Sementara itu, dari bawah—
Noxis masih berdiri di antara bayangan kubus-kubus retak. Ia tak bergerak sedikit pun, hanya mendongak dengan lensa merah pada topengnya yang berkilat samar.
Keempat tangannya yang hancur bergetar pelan, logamnya berderit, sebelum akhirnya melebur menjadi serpihan debu merah darah yang berterbangan, menghilang ke udara.
“Aku terlalu meremehkannya, ya?” gumam Noxis, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Kepalanya menunduk sedikit. Suaranya kemudian keluar—berat, kering, bergema, seakan berasal dari kehampaan tanpa dasar.
“Yah ... itu hal yang biasa.”
Ia menghela napas pendek.
“Sedikit mengejutkan memang. Empat anakku ... bisa dibuat goyah olehnya.”
Bahunya terguncang pelan, nadanya hampir menyerupai tawa getir.
“Padahal mereka lahir dari amarah murni. Dari kebencian yang tak mengenal batas.”
Kepalanya terangkat perlahan.
“Dan kau—”
Lensa merah itu mengarah lurus pada Kael.
“—kau membuatnya retak.”
Senyumnya samar, beracun.
“Kau benar-benar berbeda dari yang lain, Kael Vieron.”
Ia mengangkat salah satu tangannya, membentuk jari seperti huruf U miring ke kiri, mengarah pada kubus-kubus melayang di atas. Dari sela-sela sarung logam di tangannya, ia menatap celah gelap itu.
“Tapi kau tahu? Amarah tidak akan pernah musnah. Kau hanya merusak permukaannya. Intinya ... selalu ada. Dan dari setiap retakan itu—” jarinya menjepit pelan, suara logam berderit memantul ke seluruh ruangan, “—hanya membuat murkaku semakin dalam.”
Suasana mendadak membeku. Hanya riak energi samar yang berdesir di udara.
Lalu—
Dari atas langit putih yang penuh kubus, sebuah peluru merah-keperakan melesat turun.
FWUUSSHHH!
Suara mendesing memecah udara, kecepatannya mustahil ditangkap mata manusia biasa.
“... Hm?” Noxis mendongak, tubuhnya menegang sepersekian detik, lensa merah di balik topeng menyipit.
Peluru itu menghujam lurus ke arahnya. Namun bukannya menghindar, ia membuka telapak tangannya.
Dengan hentakan keras, ia menangkap peluru itu tepat sebelum mengenai kepalanya. Energi meletup di genggamannya.
Sejenak ia terdiam, lalu menurunkan tangannya perlahan. Telapak tangannya terbuka, memperlihatkan benda kecil di antara jemarinya.
“... Peluru?” suaranya datar, rendah, namun dingin—menusuk telinga bagai besi yang digesek.
Dan saat kata itu bergema, suara langkah cepat mendesing di belakangnya.
“—Uh?”
Seketika Kael sudah berada di sana, melesat cepat seolah peluru tadi hanyalah jangkar teleportasinya. Kali ini bukan Astra di tangannya, melainkan Fiyn, dengan aura yang memantulkan kilat dingin keemasan.
Tanpa ragu, ia menebas. Bilah Fiyn meluncur cepat, mengincar leher kiri Noxis. Serangan yang dirancang untuk mengakhiri segalanya dalam satu tebasan.
Namun—
CLANG!
Tebasannya menghantam sesuatu yang tak terlihat. Sebuah kilatan merah holografik menyala tipis, hampir tak kasatmata, namun cukup untuk menahan Fiyn sepenuhnya.
Mata Kael melebar. Napasnya tercekat.
Apa ... ini?!
Noxis menunduk, dan dari balik topengnya terdengar tawa. Panjang, menggema, dingin—tawa tanpa kehidupan.
“Ahahahahaha! Ahahahhhahahahha ...! Ada-ada saja memang kelakuanmu."
Ia menoleh perlahan ke arah Kael, lensa merah matanya berkilat panas.
“Jadi, begitu caramu, Assassin? Cerdas. Cepat. Licik. Kau benar-benar mencoba menikamku di titik paling rapuh. Sungguh menghibur. Tapi, tidak segampang itu.”
“Cih ...“