Melihat kenyataan bahwa dirinya masih diberi kesempatan untuk menatap masa lalu dan menyaksikan kembali sosok yang paling dicintainya itu, Kael hanya bisa terdiam dalam waktu yang terasa panjang.
Kedua matanya terbuka lebar, namun sorotnya bergetar seakan sulit percaya pada apa yang sedang ia lihat sekarang. Setiap detail yang terhampar di hadapannya—kerinduan yang menyesakkan dada dan kesedihan yang telah lama ia kubur—terpantul jelas hingga membuat jantungnya terasa seperti diremas perlahan.
Sosok itu bukan tubuh berdarah daging seperti dirinya, melainkan cahaya lembut yang terbentuk dari ingatan roh masa lalu. Bukan ilusi yang terlahir dari resonansi miliknya, bukan pula khayalan yang muncul secara paksa dari ingatannya.
Melainkan, Kael bisa merasakan dengan segenap jiwanya bahwa hal ini terasa sangat berbeda. Bahwa inilah kenyataan dari seorang ibu yang akan selalu ada, datang kembali hanya untuk anaknya yang sedang kehilangan arah.
Sungguh ... mata Kael terlihat mulai berkaca-kaca. Air mata itu tidak jatuh deras, melainkan bergetar tipis di pelupuknya, seakan ragu untuk menuruni pipinya. Ia tidak menangisinya terlalu dalam, sebab yang ia rasakan bukanlah duka, melainkan rindu.
Rindu pada kehangatan yang pernah membentuk dirinya. Rindu pada seseorang yang telah membuatnya tangguh, yang diam-diam membawanya bertahan hidup hingga hari ini.
Napas Kael tersengal halus. Bibirnya sedikit terbuka, bergetar pelan, lalu mengeluarkan suara yang seolah pecah di udara yang hening.
“... Ibu ...”
Lhuna Vieron. Sosok itu duduk tenang di atas sebuah meja, gerakannya penuh kelembutan dan kehati-hatian sambil merajut syal merah dengan tangannya, jarum rajut itu berkilau samar di antara jemari yang lentik, sementara gulungan benang merah di sampingnya terus ia tarik dan tenun dengan irama sabar.
Wajahnya dihiasi senyuman hangat yang begitu sederhana, namun di balik kesederhanaannya itu terasa dalam seperti sebuah kasih sayang yang hanya seorang ibu bisa berikan. Harapan dan kehangatan itu ia rajut seolah hendak diwariskan kepada anaknya kelak.
Suara Kael kecil terdengar jelas olehnya. Lhuna pun menoleh. Namun yang ia lihat bukanlah Kael dewasa yang telah penuh luka, melainkan Kael kecil, bocah lima tahun yang masih polos dan belum mengenal pahit getir kehidupan.
Sorot matanya masih jernih, pipinya merona sehat, senyum cerianya begitu lepas.
“Apa itu? Apa yang kamu bawa sampai terlihat begitu senang, hm?” ucap Lhuna lembut, anggun, sambil tetap menyulam.
Kael kecil mendekat, menggeser kursi meja agar bisa duduk dekat di sampingnya, wajahnya berseri-seri, kedua tangan kecilnya memeluk sesuatu dengan penuh semangat. Ia benar-benar tak sabar untuk menunjukkannya.
“Ibu, lihat ini! Fotonya sudah jadi!” katanya riang, sambil mengulurkan bingkai foto yang baru saja ia dapat. “Tadi Paman Zeth memberikannya padaku saat aku sedang bermain di luar.”
“Oh? Boleh ibu lihat?”
”Boleh!”
Lhuna berhenti merajut, jemarinya terhenti sejenak di atas syal yang setengah jadi. Ia pun menerima bingkai itu dengan hati-hati, matanya melembut ketika menatapnya.
Kael kecil mendongak penuh harap. “Bagaimana menurut ibu? Aku rasa ini sangat bagus!”
Namun Lhuna tidak langsung menjawabnya. Bibirnya menutup rapat, hanya ada senyum samar yang perlahan merekah. Kemudian, tiba-tiba ia terkekeh pelan, menutup mulutnya dengan tangan, seakan malu-malu dengan apa yang ia lihat.
“Ahahahhmm ...”
Kael kecil terdiam, ekspresinya sedikit bingung. Senyumnya yang tadi bersinar, meredup seketika.
“Uh ... kenapa ibu malah tertawa? Jadi ... fotonya tidak bagus ya?” Nada suaranya turun, seperti anak yang takut penantiannya tidak mendapat jawaban yang ia harapkan.