Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #23

Chapter 20

Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Sunyi sesaat pun menggantung, hanya napas Kael yang berat dan dengungan rendah dari ruang putih itu.

Lalu—

GROOOOSH!

Keempat lengan Noxis melesat bersamaan.

Dan ....

BRAAAK!

Keempat lengan Noxis menghantam kubus raksasa tempat Kael berdiri.

Kubus itu hancur seketika, serpihannya beterbangan seperti pecahan kaca abu-abu. Namun Kael sudah tidak ada di sana. Tubuhnya sudah berpindah ke kubus lain yang melayang di sisi atas terlebih dahulu dengan Astra yang berkilau di genggaman tangannya.

Dari bawah, lensa merah Noxis berkilat. “Heh~”

Namun tangan-tangan itu tidak berhenti.

Tiba-tiba—

Ruang di udara terkoyak oleh kilau merah kecil, satu demi satu. Bukan portal besar, melainkan celah sempit yang terbuka dan menutup secepat kedipan mata.

Dari dalamnya, dua rantai Serpent Blades Noxis menyambar keluar, ujung-ujungnya berkilat panas, menghujani Kael dengan tusukan dan tebasan yang datang bertubi-tubi.

Sejenak Kael terpaku. Namun tubuhnya bergerak lebih dulu dari pikirannya.

Clang! Clang! Clang!

Astra menangkis serangan demi serangan, memaksa Kael mundur setengah langkah. Namun satu Serpent Blades Noxis muncul terlalu dekat. Ujungnya menyayat bahu Kael, meninggalkan luka gores tipis.

Darah merah menetes, bercampur dengan kilau bilah Astra.

“Tch—” Kael mendesis pelan.

Tatapannya mengeras. Bukan panik. Bukan gentar.

“Jadi bukan cuma menjangkau ...” gumamnya, menarik napas pendek, “... tapi mengintai dari mana saja ya.”

Bibirnya tertarik sedikit, getir.

“Merepotkan.”

Tak berhenti, tusukan-tusukan itu datang lagi bagai badai. Kael menangkis satu, lalu dua, lalu tiga, tubuhnya terhuyung ke samping kiri dan kanan, namun langkahnya tetap terarah.

Sementara itu, di sisi lain—

ZRRRRRRT!

Suara gergaji terdengar, tapi kali ini bukan menyerang langsung. Bilah gergaji lingkarannya itu menggesek udara kosong, mengiris ruang dimensi putih itu secara vertikal dari atas ke bawah―tepat di atas kepala Kael. Seakan realitas itu sendiri sedang digergaji, dengan retakan merah bercahaya yang merekah, semakin lebar, hingga terbuka sebuah portal besar.

Dan dari dalamnya—

Mauler Maw muncul, keluar dengan cepat, kepalannya menghantam lurus ke arah Kael, hendak meremukkan seluruh tubuhnya dalam sekali gebrakan.

Kael menoleh, matanya menyipit. Dengan dorongan kaki kanannya ia pun segera melompat ke samping, menghindar dengan cepat hingga menjejak sebuah kubus kecil yang melayang di dekatnya.

Tangan empat jari itu hanya menghantam ruang kosong, dan kubus yang tadinya berdiri di belakang Kael langsung meledak berantakan dihantam kekuatan pukulan tersebut.

Pertarungan pun berubah jadi kejar-kejaran. Kael berlari, melompat dari satu kubus ke kubus lain, tubuhnya berkelebat cepat, pedangnya menebas jika ada celah. Tapi keempat lengan Noxis mengejarnya tanpa henti, muncul dari portal merah di segala arah—kadang dari bawah, kadang dari samping, kadang dari belakangnya sendiri.

Setiap kali ada kubus menghalangi, mereka tidak ragu menebasnya.

BRRAK! BRAK! BRAAANG!

Kubus-kubus merah itu hancur satu per satu, berhamburan jadi pecahan, memenuhi ruang putih dengan reruntuhan melayang. Suara dentuman dan robekan ruang berbaur jadi simfoni brutal.

Dan Noxis ... ia tidak bergerak dari tempatnya. Hanya berdiri di bawah, menyilangkan kedua lengannya, topengnya terangkat sedikit ke atas.

Ia menyaksikan pertarungan itu seperti seorang penonton teater, seolah kehancuran di sekitarnya adalah seni yang khusus dipersembahkan untuknya.

Kael akhirnya melompat tinggi, menjejak sisi sebuah kubus besar yang melayang. Ia mendarat dengan keras, napasnya berat, bahunya sedikit berdarah, keringat menetes di rahangnya.

Kini ia berdiri di atas, dikelilingi oleh puluhan kubus lain yang masih melayang.

Sesaat, ada jeda. Suara dentuman berhenti, hanya desiran napas Kael yang terdengar.

Kael berdiri di atas permukaan kubus raksasa yang melayang, tubuhnya terhuyung sedikit karena napas yang masih terengah. Bahunya naik-turun, peluh menetes, namun tatapannya tetap tajam, dingin, seolah memaksa tubuhnya untuk tidak menyerah meski paru-parunya berteriak minta udara.

Aku tidak bisa begini terus ...

Lihat selengkapnya