Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #29

Chapter 26

Zeth berbalik, langkahnya berat namun penuh keyakinan, lalu berjalan pergi. Sebelum tubuhnya benar-benar lenyap dari pandangan, satu kalimat terakhir meluncur dari bibirnya, dingin namun bergetar seperti doa seorang fanatik.

”Malam kehancuran ... akan menenggelamkan dunia ini.”

Udara di gang sempit itu menelan kata-katanya, menyimpannya seperti racun yang menempel di dinding bata tua.

Denting halus claymore yang sebelumnya menancap di tanah pun ikut menghilang, meninggalkan keheningan yang menusuk. 

Sosok Zeth melebur menjadi butiran asap ungu tua, beterbangan ringan, terhembus angin dingin hingga buyar ke segala arah. Meninggalkan jejak aroma logam dan hawa berat yang tersisa.

Di sana, Kael masih berlutut. Bahunya naik-turun, napasnya pendek dan berat, paru-parunya seperti dicekik oleh hawa dingin yang semakin rapat. 

Pandangannya yang kosong menatap titik di mana pamannya tadi berdiri. Mata itu bergetar, sulit menerima kenyataan pahit yang barusan kembali dipaksakan ke hadapannya.

Namun satu kali ia mengedip, dan dalam sekejap sorot matanya berubah. Alisnya menurun, rahangnya mengeras, giginya beradu keras hingga terdengar samar.

“... Pengkhianat sepertimu ... takkan pernah kubiarkan hidup lebih lama. Jika aku kembali ... jika aku berhasil keluar dari ujian ini, aku akan mencarimu. Dan merebut kembali apa yang telah kau rampas dariku.”

Suaranya rendah, dingin, namun tajam seperti bilah yang baru diasah. Kata-kata itu bukan sekadar ancaman—melainkan janji yang ia ukir di dalam jantungnya sendiri.

Namun sebelum pikiran itu sempat terikat kuat, sebuah bunyi tipis datang dari belakangnya.

Tap.

Tap.

Langkah kaki. Ringan, tapi jelas.

Kael mengernyit, telinganya bergetar menangkap irama itu, namun pikirannya masih terjerat oleh luka emosional yang ditorehkan Zeth. Ia menghela napas, berusaha mengusir guncangan itu.

Namun suara langkah itu semakin dekat.

Dan kemudian—

Sosok itu muncul tepat di hadapannya.

Wanita berjubah hitam. Muncul tiba-tiba, seolah menembus tubuhnya sendiri.

Kael tersentak keras. Matanya membelalak lebar, tubuhnya refleks terdorong mundur setapak. Jantungnya menghantam dadanya, membakar napasnya yang terengah.

D—dia ..?! suaranya tercekat, hampir pecah.

Wanita itu berjalan melewatinya dengan tenang, tanpa suara lain selain ketukan ringan langkah kakinya di atas batu. Tudung gelap masih menutupi wajahnya, hanya rambut pirang pucat yang menjuntai keluar, berkilau samar ditimpa cahaya neon merah di atas gang. 

Wajahnya tersembunyi, tapi Kael bisa merasakan tatapan yang menusuk dari balik kegelapan itu—tatapan dingin, berat, seperti bilah yang menelanjangi isi hatinya.

Kael perlahan berdiri. Tubuhnya masih tegang, napasnya masih belum seimbang. Kata-katanya keluar terputus-putus, lebih seperti bisikan ke dirinya sendiri.

Bagaimana dia bisa muncul dari tubuhku begitu saja? Sejak kapan dia ... bersembunyi di dalam? Aku lah yang mencari dia duluan ... tapi sekarang, kenapa dia yang muncul dariku?

Mustahil ... Pikirannya menolak jawaban yang terlalu mustahil. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa cemas yang mulai merambati dadanya. Itu tidak masuk akal. Siapa sebenarnya wanita ini ...? Orang-orang yang kutemui di sini bisa kuingat wajah aslinya. Tapi keberadaannya ... terlalu asing bagiku.

Wanita itu tetap diam.

Dan pada detik berikut, tubuhnya bergerak pelan, menoleh sedikit. Pandangannya jatuh ke arah tubuh Kael masa lalu—sosok holografik yang terkapar di tanah, dada terbelah, bercahaya putih memancar dari luka yang terbuka.

Kael menelan ludah. Tatapannya mengikuti arah mata wanita itu. Tubuhnya menegang.

Dia ... menatap tubuhku? gumamnya lirih. Apakah dari awal dia memang sudah menunggu momen ini? Menunggu sampai Zeth pergi ... agar keberadaannya tidak terlihat ....

Lihat selengkapnya