Pintu besi bergeser tertutup kembali dengan bunyi drrrkkhh berat di belakangnya, memutus suara lorong.
Laki-laki itu berdiri sejenak di ambang ruangan, bahunya tegak, membiarkan matanya menyesuaikan diri pada cahaya kebiruan yang berdenyut di aula besar itu.
Berbeda dari para peneliti Tyrak yang mengenakan jas putih panjang, penampilannya langsung menandakan bahwa ia bukan bagian dari laboratorium ini. Tubuhnya dibalut mantel inspeksi berwarna abu gelap dengan garis merah menyala di sepanjang sisi, menjuntai hingga lutut.
Di bawahnya, lapisan armor hitam menyelimuti dada dan lengan, dengan sebuah emblem segi enam merah bercahaya di pusat dadanya—lambang resmi unit inspeksi dewan. Helm bervisor penuh menutupi seluruh wajahnya, kaca gelapnya memantulkan redup cahaya biru ruangan, yang hanya menyisakan garis horizontal merah yang berdenyut pelan seperti iris mekanis.
Sepatu boot logam berat menginjak lantai kaca, meninggalkan gema keras yang kontras dengan dengung mesin di sekitar.
Gerakannya tenang, namun aura dingin memancar dari sosok itu. Tak ada ekspresi, tak ada identitas, seolah helm dan seragam itu menelan habis siapa pun yang mengenakannya, menyisakan hanya fungsi: mengawasi, menilai, dan melaporkan.
Sebagai petugas inspeksi, ia sudah terbiasa dengan fasilitas Tyrak. Namun tempat ini berbeda. Ruangan itu bukan sekadar laboratorium—ia seperti altar raksasa. Setiap mesin, setiap denyut energi biru di bawah lantai kaca, seakan berdoa dalam bahasa yang tak dipahami manusia.
Di pusat aula berdiri kapsul utama, dikelilingi hologram data yang menari di udara. Di sisi lain, tabung-tabung kaca menyimpan jaringan biologis, sementara cairan perak nanite beriak perlahan dalam wadah besar, seolah menyadari kehadiran makhluk asing yang baru saja masuk.
Dan di dekat kapsul itu—sosok seorang wanita.
Ia berdiri tenang, tubuh rampingnya diselimuti jas laboratorium putih panjang, rambut coklat mudanya diikat rapi ke belakang. Cahaya neon biru menyoroti kacamata transparan tipis yang ia kenakan, menambahkan kilau dingin pada tatapan matanya.
Tangannya bergerak cepat di atas konsol hologram, menuliskan rumus dengan jari telanjang, seolah mesin itu hanya perpanjangan dari pikirannya yang cemerlang.
Wanita itu bukan sekadar ilmuwan. Semua orang di Tyrak tahu, dialah otak di balik proyek rahasia ini. Seorang jenius. Namun juga ... sosok yang menakutkan. Namanya Myra.
Laki-laki itu melangkah maju, posturnya tegak meski dadanya bergetar pelan, tanda ketegangan yang tak ia tunjukkan. Ia bukan sekadar datang untuk memantau atau melihat; ia datang membawa pesan dari atasannya—bukan instruksi rinci, tapi permintaan jelas: atasan ingin mendengar laporan langsung dari Doktor.
Suara sepatu boot-nya bergema di lantai kaca.
Myra menoleh sekilas, tatapannya dingin dan menusuk, seakan menilai segala gerak dan niatnya dalam sekejap. Laki-laki itu menunduk hormat, lalu membuka suara dengan nada berat namun terkontrol.
“Aku diutus untuk menyampaikan permintaan atasan. Ia ingin mendengar laporan langsung darimu, Doktor. Stabilitas proyek, status nanite, daya tahan jaringan ... semua itu.”
Myra tetap diam, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, hingga udara di sekitar mereka terasa menekan. Ia menghela napas pelan, menutup hologram dengan gerakan tangan, membuat cahaya biru meredup, menyisakan kapsul di belakangnya sebagai pusat perhatian.
“Suruhan, hm ...” suaranya rendah, beresonansi dingin, namun tetap jelas. “Selalu ada pesan, selalu ada mata yang mengintai altar ini. Baiklah ... aku akan menjawab.”
Ia melangkah mendekat ke kapsul, jari-jarinya menyusuri permukaan kaca berembun, seakan menyentuh sesuatu yang rapuh di dalamnya.
“Kau lihat tubuh yang tertidur ini? Ia bukan sekadar manusia yang disimpan dalam es. Ia adalah variabel. Benih yang jika dibangkitkan, dapat mengubah arah dunia. Atasanmu mungkin hanya menginginkan laporan teknis—stabilitas, status nanite, daya tahan jaringan. Tapi aku ...”
Tatapannya beralih cepat, menusuk si laki-laki itu hingga ia nyaris menelan ludah.
“... aku bekerja bukan untuk sekadar laporan. Aku sedang menulis ulang sejarah.”
Hening sejenak. Mesin di sekitar berdengung lirih, mengisi kekosongan kata.
Laki-laki itu menegakkan tubuhnya. Ia tahu ia harus berhati-hati dengan setiap kalimat yang diucapkannya.
“Aku ... hanya penyampai pesan. Tidak lebih. Tapi jika atasan mendengar kata-kata Anda, mungkin mereka tidak akan menganggap ini sekadar laboratorium biasa lagi.”
Senyum tipis terangkat di sudut bibir sang ilmuwan, samar, ambigu antara ejekan atau kepuasan.
“Huh! Biarkan mereka berpikir apa yang mereka mau. Yang terpenting adalah—ia bisa tetap tertidur. Sampai waktunya tiba. Dan tidak ada yang boleh mengganggu proses itu, termasuk ... mereka yang mengirimkanmu ke sini. Ingat itu!”
Tatapannya dingin, nada suaranya berubah lebih tajam, mengandung peringatan. Laki-laki itu menunduk dalam, menahan napas. Ia sadar betul—ia hanya utusan, sekadar perantara. Namun berada di hadapan wanita ini terasa seperti berdiri di hadapan kekuatan yang lebih besar dari sekadar otoritas Tyrak.