Tubuh Kael meluncur di antara kubus-kubus merah raksasa yang melayang, jejak langkahnya seperti goresan tipis yang membelah udara hampa itu.
Suara dentuman logam sudah mendahului pandangannya—dua lengan pedang runcing milik Noxis menyambar sekaligus, menusuk lurus dengan kecepatan yang nyaris tak memberi ruang bernapas.
Keduanya bertemu, dan―
Clang! Clang! Clang!
Bilah Astra beradu dengan ujung-ujung pedang itu, bunga api singkat tercipta di udara putih lalu padam sebelum sempat jatuh.
Kael menangkis satu tusukan, dua tebasan, tiga tusukan, bahkan empat kombinasi serangan cepat, tubuhnya menunduk, bergeser, miring, lalu memutar, dan kemudian membalas dengan tebasan diagonal yang deras ke salah satunya.
Namun⎯
Lengan Noxis lainnya segera mengangkat, menepis balik dengan kilatan besi yang kaku.
Clang!
Tidak tergores sedikit pun, Kael menekan tepisan itu dan menyerangnya lagi.
Clang! Clang!
Namun lengan Noxis yang lainnya kembali menangkis.
Pertarungan tertahan sesaat, keduanya beradu tekanan. Namun berikutnya, Noxis dengan cepat mematahkan tahanan Kael, melepaskan bilahnya, lalu kedua lengan pedangnya menyerang kembali, menebas dan menusuk bersamaan, seperti saudara kembar yang menari dalam irama pembantaian.
Pertukaran serangan berlangsung bagai irama pukulan drum perang—tusuk, tebas, tangkis, ayun, hunus kembali. Gerakan itu berulang, semakin cepat, semakin rapat.
Yang diincar oleh kedua pedang Noxis adalah bagian leher, lengan, dan kaki Kael, namun Kael selalu berhasil menghindarinya dengan gesit dan membalasnya dengan tebasan insting. Setiap gerakan Kael adalah naluri yang terpatri; setiap serangan tangan rantai Noxis adalah kebencian yang membeku menjadi bentuk.
Dan tak lama setelah Kael berhasil memisahkan kedua lengan pedang yang menyerangnya bersamaan di udara.
Tiba-tiba, serangan itu berhenti sejenak.
Dari sisi kanan, terdengar deru mesin yang berputar keras, menusuk telinga. Lengan gergaji meluncur deras dari atas, berputar bagaikan roda maut yang hendak membelah Kael dari kepala hingga ke dadanya.
Sringgg, sringgg, sringgg!
Refleks, Kael menoleh ke arah suara itu dan segera mengangkat Astra ke atas. Kedua tangannya mencengkeram pedang dengan seluruh tenaga—satu di gagang, satu lagi menggenggam dekat ujung bilah.
Dan―
KA-RAAANG!
Benturan keras itu meledak di udara, menghantam telinganya hingga berdenging. Lutut Kael tertekuk, pijakannya terseret mundur di permukaan putih.
Suara gesekan gergaji dengan bilah menyalakan percikan api kecil, berderak memekakkan telinga dalam gesekan panjang yang tak berkesudahan.
Kael menggeram, urat-urat di lehernya menegang, tubuhnya terdorong mundur seolah tak ada tumpuan yang mampu menahan tekanan itu.
Seolah-olah makhluk itu mengerti, gesekan gergaji tiba-tiba berpindah haluan—dari tengah bilah bergeser ke sisi kanan, mendekati ujung pedang. Seakan ingin mengincar lengan Kael, atau sekadar menakut-nakutinya.
Menyadari itu, Kael segera mengubah posisi pedang, bergeser ke samping seolah hendak menghindar. Namun lengan gergaji tak memberinya napas, ia langsung kembali menyerangnya, mengiris diagonal dengan liar.
Dengan gerakan tenang meski terdesak, Kael berhasil menghindari setiap ayunan, hingga akhirnya kembali menahannya dengan Astra.
Raut wajahnya jelas kewalahan, rahangnya mengeras, keringat dingin menetes. Di tengah tekanan, ia sedikit mengutarakan kekesalannya.
“Sialan, ini tidak bisa―”
Namun Noxis tidak memberi jeda. Dari sisi lain, lengan dengan empat jari raksasa terlipat, lalu melesat dari celah di balik gergaji. Sesaat kemudian, lengan gergaji itu mundur ke atas, memberi jalan. Kepalan empat jari itu meluncur bagaikan tombak rantai yang ditembakkan dari meriam.