Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #27

Chapter 24

Tubuh Kael pelan-pelan bergerak.

Dari kegelapan yang memeluknya, ia merasakan denyut samar di pelipisnya—berat, menusuk, seperti ada palu yang diketukkan berkali-kali. Kedua matanya masih terpejam rapat, tapi dunia di sekelilingnya sudah mulai berisik.

Suara langkah kaki terdengar jelas, berat dan ringan saling bersahutan. Ada derap sepatu yang menghantam batu, ada gemeretak roda kereta kecil di atas rel, bercampur dengan dengung mesin yang sesekali tersedak seperti batuk besi tua.

Lalu ... suara manusia—suara orang-orang yang berbicara cepat, tawa kecil, obrolan samar dalam bahasa yang seolah asing namun akrab, berlapis-lapis, seakan memenuhi udara.

Kael mengernyit, tubuhnya merespons lebih dulu sebelum kesadarannya sempat kembali penuh. Telinganya berdengung, seperti setiap suara itu terlalu dekat, terlalu menusuk gendang telinga.

“Aa-ghh ...” Napasnya berat, nyaris tersedak.

Ia mengangkat sedikit kepalanya, tapi segera menekan pelipis dengan tangan gemetar.

“Berisik sekali ... suara-suara ini ... kenapa rasanya lebih sakit daripada apa yang barusan aku alami ...”

Ia tersandung keluar dari kegelapan tidurnya, membuka mata dengan enggan. Pandangan pertamanya hanya kabur: cahaya keputihan yang pecah, garis-garis bayangan yang bergerak tanpa bentuk, dunia yang masih seperti mimpi setengah jadi. Jalanan berbatu terlihat retak di bawahnya, tapi sisi-sisinya bergetar samar seakan tidak stabil. Pilar batu menjulang, namun ujungnya seperti tertutup kabut.

Kael mencoba berdiri, lututnya goyah.

Ia menahan sakit di dadanya, wajahnya menegang, bibirnya bergetar menahan ringisan. Napasnya tidak teratur, tersengal, seperti paru-parunya belum terbiasa dengan udara baru ini.

“Di mana aku ...?” suaranya parau, serak.

Ia terhuyung beberapa langkah, lalu menatap ke sekitar meski pandangannya masih buram.

“Tempat ini ... terlihat bukan ruangan putih itu lagi.” Lanjutnya. “Untuk kesekian ... aku telah di pindahkan lagi ...?“

Perlahan, kejernihan kembali ke matanya. Bayangan yang tadinya kabur mulai mengambil wujud nyata: deretan bangunan dengan lengkungan klasik, jendela berukir, dan menara gereja yang setengah runtuh, namun dipeluk kawat baja dan kabel yang merambat ke segala arah seperti akar logam.

Air mancur tua di ujung jalan memuntahkan cairan yang bukan lagi air, melainkan cairan pendingin yang berkilau samar biru kehijauan, menguarkan embun dingin di udara.

Langit di atasnya abu-abu, bercahaya retakan samar seperti cermin pecah, namun di sela-selanya burung mekanis melintas, sayapnya mengeluarkan bunyi gesekan besi. Jalanan berbatu dipenuhi rel kecil, dan suara roda kereta logam tua terdengar berderit saat melewati tikungan.

Kael berdiri kaku, kedua matanya kini terbuka lebar, sorotnya penuh keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Ini ... jangan bilang ... distrik perbatasan ... The Sanctum?” suaranya nyaris berbisik, seakan takut menyebutkan nama itu.

Tapi sebelum ia bisa mencerna lebih jauh, sesuatu menarik perhatiannya. Orang-orang.

Di sekelilingnya, jalanan tidak kosong. Ada banyak sosok yang lalu-lalang, berbicara, tertawa, membawa barang, seolah kehidupan normal tengah berjalan di kota ini. Namun anehnya, tubuh mereka bukan daging dan darah—melainkan tampak seperti cahaya hologram.

Kael terdiam.

Beberapa sosok berkilau putih lembut, transparan, wajah mereka tenang, ada hidung, telinga, bibir, namun tanpa mata, ekspresi mereka damai seperti bayangan kenangan yang tidak lagi terikat pada rasa sakit. Mereka melintas di samping Kael tanpa menoleh, seperti hanya penggalan memori yang terjebak dalam aliran waktu.

Namun ada pula sosok lain—bercahaya merah pekat, seperti bara menyala. Wujudnya serupa manusia seperti sebelumnya, tapi goyah, retak, kadang bergetar seperti bayangan yang ingin pecah. Ekspresi mereka dingin, penuh amarah, ada yang berjalan dengan bahu tegang, ada yang menggeram tanpa suara, dan beberapa menatap Kael seolah keberadaannya mengusik luka lama mereka.

Kael menelan ludah, tubuhnya menegang. Napasnya tertahan.

“... Apaan ini ... mereka ...?” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar.

Lalu, ia melangkah mundur setapak, matanya bergerak cepat dari sosok putih ke merah, berusaha memahami. “Wujud yang putih ... aku merasa mereka terlihat ... damai. Tidak lagi menyimpan apa-apa ... hanya kenangan yang tersisa. Tapi yang merah ...”

Ia berhenti, rahangnya mengeras.

“... mereka ... seperti amarah yang belum padam.”

Suara itu ia ucapkan pelan, lebih kepada dirinya sendiri, seolah sedang meraba kebenaran dari firasat yang ia rasakan. Udara di sekelilingnya terasa berat, setiap langkah sosok merah itu membawa aura tegang, seperti luka yang enggan sembuh.

Kael menggenggam erat kepalanya, mencoba mengusir rasa pening yang masih tersisa, tapi matanya tetap terkunci pada pemandangan itu. Antara kagum, bingung, dan takut, ia tidak tahu apakah harus menganggap tempat ini nyata… atau hanya cermin lain dari ingatan yang memenjarakannya.

Kael masih berdiri di tempatnya, napasnya berat, sorot matanya berputar ke segala arah. Sosok-sosok putih dan merah itu lewat begitu saja di sekelilingnya, tapi semakin lama ia perhatikan, semakin jelas rupa mereka. Mereka bukan hanya cahaya yang abstrak—mereka mengenakan pakaian, menenteng barang, bahkan rambut mereka ikut tergerai mengikuti gerakan kepala.

Lihat selengkapnya