Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #18

Chapter 15

Kemudian Lhuna berbicara. Suaranya tenang, lembut, namun menyimpan kedalaman yang membuat udara di sekitar seakan membeku.

“Aku percaya ... tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Tuhan. Bahkan jika aku masih berdiri dan diberi kesempatan untuk terus hidup, aku akan selalu mensyukurinya dengan kebahagiaan bersama keluarga kecilku ini.”

Kael menahan napas. Tatapannya bergetar, ekspresi wajahnya masih sulit percaya bahwa ia mendengar suara itu lagi. Lebih dekat.

Lhuna melanjutkan, matanya menerawang lembut, seolah berbicara bukan hanya kepada anak kecil di masa itu, melainkan juga kepada Kael dewasa yang berdiri di sisi lain realitas.

“Di saat semua orang bertanya tentang apa itu hidup, dan mengapa mereka harus mati ... itu bukanlah pilihanmu. Itu hanyalah alur waktu dari Sang Pencipta yang menentukan kapan kau harus kembali.“

“Meski hatiku berat mengatakannya, aku percaya ... anakku pasti bisa menjalani semua itu sendirian. Atau mungkin ... dia akan menemukan seseorang, yang sama sepertiku, di masa depan.”

Kael merasa dadanya dipeluk. Ada rasa hangat, ada luka yang terbuka, bercampur menjadi satu.

Lhuna kemudian menundukkan wajahnya sedikit, seakan menatap ke arah Kael kecil yang berada di dalam bingkai foto itu, namun suaranya terdengar menembus lebih jauh.

“Kael ... aku harap kau bisa tumbuh lebih kuat, percaya diri, dan menjadi orang baik seperti mereka yang selalu bisa melindungi siapa pun. Dan aku yakin, meski kau jauh di luar sana ... kalimat ini pasti akan selalu kau dengar di mana pun kehadiranmu berada.”

Lalu ... Lhuna mengangkat kepalanya kembali, matanya menatap lurus ke depan, tatapannya lembut namun tajam, seolah menembus batas dimensi. Bibirnya tersenyum tipis, lalu kalimat terakhirnya meluncur perlahan.

“Dan sekarang ... seharusnya kau bisa mendengarnya dengan jelas, bukan?”

Kael terdiam. Sorot matanya membelalak, tubuhnya bergetar kecil.

“Hu-uh?“

Untuk pertama kalinya, ia merasa ibunya tidak hanya berbicara pada bayangan masa lalu, tapi benar-benar kepadanya. Pada dirinya yang kini berdiri di antara hitam dan putih, di luar alur waktu yang semestinya.

Hening.

Namun hening itu dipenuhi sesuatu yang dalam—kesedihan, kehangatan, dan sebuah perpisahan yang lembut namun abadi.

Kael merasakan dadanya runtuh, hangat sekaligus perih, namun air matanya tetap tidak jatuh. Ia menahannya, sekuat yang ia bisa, dan hanya membiarkan sebuah senyum tipis tergambar di bibirnya.

Senyum yang rapuh, seolah mencoba mengikat luka agar tidak runtuh dalam tangisan. Ia menundukkan kepala sedikit, menatap lantai kosong di bawah kakinya, sambil membiarkan kata-kata itu terlintas di benaknya.

“Ya ... kalimat itu pasti akan selalu ku ingat. Bahkan sekarang ... aku berhasil mengingat kembali semua memori kecil itu saat bersama ibu,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan.

“Tapi yang bisa kulakukan sekarang, hanyalah sekedar melihatnya ... merasakannya ... menikmati momen itu sendirian, meski aku tahu ... ini akan cepat menghilang ketika aku sadar bahwa semua ini hanyalah ilusi dari memori terdalamku akan rumah kita ... ketika aku mencoba mengingat tentangmu, Ibu.”

Bahunya sedikit berguncang, bukan karena tangis, melainkan karena napas yang bergetar menahan sesuatu yang ingin pecah. Namun Kael tetap tegar, memaksa dirinya untuk tidak larut. Ia mengangkat wajahnya sedikit, meski tatapannya masih redup.

“Aku di sini bukan untuk kembali menyapa ... atau mempertanyakan semua keraguanku,” lanjutnya. “Di sini aku hanya bisa melihatmu. Meski di dalam kenyataan yang sesungguhnya ... Ibu sudah tiada.”

Kata-kata itu runtuh dari bibirnya seperti bisikan doa yang getir. Kael menghela napas panjang, lalu menunduk sekali lagi, tersenyum tipis, seakan ingin mengukuhkan kenyataan itu di dalam dirinya sendiri.

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan pikirannya, sebuah suara yang tak terduga memecah keheningan.

“Sungguh ...? Cuman itukah yang sedang kau pikirkan sekarang?”

Kael menahan napasnya, alisnya perlahan berkerut. Ia tidak langsung bereaksi, dan mengira itu hanyalah gema dari benaknya sendiri. Ia tetap diam meski ekspresi wajahnya tak bisa berhobong, sementara dadanya makin terasa berat.

Lalu suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, dengan nada yang lembut namun menyentil.

“Jadi sekarang anakku tidak bisa mendengar, ya? Astaga ... Padahal aku datang kemari karena keinginanku ... bukan karena siapapun. Untuk menyelamatkan satu-satunya putraku yang hampir tenggelam ke dalam ilusi bayangan jahatnya sendiri.”

Kael terangkat kaget, matanya membelalak seketika. Ia menoleh cepat, namun sorotnya masih diliputi kebingungan. Rahangnya menegang, lalu ia mengeluarkan suara lirih, hampir tak sadar keluar dari mulutnya.

“Huh ...?”

“Tidak, tidak." Kael menggelangkan kepalanya, menolak cepat. “Ini adalah hal yang paling mustahil dan tidak mungkin pernah kudengar.“

Wajahnya berubah, antara bingung dan tidak percaya. Ia menggeleng pelan sekali lagi, seakan mencoba menepis kemungkinan yang barusan ia dengar. Kedua tangannya mengepal ringan di sisi tubuhnya, menahan getaran yang semakin sulit dikendalikan.

Lihat selengkapnya