Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #25

Chapter 22

Nada dingin itu terlepas begitu saja dari mulutnya, seolah penuh rasa muak. Bagi dirinya, pemandangan Kael yang bergetar, menutup telinga dengan cengkeraman keras di kepalanya sendiri, hanyalah bentuk kelemahan yang menyedihkan. Sebuah kerapuhan yang terlalu memalukan untuk ditoleransi.

Dan tepat setelah kata itu terucap, tubuh Noxis lenyap dari tempatnya—melesat begitu cepat hingga mata biasa tak akan pernah bisa mengikutinya. Gerakannya bagaikan kilatan merah yang membelah udara, lebih cepat daripada cahaya yang memantul di dinding putih ruang itu.

Dan ....

BRUAKK!!

Pukulan keras mendarat telak di perut Kael.

“Menyedihkan.“ Ujarnya.

Tubuh Kael terangkat sedikit, matanya mendelik, dan ....

BLUGH!—

Semburan darah merah gelap meledak keluar dari mulutnya, jatuh bercipratan ke lantai putih yang bersih. Suara muntah darahnya terdengar nyaring, bercampur dengan hembusan udara dari pukulan yang begitu brutal.

Tubuhnya terdorong ke belakang beberapa detik, seperti kehilangan kendali. Namun Noxis tidak membiarkan momentum itu berakhir dengan mudah. Hembusan angin keras menyusul, membanting tubuh Kael jauh ke belakang.

BOOOOMMM!!!

Kael terhempas bagai boneka, meluncur deras menuju dinding kubus merah raksasa yang menjulang tinggi. Namun sebelum ia benar-benar menabraknya—sekali lagi, kilatan merah menyalip pandangan.

Noxis sudah ada di belakangnya.

Dalam sekejap, sosok berkepala topeng paruh itu memutar tubuhnya di udara. Satu tendangan keras dari kakinya yang menghantam punggung Kael dengan hentakan mematikan.

DUARR!!

“Ghhk—!“

Tubuh Kael kembali terlempar, kali ini berlawanan arah, seperti bola yang dipantulkan dengan kekuatan berlipat ganda. Dalam hempasan itu ia sempat menggertakkan gigi, rahangnya menegang, seolah rasa sakit itu menyadarkannya, menahan rasa sakit yang hampir melumpuhkan.

Namun ... di balik itu, matanya perlahan kembali fokus.

Dengan tekad yang menggeram, Kael menekan lantai dengan kakinya yang masih bergerak refleks. Tubuhnya berputar di udara, mencari tumpuan. Kedua kakinya akhirnya menjejak permukaan lantai putih yang licin.

—SCREEEKK!

Suara gesekan keras menggores udara saat ia menyeret kedua kakinya, lalu berhenti dengan posisi setengah jongkok, tubuhnya bergetar, dan darah yang masih menetes dari bibirnya.

Ia mengangkat punggung tangannya, menyeka darah di sudut mulut.

“Dia ... benar-benar menjadikanku seperti mainan.“ Ujar Kael, napasnya berat, dada naik-turun, tapi tatapan matanya kembali menyala dengan sisa amarah.

Namun sebelum sempat ia benar-benar memahami jarak atau situasi—

SRET.

Sebuah tangan dingin menepuk pelan bahu kanannya dari belakang.

Mata Kael langsung terbelalak.

“Ah!?“

Noxis sudah ada di sana, seolah teleportasi, padahal itu hanyalah kecepatannya yang melampaui hukum. Satu tangan menepuk bahu kanannya ringan, sementara tangan lainnya dilipat ke belakang tubuh dengan angkuh.

“Apakah aku harus melanjutkannya?” Suara Noxis rendah, tenang, penuh ejekan. “Atau ... kau ingin menyerah sekarang, dan pulang bersamaku? Biarkan semua ini berakhir dengan cepat.”

Ia menunduk sedikit, suaranya merendah, seperti berbisik penuh sindiran ke telinga Kael.

“Tidak ada yang menunggumu di luar sana, Kael Vieron. Yang ada hanyalah kehampaan. Maka katakan ... untuk apa kau terus berdiri?”

Mata Kael bergetar hebat. Namun di balik keterkejutan itu, amarahnya semakin meluap. Kedua tangannya terkepal.

“Tutup mulutmu ...!!” teriaknya dengan keras, hingga akhirnya tubuhnya bergerak refleks.

Dengan ledakan emosi, Kael memutar tubuhnya secepat mungkin, mengayunkan tendangan keras ke arah leher kiri Noxis.

SWOOOSH!!

Tendangan itu nyaris mengenai sasaran. Namun dengan tenang—Noxis mengangkat tangan kanannya, telapak terbuka, lalu ....

BRAKK!

Noxis menepis kaki Kael.

Seolah menangkis serangan anak kecil.

Sorot lensa merahnya berkelip singkat. Suara dinginnya kembali terdengar, kali ini lebih rendah, datar, seolah bosan dengan perjuangan di hadapannya.

“Membosankan. Sepertinya kau hanya akan tunduk ... kalau aku menggunakan cara yang lebih brutal, ya.”

Belum sempat Kael menarik kembali kakinya, telapak tangan Noxis langsung mencengkeram pergelangan kakinya erat.

“Aku akan terus menghajarmu sampai napasmu sendiri pun tak bisa kau kendalikan.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu. Dan dengan satu gerakan kasar, ia melemparkan tubuh Kael ke samping.

WHUUUMMM!!

Lihat selengkapnya