Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #14

Chapter 11

Lalu ....

kclakk … kclakk … kclakk … 

Langkah Kael perlahan melambat. Bukan karena kelelahan, melainkan karena satu pintu akhirnya menampakkan dirinya—bagaikan dunia yang menahan napasnya sendiri, menanti saksi dari pembukaannya.

< Gate of Withheld Fire >

Dan tepat ketika Kael menghentikan langkahnya—

KREEEEKKKK …

Sebuah pintu yang sebelumnya bisu, kini mulai membuka dirinya sendiri.

Namun pintu itu bukan seperti pintu pada umumnya. Bukan dari kayu jati, bukan juga dari baja murni, melainkan besi tua yang retak dan berkarat, dibungkus lumut luka yang bahkan waktu sendiri enggan membersihkannya.

Kael berdiri terpaku, tatapannya tak bergeser sedikit pun.

Dan pada saat itu juga ....

Kabut putih langsung meruap dari celah-celahnya—tidak bercahaya, tidak mengundang, bahkan tidak berusaha dikenang. Ia mengalir keluar seperti air yang ingin menyelimuti ruang Limbus Reveria, sunyi dan berat.

Pintu itu bukanlah nostalgia. Ia lahir dari bara yang ditekan terlalu lama, dari amarah yang dipaksa diam, dari luka yang menolak untuk dilupakan.

Tangan Kael bergetar tipis, tapi sorot matanya tetap serius.

“Pintu ini ... benarkah?“ Gumamnya pelan.

Perlahan, Kael mendekati pintu itu.

Satu langkah ... dua langkah ... lalu langkah berikutnya.

Membuka ingatan masa lalunya, dan akhirnya masuk.

Begitu tubuhnya melewati ambang, pintu itu menutup dirinya sendiri—seolah mengunci jiwa yang belum diampuni oleh masa lalunya.

Sesampainya di dalam, kabut putih segera menelan pandangannya. Tak ada tanah. Tak ada arah. Hanya kehampaan tebal, seperti dunia lupa cara menghembuskan napas.

Lalu, dari balik diam itu ... terdengar gema samar. Tawa parau, suara seorang pria tua yang begitu familiar.

“Majulah, anak lemah!”

“Kau tak akan pernah menjadi lebih baik dari siapa pun jika kau tetap menjadi pengecut seperti ini!”

"Gunakan seluruh kekuatanmu!"

Kael tertegun.

Tubuhnya membeku. Matanya membelalak—bukan karena takut, melainkan karena hatinya seketika jatuh. Jatuh ke tempat yang tak ia jamah selama ratusan tahun.

Napasnya tertahan.

Kakinya terasa berat saat menapak. Bibirnya bergetar sesaat, dan bergumam lirih lolos dari tenggorokannya.

“... Apakah itu suara ... Ayah ...?”

“Ayah ...!”

“A-akuu ....”

Resonansi di dalam jiwanya bergetar hebat. Seakan nyawa itu masih hidup seperti serpihan kenangan yang terkunci dan mulai terbuka, menyeruak masuk dari balik kabut.

Ia ingin berteriak, tapi ia tahu bahwa kabut ini bisa menelan seluruh ucapannya, bahkan yang hanya bisa ia dengar hanyalah langkah-langkah tak beraturan. 

Kael pun mulai berjalan, mencari. Namun setiap pijakannya membuat dadanya semakin sesak. 

Kabut semakin menebal, seperti air mata yang enggan jatuh namun tetap mengaburkan pandangan.

Kael menatap seluruh kehampaan itu—tak ada bentuk, tak ada jalan. Hanya asap pekat yang menyambutnya bagai pelukan masa lalu: dingin, kaku, menyesakkan ... seperti kasih sayang yang ditolak.

“Tidak ...” suaranya pecah, pelan.

“Kenapa suaranya hilang?”

“Jangan ..."

"Ayah ...”

Pandangan wajahnya gelisah, kedua pupil matanya mencari tanpa arah. Rahangnya mengeras, alisnya berkerut dalam kesal.

“Sialan ... pandanganku benar-benar terbatas di sini!”

“Tidak, aku tidak boleh putus asa. Aku harus mencarinya sampai kebenaran itu terungkap. Aku tidak peduli seberapa tebal kau mencoba menutupiku ... aku akan terus berjalan untuk mencari jejaknya!”

Kael pun mulai berlari ke arah jam 12.

Tak ada celah. Kabut seakan menolak setiap langkahnya, menjadikan ruang ini bukan tempat untuk mencari ... melainkan untuk mengingat luka masa lalunya.

Kael terus menabrak kehampaan yang tak berbentuk, seolah setiap napasnya sendiri hanya menjadi gema yang tak pernah kembali.

Wajahnya tegang, keringat dingin menetes dari pelipisnya. Tapi ia terus berjalan, terus mencari suara itu tanpa henti.

Dan pada akhirnya—

Samar, tepat dari arah jam tiga, terdengar suara lain. Bukan lagi tawa parau, melainkan percakapan lembut seorang ayah dengan anaknya.

“Ayo, Kael. Serang lebih kuat lagi. Ayunkan pedangmu lebih tajam lagi!”

Mendengar hal itu, langkah Kael berhenti sejenak. Dan langsung menoleh ke arah jam tiga.

Suara kaki berlari terdengar. Gertakan langkah kecil yang bersemangat.

“Hyyaaahhhhhhhh!!!!”

TAK!

Dentuman kayu beradu.

TAK! TUNG! TAK!

Dua pedang kayu saling berbenturan―menyerang dan bertahan. Suaranya tumpul, namun ritmenya jelas. Bukan pertarungan mematikan, melainkan latihan. Latihan yang dulu selalu ada. Latihan yang pernah ia benci.

Kael dewasa terdiam, tubuhnya menegang. Jantungnya berdebar kencang—bukan karena takut, melainkan karena ia tahu ... ia tahu betul apa yang akan muncul di balik kabut itu.

“Bagus ... kuda-kudamu semakin rapi.”

“Pertahankan!”

TAK! TUNG! TAK!

Suara itu semakin jelas. Rahang Kael mengeras, dan menggertakkan giginya. Ia sadar, suara itu milik dirinya sendiri, saat ia masih berusia tujuh tahun.

Dari celah itu, kabut pun perlahan terbelah—seperti tirai tebal yang dipaksa menyerah pada cahaya.

“Terus bertahan!”

“Pertahankan gaya bertahanmu!”

TUNG! TAKK! TUNG! TAKK!

Tampaknya Kael kecil terdengar kelawahan. Kael kecil dihantam serangan balik dari ayahnya, keras, berulang kali, tanpa ampun.

“Jangan biarkan matamu kehilangan arah!”

Suara sang ayah terdengar jernih, tegas, tanpa jeda—seperti cambuk dingin yang tak pernah mengizinkan kelengahan.

TUNG! TAKK! TUNG!

Dan akhirnya—

Lihat selengkapnya