Skkrrreeeeekkk ....
Suara itu pecah di udara ketika Kael mendorong perlahan daun pintu kayu jati yang sudah tua.
Deritannya melengking, serak, menggores telinga hingga merayap ke tulang belakangnya seolah cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Tap ... tap ...
Langkah Kael perlahan menembus ambang batas—antara badai dingin yang menggila di luar dan kehampaan asing yang menunggu di dalamnya. Seolah setiap hentakan kakinya menandai perpindahan dunia, meninggalkan bisikan angin beku untuk memasuki ruang yang tertutup rapat oleh waktu.
Ia menoleh ke belakang sejenak, lalu mendorong pintu itu kembali hingga tertutup rapat.
KREEP ... BWUHHHSCH.
Suara kayu bergema singkat, disusul hembusan angin terakhir yang menyerbu masuk, lalu lenyap tertahan begitu saja. Di dalam ruangan itu, hanya tersisa aroma lembut serat tua, bersama derit terakhirnya yang mereda menjadi suara letikan kayu kecil, nyaris seperti bisikan yang menenangkan.
Krakk ... tikk ...
Keheningan pun jatuh. Sunyi itu begitu pekat hingga terasa suci, seakan ruangan ini sendiri menolak disentuh oleh hiruk pikuk dunia luar.
Krakk ... tikk ...
Kael berbalik perlahan. Matanya menyipit, nafasnya terhuyung berat.
Haaahhhuhhh ....
Hembusan napasnya lolos tanpa ia sadari, mengepul putih di udara hangat. Tipis, rapuh, bagai kabut kecil yang muncul malu-malu lalu segera larut ke dalam keheningan.
“Kedinginannya terlalu keji ...” gumamnya pelan. Suaranya serak, pecah di ujung kata. “Keji ... untuk seseorang yang baru belajar memahami rasa sakit yang bahkan belum sepenuhnya ia kehendaki.”
Namun pandangannya tetap lurus ke depan, tak bergeming.
“Sebaliknya, rumah ini ... kehangatannya bisa membuatku tenang.”
Kael melangkah, satu demi satu, menuju tengah ruangan.
Tap ...
Tap ...
Setiap pijakannya mengeluarkan suara kayu yang menjerit lirih, mengaduh di bawah beban tubuhnya. Lantai itu berderak seolah menyambut tuannya kembali—atau mungkin merintih, menolak kehadiran orang asing yang tak lagi sama.
“Dan juga ... entah kenapa ...” bisiknya lagi. Suara itu bergetar, setipis helaan napas yang ditahan terlalu lama.
Matanya menyisir seisi ruangan. Gerakan bola matanya lambat, nyaris ragu, seakan takut setiap detail yang ia lihat hanyalah tipuan dari pikirannya sendiri. Namun semakin lama ia menatapnya, semakin yakinlah hatinya.
Ruang utama terbentang di hadapannya. Sederhana, bergaya medieval-modern. Namun ada sesuatu yang membuatnya terasa ... hidup. Seperti ingatan yang pernah hancur, lalu kini kembali dirajut utuh.
Langit-langit menjulang, ditopang atap kayu tua yang melengkung sedikit, menciptakan ilusi ruang yang menyerupai perut waktu. Di tengah ruangannya, sebuah lampu gantung antik menggantung diam, memancarkan cahaya kuning lembut. Sorotnya menetes turun ke lantai kayu jati yang masih memantulkan kilau samar, seolah sempat dirawat oleh tangan yang peduli.
Lantai itu memanjang lurus ke depan, menuju hearth batu yang tertanam di dinding. Api kecil menari di sana dalam warna jingga kemerahan, menyalakan kehidupan pada ruang yang hampir dilupakan. Lalu sebuah cermin bundar dari logam tergantung di sisi kiri hearth batu, memantulkan cahaya api ke langit-langit dan dinding bata abu-abu di sekitarnya, membuat ruangan bernafas dengan kehangatan yang rapuh.