Kabut kembali merayap perlahan—menutup serpihan kilas itu, seolah dunia sendiri belum rela melepaskan masa lalu yang diukir dalam darah. Namun di tengah putihnya kehampaan, Ezra masih berdiri di sana, sosoknya menua, seakan waktu akhirnya berani menagih semua janji yang pernah ia paksakan pada pundaknya sendiri.
Tatapannya jatuh ke tanah, menembus kerikil berdebu, seolah mencari jawaban yang tak pernah sempat ia temukan—atau mungkin, tak pernah berani ia akui.
“Aku melatihmu ... bukan untuk menjadikanmu alat,” ucapnya lirih, suaranya rapuh, nyaris tertinggal di antara kabut dan angin.
“Aku melatihmu ... karena waktuku tidak banyak lagi.”
Nada itu pecah. Tertahan. Menyeret kesakitan yang selama ini ia simpan rapat, kesakitan yang tak pernah ia izinkan terlihat—bahkan di hadapan Kael sendiri.
Dan kemudian—entah apa yang merobek keseimbangannya—napas Ezra mendadak berat. Dadanya mengeras, seakan paru-parunya terkunci oleh ribuan belati rasa bersalah yang menancap dari dalam, menekan tanpa ampun.
Tubuhnya sedikit membungkuk. Tangannya terangkat menutupi bibir. Dan hanya dalam sekedip—
“Uhhhuuuukkk ... uhhhuuukkk ...!”
Batuk keras mengguncang tubuhnya, tak terkendali, seperti gempa kecil yang meluluhlantakkan pertahanan seorang lelaki yang selama ini dikenal tak tergoyahkan.
Kael membeku. Tubuhnya menegang, matanya membesar—ia belum pernah melihat ayahnya merosot setelanjang ini di hadapannya. Bukan sebagai The Abyssal Walker ... melainkan hanya sebagai manusia. Rapuh. Menua. Terluka oleh sesuatu yang tak bisa dibunuh dengan pedang.
“Ap ... apa yang terjadi ...?” suaranya pecah. Tenggorokannya tercekat oleh ketakutan purba yang tak pernah ia pahami saat masih kecil.
“Apakah selama ini ... ayah ...?”
Kael bergetar. Ingatan samar merayap di dalam pikirannya, menorehkan kecemasan ganjil—seolah jauh di lubuk hatinya, ia tahu: tidak pernah ada masa di mana Ezra tampak selemah ini.
Dan sebelum sempat bertanya lebih jauh, setitik hangat jatuh dari matanya sendiri. Air mata. Satu butir di pelipis kiri. Menetes tanpa bisa dicegah, menampar kesadarannya tentang kehilangan yang belum sempat ia pahami, apalagi dimaafkan.
Ezra meremas dadanya, menahan perih yang menghantam di balik tulang rusuk.
“Dunia ... dunia akan menghancurkanmu ... jika aku tak menyiapkanmu ...”
“Uhhhuuuukkk ...! Uhhhuuukkkk!”
Batuknya kian membara, memecah keheningan. Darah—hitam kemerahan dan kental—meletup dari mulutnya, memercik di telapak kirinya. Sebuah tanda kehancuran yang tak lagi bisa ditawar.
“Aku ... hanya ingin ...”
Suara Ezra merosot, kehilangan nadanya, runtuh di antara tarikan napas yang tak mau lagi bersahabat.
“... kau hidup lebih lama ... dari yang bisa kulakukan ...”
Dan sesaat sebelum jiwanya terpeleset dari tubuhnya, ia menyebut nama itu—dengan getaran kasih sayang yang tak pernah benar-benar ia akui.
“Kael ... Vieron ....”
Tubuhnya terhempas ke tanah, menghantam permukaan keras. Tak sempat menahan. Tak sempat menolak.
Suara itu—sang legenda yang pernah menaklukkan perang, menembus ribuan pembunuhan, mengguncang rezim—memudar. Ditelan keheningan, seperti lampu yang padam di ujung gelap.
Kael terlonjak. Darahnya berdesir. Hatinya tercabik.
“Tunggu ...!”
“Ayah ...!”
Tangannya terulur, gemetar, tak peduli air mata yang jatuh membasahi pipinya.
“Jangan tinggalkan aku dulu ....”
Ia berlari, mencoba meraih. Menolak takdir yang begitu kejam mencabut figur yang baginya semestinya abadi.
Namun tak ada jawaban. Hanya napas terakhir—sunyi. Lalu kabut menelan segalanya, menutup panggung luka itu, meninggalkan Kael berdiri sendiri di atas puing harapan yang bahkan belum sempat ia pahami ... kini telah berakhir.
Tepat saat ia menyaksikan sendiri kematian ayahnya, tubuh Ezra lenyap bagaikan hembusan asap yang mencair—hilang tanpa meninggalkan apa pun, kecuali rasa sakit seorang anak yang rapuh berdiri terlalu dekat dengan kehilangan.
“Tidak mungkin ....”
Tubuh Kael limbung, terjatuh dalam keputusasaan.
BUK!
“Ayah ....”
“Kenapa ... kenapa ayah menyembunyikan semua rasa sakit itu?”
Ucapannya pecah, nadanya terputus-putus, seolah tak sanggup menelan kenyataan yang tiba-tiba terkuak di hadapannya.
“Kenapa ayah tidak memberitahuku ...?”
Air matanya jatuh, deras, menodai tanah beku yang menanggung setiap ratapan yang tak pernah sempat ia suarakan.
“... Aku ... semua yang aku lakukan ....”
Tetes demi tetes air mata semakin membasahi wajahnya, bercampur dengan napas yang kian berat.
“Ternyata tidak ada gunanya ....”
Kael menunduk, bahunya bergetar, menahan gemetar yang merambat dari dadanya hingga ke ujung jari.
“Sekarang, aku hanyalah assassin lemah ... yang tak punya siapa pun lagi.”
Kedua telapak tangannya meremas lantai dingin itu, seakan ingin mencengkeram sesuatu yang tak lagi ada.
“Maafkan aku ....”
Pundaknya bergetar hebat, menahan sesak dari tangisan yang tak kunjung menemukan jalan keluar.
“Aku bahkan tak sempat datang ke pemakamanmu ....”
“Aku ... bodoh. Masih egois waktu itu. Tapi sekarang ....”
Kael menggertakkan giginya, menahan isak yang nyaris menghancurkan dadanya dari dalam.
“Sekarang ... aku bahkan tak bisa bicara padamu lagi.”
Suara itu jatuh. Hampa.
Tak ada jawaban. Tak ada gema.
Hanya kabut putih yang menelan napasnya perlahan, seolah dunia sengaja membiarkan kata-kata itu lenyap tanpa bekas.
Lalu—udara berubah.
Dari kehampaan yang tak memiliki arah, tujuh anak panah melesat satu per satu. Bukan dengan suara perang, melainkan desis tajam—seperti penyesalan yang dipercepat oleh takdir.