Setelah bayangan Kael lenyap ditelan pusaran merah tua, keheningan kembali menyelimuti Sanctum.
Namun seketika—Kael menggenggam dadanya erat. Nafasnya terhenti setengah jalan, wajahnya menegang, alisnya berkerut dalam-dalam.
Sebuah rasa sakit aneh merayap dari dalam tubuhnya, bukan seperti luka tusukan atau pukulan, melainkan sesuatu yang lebih dalam ... sesuatu yang menusuk dari lapisan jiwa.
“Perasaan ini ...?” gumamnya lirih, bibirnya bergetar. Matanya melebar, seolah ia tak percaya sensasi itu nyata. “Jangan bilang—”
Ada nyeri asing yang mendesak naik dari kedalaman hatinya. Bukan sekadar memori. Ini adalah ingatan batin—dosa yang belum sempat diadili. Potongan sejarah yang seharusnya terkunci rapat, kini terbuka paksa.
Rasa itu begitu menyesakkan, membuat tubuhnya seakan bergetar, membuatnya merintih dalam diam tanpa mampu mengeluarkan suara.
Dan tak lama kemudian—
KREECHHKKK!!!
Dinding-dinding Sanctum meretak. Tak lagi sakral. Kini ia menjadi ruang pengakuan dosa ....
Retakan pertama terdengar seperti lengkingan besi yang dipatahkan paksa. Dinding Sanctum yang sebelumnya memantulkan dunia siang dan malam, kini retak seperti cangkang waktu. Simbol-simbol algoritmik di permukaannya mulai menyala dalam pola merah darah.
KRRECCCHKKK!!!
"Uh?" Kael mendongak cepat. Mengamati sekelilingnya.
Kael tetap berdiri tegak di tengah arena, dengan kedua alisnya yang mengerut. Suhu turun drastis. Udara menjadi sangat berat—seakan tiap napas menembus abu sejarah ... seperti setiap tarikan napasnya dipenuhi debu sejarah yang tidak ingin diingat.
Dan kemudian—suara itu terdengar lagi.
Inscriptor.
“Kael Vieron. Perjalananmu masih belum berakhir.”
Namun kini, sosok cahayanya retak. Gaunnya bukan lagi jubah ilahi, melainkan seperti mosaik kristal yang tergores, berkedip-kedip antara biru surgawi dan ungu penuh luka.
Inscriptor berjalan mendekat ke arah Kael. Tapi langkahnya kini tak selembut malaikat.
Melainkan ... seperti langkah dari ingatan yang berusaha untuk tidak dilupakan.
Kael menatapnya dengan wajah bingung bercampur curiga. Bibirnya sedikit bergetar, tapi suaranya tetap terdengar jelas.
“Apa yang terjadi denganmu ...? Kenapa kau terlihat ... berbeda?”
Inscriptor menatapnya dengan mata redup, bibirnya sedikit melengkung, antara sedih dan pasrah.
“Inilah wujud dosa dari abu sejarahmu. Sesuatu yang sulit kau lupakan,” jawab Inscriptor, suaranya bergetar halus, seolah ada luka dalam kata-katanya. “Dan mungkin ... ini akan memulihkan sebagian dari memorimu.”
Inscriptor berhenti melangkah, berdiri tepat di hadapan Kael. Lalu mengangkat wajahnya sedikit.
“Kael Vieron ... Selamat datang di Babak Kedua.”
Suara itu terdengar tenang, namun ada duka yang terselip di dalamnya. Bukan rasa iba padanya—melainkan rasa duka terhadap apa yang akan Kael hadapi.
Kael memandangnya dalam-dalam. Matanya menyempit, alisnya menegang, tubuhnya sedikit condong ke depan. Dia masih sulit percaya bahwa dirinya benar-benar berhasil melewati perdebatan yang baru saja berakhir.
“Babak kedua ...?” tanyanya, suara rendahnya penuh kebingungan.
Inscriptor mengangguk pelan. “Benar. Babak kedua adalah ... Ujian Dosa.”
Mata Kael membelalak sesaat, kemudian menyipit dengan kecurigaan. Ia menegakkan bahunya, dan menatap tajam pada Inscriptor.
“Jangan-jangan ... kau juga yang mengatur semua ini?”
Senyum tipis, getir, muncul di wajah Inscriptor. Ia menundukkan sedikit kepalanya, lalu menjawab dengan nada tenang, namun dingin.
“Aku hanya saksi.”
“Dalam Ujian Makna, kau diuji untuk apa yang kau percayai.”
“Tapi dalam Ujian Dosa ...” tatapannya menajam, pupilnya berkedip ungu. “Kau akan diuji ... untuk apa yang pernah kau lakukan.”
Kata-kata itu menghantam Kael seperti beban. Wajahnya kehilangan sedikit warna. Bibirnya terbuka sedikit, suara lirih keluar tanpa sadar.
“... Yang kulakukan ...?”
Lalu ....
Tanpa satu pun kata, Inscriptor mengacungkan satu jari terlunjuknya ke udara. Hanya satu gerakan kecil—namun cukup bagi semesta untuk retak. Tak ada mantra. Tak ada aba-aba. Hanya kehendak ... yang lebih tajam dari kebenaran.
Seisi ruangan Sanctum pun bergemuruh, keras.
Dan―
KRRAACHHKK!
KRRAACHHKK!
Ruangan Sanctum pun mulai runtuh, seperti kaca tipis yang retak oleh realitas yang ingin membunuhnya.
Lantai sanctum terbelah—hancur.
Pecahan-pecahannya meluncur turun, satu demi satu, seperti serpihan ingatan yang akhirnya dilepaskan ke dalam kekosongan.
Dan Kael—ikut terseret, terjatuh dalam spiral kosong yang tak bernama. Matanya membelalak, alisnya terangkat tinggi, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang bercampur dengan penolakan. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar lenyap dari altar ...
Ia sempat mengulurkan tangan ke arah Inscriptor—sebuah refleks dari hati yang nyaris retak. Bukan karena takut jatuh. Tapi karena diam-diam ... ia ingin diyakini.
Namun, Inscriptor hanya berdiri. Memandangnya seperti catatan yang tak bisa dihapus. Bukan benci, bukan iba. Hanya kesadaran pahit bahwa kebenaran tidak bisa ditarik kembali.
Ia mungkin ingin berteriak, tetapi suaranya tidak bergema seperti ditelan oleh kegelapan dari ingatan yang enggan dibuka.
Kesadarannya pun pudar seketika. Namun dalam gelap itu—muncul sebuah suara ...
Tawa.
Tawa dua anak perempuan. Ceria, jernih, seperti musim semi yang belum ternoda.
Ahahahaha ...!
Ayo kejar kami kalau bisa!