Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #26

Chapter 23

Kilasan itu runtuh, dan Kael terseret kembali ke kenyataan.

Namun hati Kael tidak lagi sama. Bayangan Lira, tatapan terakhirnya, dan janji yang tak sempat ia genggam masih menancap dalam-dalam.

Langkah Kael goyah. Pandangannya kosong, terarah ke tanah. Seakan tubuhnya kembali berdiri di arena, tetapi jiwanya masih tertinggal di jurang bersama sosok mungil yang terhempas ke kabut.

Dan di saat itulah—bayangan hitam menyerang.

Satu ayunan keras dari Noxis meluncur ke arah pipi kirinya. Suara retakan halus terdengar ketika rahang Kael berputar oleh hantaman itu. Tubuhnya tersentak, tapi ia tidak menangkis, tidak menghindar. Pandangannya tetap menunduk, matanya suram, tatapannya dingin bagai mati rasa.

Belum sempat jatuh, Noxis memutar pinggang, menghantam pipi kanan Kael dengan kepalan lain yang lebih brutal. Kepala Kael terpental ke samping, rambutnya terayun, darah tipis menyembur dari sudut bibirnya.

“Fufufu ... sebentar lagi.” Tawa rendah Noxis mengiringi deretan serangan.

Tangan kirinya naik, menghantam dagu Kael dengan pukulan ke atas. Suara hentakan bergema ketika rahang Kael terangkat paksa, tubuhnya terangkat sedikit dari tanah seperti boneka rapuh.

Dorongan siku menghantam dada, memaksa paru-paru Kael mengeluarkan napas berat. Disusul tendangan keras di tulang rusuknya, membuat tubuhnya terlempar setengah langkah ke belakang.

Namun tetap saja—tak ada perlawanan.

Kael hanya berdiri, menerima setiap pukulan. Wajahnya pucat, ekspresinya beku, seakan rasa sakit tidak lagi penting dibandingkan luka batin yang lebih dalam.

“Lemah.” Noxis menyeringai, melayangkan lagi satu pukulan lurus ke arah perut Kael, diikuti hantaman telapak tangan ke bahu, membuat tubuh Kael terdorong miring.

Serangan ke-delapan, lutut logam Noxis menghantam lambungnya, suara dentum tulang bercampur logam terdengar jelas. Kael terbungkuk, darah memercik dari bibirnya, namun tidak ada suara erangan keluar. Hanya napas yang berat, dan pandangan kosong yang sama.

Di sela-sela hantaman itu, suara Noxis menusuk telinga, penuh racun.

“Kau pikir amarahmu yang kau sembunyikan akan menyelamatkanmu? Kau menahannya ... menguncinya dalam-dalam ... karena kau takut.” Ujung bibirnya melengkung licik. “Takut kehilangan kendali. Takut menjadi dirimu yang sebenarnya!”

Satu lagi pukulan menghantam wajah Kael, darah muncrat dari hidungnya.

“Hahaha ... sungguh ironis. Justru itulah yang membuatmu lemah.”

Noxis tidak berhenti. Satu tendangan menyapu kaki Kael, memaksanya setengah berlutut. Dari posisi itu, Noxis meraih rambut Kael, mengangkat kepalanya paksa, menatap mata yang tak lagi memancarkan cahaya perlawanan.

“Sadarlah, Kael Vieron. Dunia ini telah menyingkirkanmu sekali. Mereka membuangmu dalam es, memperlakukanmu tak lebih dari bangkai masa lalu. Kau ditinggalkan, dihapus ... bahkan darahmu sendiri tak ingin diwariskan.”

Wajah Noxis mendekat, suaranya bergetar dengan nada menghina.

“Tidakkah kau marah!? Tidakkah kau ingin ... membalas!? Tidakkah kau ingin dunia ini merasakan sakit yang sama?!!”

Kael terdiam. Tubuhnya penuh luka, bibirnya berdarah, napasnya kasar. Namun matanya tetap kosong, seperti tidak ada lagi api yang tersisa di dalamnya.

Dan saat itu—Noxis mengangkat lengannya. Pusaran celah merah darah terbuka di udara, berputar seperti rahang dimensi. Dari dalamnya, suara besi berderit dan raungan mesin yang ganas menggema.

Empat jari logam raksasa muncul, mengembang seperti rahang besi yang lapar. Tangan mekanis yang pernah dihancurkan Kael kini kembali lahir dari pusaran itu, lebih buas, lebih kejam.

“Mauler Maw ...” gumam Noxis, matanya bersinar liar.

Kemudian, ia berteriak, penuh gairah kebencian. “Lepaskan saja! Biarkan amarahmu menelanmu! Hanya dengan itu ... kau bisa selamat!”

Dengan teriakan itu, Mauler Maw menutup rahangnya. Empat jari logam itu mencengkeram tubuh Kael, memeluknya erat dari pinggang dan dada, menekan tulang-tulangnya. Kael terangkat ke udara, tubuhnya menggantung lemah, diguncang seakan ia hanyalah boneka tak bernyawa dalam genggaman monster mekanis itu.

Arena terdiam sesaat, hanya suara logam berderit yang mengisi udara—sementara Noxis menatap Kael yang tak lagi melawan, dengan tatapan penuh kemenangan dan ejekan.

Hening.

Dunia nyata seakan berhenti ketika tubuh Kael terangkat di udara oleh cengkeraman Mauler Maw. Rasa sakit yang menghantamnya bertubi-tubi lenyap, digantikan kesunyian aneh yang menelan seluruh kesadarannya.

Lalu, di dalam kegelapan jiwanya sendiri, sebuah suara bergema. Lembut, nyaris seperti bisikan yang datang dari masa lalu yang tak pernah ia sentuh lagi.

“Kael.”

Panggilan pertama itu samar, seolah berasal dari kejauhan.

“Kael ...”

Lihat selengkapnya