Udara di dalam bar klasik itu semakin dipenuhi gema samar, seolah suara tawa dan denting gelas dari masa lalu menolak mati. Kael hanya duduk diam di kursi kayu yang dingin, tubuhnya condong sedikit ke depan, mata tajamnya masih menatap kosong ke meja bundar tempat kelima sosok berjubah hitam itu berkumpul.
Pria tua dengan janggut abu-abu, yang suaranya berat namun bergetar, membuka kalimat lebih pelan kali ini.
“Kalian semua tahu ... ada alasan kenapa rencana kita gagal di utara. Bukan sekadar karena Tyrak terlalu kuat. Ada satu ... di antara kita sendiri yang menyerahkan peta jalur penyusupan.”
Wanita muda di sebelahnya—wajahnya samar, tapi bibirnya tipis dan tatapannya tajam—mengetukkan jarinya ke meja.
“Kau mau bilang ... seseorang dari lingkaran ini?”
Suara ketiga, pria dewasa dengan nada sinis, tertawa pendek.
“Hah. Sudah jelas. Siapa lagi yang punya akses penuh selain dia? Hanya satu orang yang pernah berdiri setara dengan para Komandan, dan kau tahu dia siapa.”
Suasana berubah berat. Tidak ada yang berani menyebutkan nama itu, seakan terlalu kotor untuk diucapkan.
Pria tua itu menghela napas panjang, sorot matanya sayu, seolah masih menyimpan sisa hormat yang tak rela hancur.
“Dia ... dulu kita sebut sebagai pelindung. Darah keluarga Assassin sendiri. Seseorang yang seharusnya menjaga warisan para leluhur kita ...”
Wanita muda mendesah keras, menunduk, suaranya getir.
“Nyatanya ... justru dialah sendiri yang menjual kita. Menghamba pada Tyrak, menukar kehormatan dengan kekuasaan mutlak.”
Salah satu pria dewasa lain menggebrak meja.
“Zeth! Komandan Zeth! Jangan lagi bungkus dengan kata-kata manis. Dia pengkhianat, titik!”
Nama itu akhirnya pecah di udara, menusuk telinga Kael bagaikan pisau berkarat. Napasnya tertahan, jantungnya mendadak berat, dan seluruh tubuhnya menegang.
Satu pria yang lebih muda mencoba menenangkan suasana, tapi suaranya juga penuh getir.
“Percuma marah. Faktanya, tanpa dia, Tyrak takkan tahu pola kita. Semua jalan bawah tanah yang kita gali, semua jaringan yang kita rawat ... runtuh dalam semalam.”
Pria tua itu menunduk, suaranya gemetar.
“Ironis ... ia dulu melatih Kael dengan tangannya sendiri. Mengajarinya setiap gerakan, setiap bilah, setiap napas dalam duel. Dan kini ... dia orang yang paling ingin melihat Kael tersungkur.”
Hening sejenak. Suara kursi berderit terdengar keras, padahal tidak ada yang bergerak.
Kael, yang sejak tadi hanya duduk sebagai bayangan bisu, akhirnya menggenggam lututnya. Rahangnya mengeras, alisnya bergetar, dan dari tenggorokannya keluar suara pelan—nyaris seperti bisikan, tapi penuh dendam yang mendidih.
... Zeth ...
Mata Kael merapat, dan dalam gelap itu wajah pamannya muncul jelas—tatapan keras, tangan berat yang dulu menahannya dalam setiap sparring, senyum tipis yang dulu ia kira kebanggaan seorang mentor. Semua itu kini terbalik jadi wajah pengkhianat.
Lalu memori meledak: dentuman pedang saat duel, suara seruan 'lagi, Kael! lagi!' yang dulu memacu semangatnya ... kini berubah jadi gema yang memuntahkan amarah.
Kael menggeram. “Aku ingat segalanya sekarang ... aku ingat caramu menatapku. Dan akan kupastikan ... kau takkan pernah bisa lagi menyembunyikan wajahmu dari bilahku.”
Dengan segera, Kael berdiri dan melangkah cepat keluar dari pintu bar, jubahnya berkibar ringan saat udara dingin distrik perbatasan menyergap kulitnya. Karena dalam pikirannya saat ini hanya ada satu nama, satu tujuan—mencari Zeth.
Namun begitu kakinya menyentuh jalan utama, ia langsung terhenti. Kerumunan orang tiba-tiba membeludak, seolah-olah seluruh distrik hidup kembali hanya untuk menutup jalannya. Puluhan sosok holografik berlalu-lalang, langkah mereka cepat, wajah samar mereka dipenuhi kesibukan yang anehnya sinkron.
Suara riuh rendah bercampur: obrolan terburu-buru, seruan pedagang, bahkan derap langkah serentak yang membuat jalanan seperti sungai arus deras.
Kael menyipitkan mata, tubuhnya tegak namun tegang.
Apan ini? Jalan yang tadinya sepi ... kenapa sekarang jadi padat begini? Apakah sistem ingin menghalangiku?
Ia mencoba menerobos, bahunya bersenggolan dengan bahu orang-orang itu, tapi tidak ada satu pun yang menoleh padanya. Seolah ia hanyalah bayangan asing di antara arus hidup yang tidak mempedulikannya.
Pada akhirnya, di tengah kerumunan itu, Kael berhenti. Nafasnya berat, alisnya mengerut.
... Ke mana aku harus pergi? Mungkinkah dia ... benar-benar ada di sini?
Zeth ...
Dan saat pikirannya terhimpit, pandangannya menyempit pula. Jauh dari arah depan, di sela-sela lautan manusia, ada satu titik hitam yang tampak berbeda.
Sosok itu berdiri diam, tidak bergerak, menatap lurus padanya. Seorang wanita berjubah hitam polos, panjang hingga menyapu lantai. Wajahnya tertutup tudung gelap, hanya helai rambut pirang pucat yang terurai keluar, berkilau samar di bawah cahaya lampu merah yang redup.
Kael menegang. Pandangannya terkunci.
Bukan echo. Bukan juga Assassin. Siapa dia? Kenapa dia nyata ... dan sama seperti mereka yang ada di bar tadi? Kenapa hanya dia yang menatapku seperti itu?