Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #19

Chapter 16

Dengan mata yang mulai basah, Kael tak lagi mampu menahan air yang sejak tadi bergetar di pelupuknya. Perlahan, butiran itu jatuh, jernih namun berat, seakan setiap tetesnya membawa beban kerinduan yang telah lama membusuk di dalam dada.

Pandangannya terpaku pada sosok Lhuna, menelannya bulat-bulat dengan luka yang tak bisa disembunyikan.

“Ibu ... terima kasih ...” bisiknya lirih, hampir tak terdengar, namun sarat makna.

Ucapan sederhana, namun di baliknya tersimpan kehangatan yang telah lama ia rindukan—kehangatan yang selama ini tak pernah ia temui lagi, sampai takdir yang mustahil ini mempertemukannya kembali.

Dan ia tahu, sehangat apapun momen ini, pada akhirnya hanya akan menjadi hadiah terakhir yang tak akan pernah ia genggam lagi.

Pandangannya pun perlahan merosot ke lantai, tak sanggup lagi menatap. Malu, getir, dan sakit hati bercampur, membuncah tanpa mampu ia bendung. Betapa beruntungnya ia bisa bertemu dengan ibunya sekali lagi, namun betapa kejam pula kenyataan yang terus berbisik bahwa semua ini hanya sementara, hanya sebuah persinggahan yang sebentar lagi akan lenyap.

Ia sadar—setelah ini berakhir, ia akan kembali sendiri. Tak ada sahabat, tak ada saudara, bahkan keluarganya ... semua telah hilang, terhapus oleh masa lalu yang kelam.

Air matanya terjun kian deras, jatuh setetes demi setetes, menabrak lantai kayu jati yang terasa hangat, seakan ikut menyerap kesedihannya.

“Aku ... tidak tahu nanti harus berbicara dengan siapa lagi kalau bukan dengan ibu ...” gumamnya parau, patah di tengah helaan napas. “Aku pikir ... ini akan menjadi hari terakhir bagiku untuk menjadi seseorang yang dibenci semua orang.”

Ia berhenti sebentar, menggertakkan giginya, lalu melanjutkan dengan suara yang nyaris pecah.

“Aku selalu merindukan kalian ... selalu. Dan saat aku sendirian ... hanya bibi Jean yang menenangkanku. Dan sekarang ... dia juga pergi. Sama seperti kalian ....”

Suara itu runtuh bersama dirinya. Dan Lhuna, yang sejak tadi hanya mendengarkan luka anaknya, kini mulai melangkah mendekat.

“Kehadiranku ...” suara Kael nyaris bergetar. “... seperti selembar kertas yang tak memiliki tinta.”

Semakin dekat, Lhuna memperlambat langkahnya. Nada suaranya berubah lembut, seperti belaian yang tak kasat mata.

“Pria sejati ... akan selalu kuat. Namun hatinya, Kael ... tetap bisa menangis. Karena hati seorang pria sejati mudah terbakar, sama rapuhnya seperti tisu yang disentuh api kerinduan.”

Kael tak menjawab. Kepalanya tetap tertunduk, seolah enggan menampakkan wajahnya yang basah oleh air mata.

Hingga Lhuna berhenti tepat di hadapannya. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh lembut dagu Kael, lalu mengangkat wajah itu agar kembali bertemu dengan tatapannya. Senyum hangat terpancar dari bibirnya, mata yang teduh memancarkan kasih sayang yang tak pernah hilang meski ia telah tiada.

“Kael ...” panggilnya lembut. “Kau bukan iblis yang tak memiliki hati. Kau adalah manusia. Anakku satu-satunya yang lahir dari rahimku.”

Suaranya mengalun pelan, penuh penekanan.

“Hati tanpa nama hanyalah iblis yang berpura-pura kuat di hadapan pahitnya kenyataan. Sebaliknya, hati manusia ... selalu punya nama. Nama itu adalah cinta, kasih sayang, kerinduan, dan rasa ingin melindungi. Dan semua itu ... ada di dalam dirimu, Kael Vieron.”

Kael segera menyeka air mata yang masih menetes di pelupuknya dengan telapak tangan kiri. Bibirnya melengkung, mencoba memecah suasana dengan gurauan tipis yang terdengar getir sekaligus hangat.

“Dasar ... ibu memang selalu bisa membuatku menangis bahagia setiap saat, ya. Aku yakin ayah pasti iri karena tidak bisa melakukannya.”

Lhuna terkekeh kecil, senyum lembut mengiringi napasnya. Candaan itu memang benar adanya, karena Ezra—seorang ayah yang keras dan tegas—tak pernah pandai menyalurkan kelembutan kepada anaknya.

“Ahahaha ... kamu benar. Sebenarnya, ayahmu bukanlah hanya sosok yang tegas seperti yang kau pikir, Kael. Ada sisi lain yang tak sempat kau lihat. Dan kamu ... kamu pasti merindukannya juga, bukan?”

Pertanyaan itu menembus hatinya. Kael mengangguk pelan, mengakui dengan suara rendah. “Tentu saja.”

Lalu Kael perlahan mengangkat wajahnya, menatap Lhuna dengan senyum tipis yang penuh rasa syukur.

Lihat selengkapnya