Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #31

Chapter 28

Tak berselang lama, Myra berbalik perlahan, tatapannya bergeser dari kapsul ke ketiga asistennya. Senyumnya memudar, berganti dengan ketegasan yang membuat ruangan seakan mengeras.

“Kalian sudah melihat semuanya. Kalian sudah tahu apa yang dipertaruhkan. Mulai hari ini, tidak ada lagi keraguan. Aku akan pastikan peran kalian jelas—dan tak ada satupun yang boleh meleset.”

Asisten perempuan muda menegakkan tubuhnya, meski jemari masih bergetar.

Myra menatapnya pertama kali.

“Kau, Elara. Kau akan tetap di pos monitoring bio-sel. Pantau setiap denyut jaringan, setiap getaran nanite yang berusaha menyerang tubuh ini. Aku ingin laporan real-time tanpa jeda. Jika ada fluktuasi sekecil apapun, bahkan sekadar detak abnormal, aku ingin kau yang pertama tahu.”

Elara menggenggam catatannya erat, lalu menunduk. “S-siap, Doktor!”

Lalu ia mengalihkan tatapan ke pria tegap yang berdiri dengan kedua tangan bersilang di dada.

“Dan kau, Dren. Kau akan bertanggung jawab atas keamanan kapsul ini. Aku tidak percaya pada penjaga Tyrak yang selalu mengawasi dari jauh. Aku butuh mata dan tangan yang bisa bergerak cepat jika ada penyusup, sabotase, atau bahkan perintah mendadak dari atasan yang ingin membuka kapsul sebelum waktunya.”

Dren mengetuk dada dengan kepalan tangannya, suaranya mantap. “Tentu saja! Tidak ada yang akan menyentuhnya tanpa melewati saya dulu. Demi kehormatanmu, Doktor.”

Senyum samar kembali muncul di wajah sang ilmuwan, tapi dinginnya tak luntur.

“Bagus. Jaga kata-katamu, Dren. Karena jika tubuh ini gagal, bukan hanya dunia yang akan runtuh—kau juga akan menjadi orang pertama yang kutuntut jawabannya.”

Pria tegap itu hanya menunduk dalam, rahangnya menegang. "Baik."

Terakhir, tatapannya jatuh pada pria berkacamata yang sejak tadi memeluk tablet data, peluh tipis tampak di dahinya.

“Dan kau, Marrec. Kau yang paling kupercaya dalam urusan angka. Energi Aetherial tidak pernah tunduk pada logika manusia, tapi setidaknya angka-angka bisa memprediksi kapan ia akan mengamuk. Tugasmu: temukan pola. Temukan batas sebelum energi itu melahap tubuh ini dari dalam.”

Marrec menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Aku akan ... menyusun ulang modelnya. Aku janji akan menemukan stabilitas yang bisa kita gunakan.”

Myra kemudian akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke kapsul. Tangannya merapat di depan dada, seolah sedang berdoa bukan pada Tuhan, melainkan pada mesin di hadapannya.

“Kalian bertiga adalah tangan dan mata altar ini. Jangan pernah lupa: kita bukan hanya ilmuwan. Kita adalah penjaga. Apa yang tidur di balik kaca ini adalah variabel terakhir dunia. Dan aku—” ia menghela napas, suaranya berubah lirih, ambigu antara doa dan ancaman “—akan pastikan ia terbangun dengan cara yang dunia tak pernah bayangkan sebelumnya.”

Keheningan kembali menutup aula. Para asisten menunduk, masing-masing terjebak dalam ketakutan dan kebanggaan aneh yang saling bertabrakan.

Utusan Tyrak yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menatap pemandangan itu, dadanya berat, seakan menyaksikan ritual sekte rahasia ketimbang sekadar laboratorium sains.

Dan dalam sekejap, ia sadar: pesan yang harus ia sampaikan pada atasan Tyrak bukan hanya laporan teknis ... tapi sebuah peringatan.

Utusan itu berdiri terpaku beberapa saat lebih lama, menatap punggung Myra dan tiga asistennya yang kini sibuk kembali pada layar dan panel kendali masing-masing. Dan keempat orang itu, termasuk sang ilmuwan, bukan lagi ilmuwan ... melainkan imam dan penjaga keyakinan yang asing baginya.

Dadanya terasa berat. Setiap tarikan napas membawa aroma metal dingin bercampur ozon, menusuk paru-parunya. Ia ingin segera berbalik, meninggalkan ruangan ini, namun kakinya seakan tertahan oleh tatapan samar tubuh di dalam kapsul.

... Benih yang bisa mengubah arah dunia, gumamnya dalam hati, mengulang kata-kata sang ilmuwan.

Tangannya mengepal. Sebagai utusan, ia hanya perantara. Tugasnya sederhana: membawa pesan ke atasannya. Tapi bagaimana mungkin ia menyampaikan semua ini tanpa mengubah artinya? Jika ia jujur, para penguasa Tyrak akan melihat proyek ini sebagai ancaman yang harus diputus segera. Namun jika ia menutupi, ia sendiri bisa dianggap berkhianat.

Keraguan menggigitnya dari dalam.

Dan pada akhirnya ia menghela napas panjang, menunduk sedikit pada punggung sang ilmuwan yang sudah tak menoleh padanya lagi, lalu berbalik menuju pintu besi. Langkahnya terdengar berat, bergema panjang di lantai kaca bercahaya.

Ketika pintu logam kembali terbuka perlahan, hawa dingin dari dalam aula ikut menyeruak keluar. Ia menatap sekali lagi ke belakang—ke arah kapsul yang berdiri di pusat ruangan, diselimuti cahaya biru pucat.

Sejenak, ia merasa yakin ... tubuh itu memang bernapas.

Dengan dada yang semakin sesak oleh beban, ia akhirnya melangkah pergi, membawa pesan yang bukan sekadar laporan, melainkan sebuah peringatan yang bahkan ia sendiri tak tahu harus disampaikan dengan kata-kata apa.

Namun begitu ia keluar, langkahnya terhenti.

Seolah ada sesuatu yang mencengkeram pergelangan kakinya, memaksa tubuhnya membeku.

Di hadapannya, kabut tipis berterbangan di udara. Awalnya samar—hanya gumpalan kecil yang seakan bocor dari dinding baja. Tapi semakin ia menatap, semakin tebal kabut itu, berputar-putar, seperti benang mimpi yang merajut wujud dari kehampaan. Dari dalam pusarannya, sosok perlahan terjelma: seorang wanita berjubah hitam.

Rambut pirang pucatnya tergerai dari balik tudung, berkilau redup ditimpa neon koridor. Dan di pelukannya—terbaring seorang pria muda, tubuhnya penuh retakan cahaya yang nyaris padam, darah kering menghitam di dadanya yang hampir terbelah.

Utusan itu membeku. Napasnya tercekat, matanya melebar di balik visor gelap. “Apa—siapa kau ...?” suaranya pecah, antara ancaman dan ketakutan.

Wanita misterius itu menatapnya tanpa ragu. Sorot mata crimson-nya menembus kaca helm, dingin, jernih, menusuk hingga ke nadinya.

“Aku datang untuk masuk. Bisakah kau menyingkir?”

Refleks, utusan itu mengangkat sidearm, pistol taktis yang berat berlapis polimer gelap dengan emblem segi-enam merah menyala di gagangnya. Senjata itu menegaskan larangan, moncongnya kaku diangkat tepat ke dada lawan.

“Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan orang asing masuk. Fasilitas ini terlarang bagi siapa pun. Bahkan aku pun hanya utusan. Kau takkan pernah bisa melewati pintu ini.”

Wanita itu tidak bergeming. Napasnya tetap teratur, langkahnya maju selangkah.

Lihat selengkapnya