Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #20

Chapter 17

Masih pada momen itu, Kael tetap berdiri diam, tubuhnya tegak namun seolah dipaku oleh beban yang tak kasat mata. Telapak tangan kanannya mengepal begitu erat, sendi-sendi jarinya memutih, seakan ingin menahan sesuatu yang menggelegak jauh di dalam dirinya.

"Amarah ini ... sangat menusuk dadaku." Gumamnya lirih, namun tajam.

Ia bisa merasakannya—denyut panas yang mirip dengan aura pintu merah itu. Kemarahan, penderitaan, kekacauan, kehilangan, bahkan kebencian yang tidak pernah berhenti berdetak, seakan berusaha memakan habis hatinya.

Napasnya terhembus perlahan, dalam dan berat. Lalu tatapan matanya, yang semula redup, kini menajam. Tidak lagi seperti dinding rapuh yang runtuh ketika ia berhadapan dengan ibunya, melainkan tatapan seorang pria yang mulai menerima luka terdalamnya, lalu mengubahnya menjadi bara tekad sebagaimana seorang Assassin yang tak mengenal takut.

Kael pun mulai melangkahkan kakinya.

Satu langkah.

CLACK.

Suara langkahnya bergema, kaku namun pasti. Setiap langkahnya terasa seperti mengetuk permukaan dunia itu sendiri.

langkah kedua.

CLACK.

Air hitam yang menggenang di lantai hampa memantulkan bayangan dirinya yang bergetar samar. Ia teringat tempat itu—Limbus Reveria. Tapi kini berbeda. Tidak ada langit indah yang memayungi, tidak ada pintu-pintu lain yang memanggilnya. Yang tersisa hanya kehampaan pekat ... dan satu pintu terakhir yang berdiri di hadapannya, memancar seperti luka yang tak mau tertutup.

Langkah ketiga.

CLACK.

Langkahnya tidak berhenti, ia hanya menarik napas sejenak, lalu bersuara.

“Aku tahu siapa diriku ... aku tahu aku kosong ... dan aku tahu aku seharusnya mati. Tapi yang tidak pernah aku tahu adalah bagaimana semua itu terjadi."

"Pertanyaan terbesarku adalah ... mengapa aku masih bisa berdiri di sini sekarang.”

Suara Kael rendah, namun mantap. Gema kata-katanya berputar di ruangan kosong, memantul lalu lenyap, seolah ruangan itu sendiri sedang mendengarkannya.

Langkahnya semakin sempurna. Tak ada tanda keraguan.

“Mungkin ... aku kehilangan banyak ingatan,” lanjutnya pelan, alisnya berkerut tajam. “Namun, setiap kali aku melihat ... mendengar ... merasakan sesuatu yang seharusnya pernah ada dalam hidupku—perlahan aku bisa mengingatnya. Meski itu membuat tubuhku bergemetar, sakit, yang seakan membuatku hancur dari dalam.”

Kael terdiam sejenak, kedua bahunya naik turun menahan napas yang berat. Jemarinya sempat bergetar sebelum kembali mengepal.

“Ibu ... dan ayah. Mereka tidak pernah benar-benar pergi. Merekalah yang selalu mencoba mengingatkanku ... bukan aku yang berusaha melupakannya.”

Tatapan Kael kini lurus pada pintu itu. Aura merahnya berkibar liar seperti nyala api yang berbisik. Ia sudah berada begitu dekat—dua puluh empat langkah yang terasa seperti perjalanan panjang menembus labirin batinnya sendiri.

“Dunia ujian dosa ini ... memang dibuat untuk memaksaku melihat semua kebenaran. Potongan demi potongan, seolah semuanya disusun dengan sistematik untuk menghancurkan dan menata ulang diriku.”

”Kalau ini cara dunia baru menilaiku ... aku akan datang untuk memenangkan setiap ujian yang kalian berikan padaku.”

Ia berhenti tepat di depan pintu. Tidak ada gagang. Tidak ada celah untuk membukanya. Hanya kabut merah darah yang bergulung, tangan-tangan iblis yang kaku, seakan menunggu tubuhnya untuk terseret masuk.

Kael mendekatkan wajahnya, cahaya merah itu memantul di kedua matanya. Ia berbisik lirih, namun penuh dengan tekad yang bergetar.

“Jika yang dikatakan Ibu benar ... bahwa ada seseorang yang menungguku di balik pintu ini ... mungkin inilah saatnya untuk mengetahui kebenaran terakhir, meski aku harus menanggung kebencian paling dalam sekalipun.”

“... tentang kenyataan ... siapa orang yang menyelamatkanku dari kematian.”

Langkahnya terhenti di hadapan pintu merah itu. Kedua kakinya bergeser setapak lebih dekat, ragu namun tak pernah benar-benar mundur. Jari-jarinya terulur pelan, gemetar ringan, seolah hendak menyentuh permukaan yang tak memiliki gagang itu—sebuah pintu yang lebih menyerupai dinding darah yang berdenyut.

Keheningan meraja. Hanya ada detak jantung Kael yang menghantam dadanya sendiri, berpacu dengan desisan aura merah yang mengelilingi pintu, seperti bisikan api yang lapar menanti mangsanya.

Namun tepat ketika jemarinya hampir menembus batas, sesuatu bergerak. 

Tangan-tangan merah yang tadi membeku seakan patung mendadak meronta, bergetar liar, melambai dan mencakar udara, seolah berusaha merebut tubuh Kael untuk diseret masuk.

Tapi, bukan itu yang membuat napasnya tercekat. 

Bersamaan dengan gerakan liar itu, dari celah pintu tiba-tiba melesat keluar sebuah rantai merah darah, terhunus seperti tombak, lalu langsung melilit lehernya dengan kecepatan yang mustahil dihindari.

“Ugh—apaan?! Kekhh ...!” 

Wajahnya menegang, urat di pelipisnya menonjol, napasnya terputus-putus.

Rantai itu mencekik kuat, panasnya seperti bara neraka yang membakar kulitnya. Kael sontak meraih rantai itu dengan kedua tangannya, mencoba melepaskan diri. 

Namun semakin erat ia menggenggamnya, semakin terasa kulit telapaknya terpanggang oleh api merah yang menyalur dari setiap mata rantai.

Lalu, dari balik pintu, terdengar suara. Suara yang bukan berasal dari manusia, melainkan sesuatu yang menyerupai gema malaikat terkutuk—tajam, lantang, mengerikan, namun jelas seperti panggilan tak terbantahkan.

“Kemarilah!”

Jeritan itu bagai sabda perintah yang mengoyak batinnya. Dan seketika, tarikan rantai itu menyeret tubuh Kael. Ia tak sempat melawan, tak sempat berpikir, tubuhnya dicabik masuk ke dalam pusaran pintu merah itu.

Kegelapan menyergap sepersekian detik, lalu lenyap.

Yang menyambutnya bukan dunia, melainkan sesuatu yang menyerupai ruangan putih—terlalu putih, sunyi, tanpa batas—sebuah bentangan kosong yang hanya diisi oleh kubus-kubus merah yang melayang di mana-mana.

Lihat selengkapnya