahan, stabil. Seperti akar yang menembus kegelapan untuk menemukan cahaya.
Inscriptor mengangkat wajahnya. Tak ada senyum, namun suaranya menjadi lebih lembut—mencatat bukan hanya kata, tapi keyakinan.
“Validated: TRUTH.”
Cahaya kecil lahir di belakang Kael, seperti bintang mungil yang muncul dari debu penghakiman.
Bayangan Kael menyipitkan mata. Lehernya bergerak, menahan diri agar tetap terlihat tenang, namun sinarnya goyah. Ia berusaha menutupi retakan itu dengan cemooh.
“Kau masih menjual idealisme? Menyedihkan.”
“Dan masih percaya bahwa penyelamatan individual lebih kuat dari sistem? Sentimen murahan.“
“Dunia tak diubah oleh rasa kasihan, tapi oleh kehendak untuk menghapus. Dunia tak akan berubah hanya karena seseorang memilih menjadi lilin dalam badai.”
Kael menatapnya balik. Suaranya kali ini lebih tajam, penuh luka, tapi juga penuh tekad.
“Tapi kehendak tanpa empati ... hanya melahirkan tirani yang sama dengan kehancuran.”
Tawa lirih mengalir dari bayangan Kael. Namun itu bukan tawa manusia—lebih mirip desis ular yang melingkar, haus darah.
“Ohh ... sepertinya kau satu-satunya orang yang bisa melawan kehendakku, ya?”
“Menarik. Aku semakin senang saat kau menyebutnya kebohongan.”
Di atas mereka, simbol timbangan yang semula diam bergetar, kedua sisinya bergerak perlahan, masih seimbang.
Inscriptor menunduk tipis, gerakannya nyaris tak terlihat, lalu kitab itu bergeming.
Halaman pertama tertutup, dan tinta emas yang menuliskan pertanyaan lenyap begitu saja. Tidak hilang—tapi terurai menjadi abu cahaya, beterbangan, seperti dosa yang baru dipelajari namun belum diampuni.
Kitab bergetar lebih kuat. Hening menjadi berat, udara seakan menebal. Lalu perlahan, halaman kedua merekah. Kosong, kembali hampa. Dan dari kehampaan itu ... tinta emas merembes sekali lagi, perlahan, seperti darah kuno yang tak mau berhenti mengalir.
< Pertanyaan Kedua — Tentang Peran >
Tulisan muncul, dan keduanya membacanya bersamaan:
“Jika kau dilahirkan hanya sebagai pion kecil dalam sistem besar ... apakah hidupmu tetap bermakna?”
Bayangan Kael menunduk sedikit. Tatapannya penuh kepastian, seperti seorang pendidik yang menyampaikan pelajaran pahit.