Noxis menegakkan tubuhnya, berdiri tegak seperti patung baja di tengah ruang putih yang senyap, dan dalam cara ia menatap—itu bukan ledakan kemarahan yang mudah ditebak, melainkan bara yang telah lama disimpan; dingin, terkontrol, mematikan.
Topeng paruh panjangnya menelan pipi dan bibirnya sehingga wajah aslinya tak terlihat, namun suaranya keluar berat, bergema seperti undangan tipu daya yang hendak meleburkan dua jiwa menjadi satu: amarah yang mengklaim kekacauan sebagai asal usulnya.
“Ohh ...” desisnya, lembut namun panjang, memantul dan menyisakan gema seperti bisikan di lorong yang kosong. “Jadi sekarang kau malah ingin bersenang-senang dulu, ya? Boleh saja.”
Kael menyeringai—bukan tawa penuh kemenangan, melainkan garis senyum samar yang merekah meski darah masih menetes dari bawah hidungnya, memberikan kilau merah pekat pada kulit pucatnya.
“Ya. Kenapa? Kau takut? Tidak apa-apa ... anggap saja ini kesempatan terakhir bagimu untuk ada.” Suaranya rendah, dikemas seperti janji yang dikatakan oleh seseorang yang sudah terlalu sering menelan sakit dan akhirnya belajar bagaimana membalikkannya menjadi bahan bakar.
Ada jeda pada Noxis; bukan jeda ragu, melainkan jeda untuk menikmati rasa sakit dan tantangan yang disajikan padanya.
Dan ketika ia akhirnya membalas, nadanya mantap, datar, tanpa getar sedikit pun—sebuah penerimaan yang anehnya berbau hormat.
“Menarik,” ucapnya. “Kalau itu yang kamu inginkan ... dengan senang hati aku akan menerimanya. Memberikan rasa pedih akan tulang, daging, dan darah segarmu itu kuiris-iris perlahan. Dan, ingat satu hal ini—”
Ia menghentikan kata-katanya sejenak, lalu mengangkat satu jari telunjuknya, gerakan kecil yang membuat udara di sekitar terasa lebih tebal, seolah ruang putih itu tiba-tiba menarik napas.
“Di tempat ini ... aku tidak bisa mati. Sekalipun kau memotong-potong tubuhku, menghancurkanku menjadi serpihan abu, atau bahkan menghapus keberadaanku.” Kata-kata itu meluncur datar namun mematikan, menempel di telinga Kael seperti racun yang lambat.
Kael tetap berdiri, tubuhnya menahan rasa perih dari jilatan rantai yang baru saja mencekik lehernya, darah di bawah hidungnya mengalir perlahan dan ia segera mengusapnya dengan punggung tangan, gerak yang sederhana namun penuh harga diri.
Tatapannya mengunci ke depan, ada senyum tipis yang tersungging—sebuah senyum yang bukan untuk menyembunyikan ketakutan, melainkan untuk mengukuhkan bahwa ia memilih jalannya sendiri.
“Begitu ya. By the way ...” suaranya tetap rendah, setiap kata diberi tekanan, “... terima kasih karena telah melukaiku sebelumnya.”
Noxis terlihat sesaat tersentak, ekspresi topengnya tak berubah namun tubuhnya menegang, lalu ia menutupnya dengan dingin. “Berterima kasih ...?”
“Ya. Aku tidak salah mengatakannya. Tadi, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya luka fisik itu seperti apa.” Kael menunduk sesaat, seperti menimbang kata, lalu menatap kembali dengan pandangan yang memerah dari dalam.
“Karena sebelumnya, yang kurasakan hanyalah sakit dari dalam—bukan dari luka yang berdarah, bukan juga tulang yang di patahkan—melainkan hati dan memori yang menjeratku. Tentang bagaimana aku dipaksa menerima kebenaran yang kupendam sendirian.”
Noxis mendengus, suara kecil yang sarat dengan kebencian tak terselubung. “Sungguh menyedihkan, sampai kapanpun kau tak pernah bisa lari darinya.”
Kael pun maju beberapa langkah, gerakannya kalem, seperti memiliki kepastian seolah jarum jam yang tak terhentikan.
“Tidak, sekarang aku pasti bisa melewatinya.” Suaranya tegas, tidak terguncang.
Lanjutnya. “Aku tahu kau kuat. Jadi tak ada alasan bagi makhluk sepertimu untuk menolak tantangan dari yang lemah seperti aku. Itu pasti mudah ... anggap saja ini latihan.”
Noxis membalasnya dengan geraman kecil, nadanya menurun seperti prediksi yang dipendam: “Latihan? Jadi aku hanya alat untuk menajamkanmu?”
“Benar.” Senyum Kael kembali muncul, samar—tak jelas apakah itu ejekan atau pengakuan jujur. “Meski tubuhku lemah, dengan ingatanku yang belum pulih sepenuhnya, aku butuh uji coba ini agar gaya bertarungku hidup kembali.”
Noxis menghela napas berat, namun suaranya terdengar mantap ketika menanggapi. “Begitu rupanya. Jadi, tujuanmu berani melawanku seperti itu adalah untuk menjadikanku alat ... agar kau siap menghadapi seseorang yang lebih kuat dariku, ya.”