Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #32

Chapter 29

Benang-benang merah itu berkilau samar, menebarkan cahaya tipis setiap kali disentuh pantulan neon. Mereka menjelujur di udara seperti jaring laba-laba halus yang siap menjerat mangsanya, mengingat setiap tarikan napas, setiap getar otot, bahkan detak jantung orang-orang di ruangan.

Elara berdiri kaku, wajahnya sudah basah air mata, bahunya berguncang ketakutan. Marrec tak berani lagi menyentuh panel, jemarinya menggantung di udara. Dren masih memegang senjata, tapi pelatuknya tak bergerak, rahangnya mengeras seolah menahan diri agar tidak membuat satu gerakan salah.

Utusan Tyrak di lantai hanya bisa menatap nanar, tubuhnya gemetar setiap kali benang melintas di dekat wajahnya.

Myra berdiri tegak, matanya tajam menatap wanita misterius itu. Namun di balik dinginnya sorot kacamata, ada kilatan frustrasi dan perhitungan yang berlari cepat. Ia tahu ... hanya satu langkah keliru, mereka semua akan terpotong tanpa ampun.

“Aku tidak tunduk karena takut,” gumam Myra dingin, suaranya datar namun tegang, “tapi karena aku tidak punya pilihan. Maka itu, kembalikan semua yang telah kau telan sebelumnya.”

Wanita misterius tidak menjawab. Tapi ia melakukannya. Ia hanya berdiri, tubuh Kael masih erat di pelukannya, tatapannya seperti pisau dingin yang siap menusuk kapan saja.

Semuanya kembali normal, kode, gerakan mesin, kembali aktif. Dan benang merah di hilangkan sementara.

Myra menghela napas dalam, lalu menoleh ke arah asistennya. “Elara.”

Asisten perempuan itu tersentak, tubuhnya gemetar. “D-doktor ...?”

“Dekatkan panel kontrol kapsul. Gunakan override kode merah. Segel cairan pendingin akan terbuka.”

Elara menelan ludah, lalu dengan langkah goyah berjalan menuju panel. Jemarinya gemetar saat menekan tombol-tombol holografis, dan suara mekanis berat terdengar memenuhi aula.

Ck-kkhhrrsshhh …

Dinding kapsul yang tadinya solid transparan mulai terbelah perlahan. Dua sisi panel bergerak ke samping, menyingkap ruang dalam yang dipenuhi cairan biru dingin. Uap putih mengepul, menetes di lantai kaca seperti kabut cair.

Di dalamnya, tubuh seorang perempuan muda tampak terapung, pucat, matanya terpejam, rambut hitam panjang tergerai lembut di dalam cairan. Tubuh itu tampak rapuh, denyut jiwanya nyaris tidak ada—seperti patung tidur yang menunggu dilupakan.

Elara menutup mulutnya, suaranya pecah. “... Dia masih bernapas ...”

Myra menajamkan suara. “Diam. Lanjutkan prosedur.”

Marrec akhirnya bergerak, meski wajahnya pucat pasi. Ia mengaktifkan lengan mekanik yang menggantung di sisi kapsul. Lengan itu berputar perlahan, mencengkeram tubuh perempuan dalam cairan, lalu mengangkatnya dengan hati-hati keluar dari ruang kapsul. Cairan biru menetes deras, mengalir di sepanjang lantai kaca, bercampur dengan kabut dingin.

Perempuan itu dibaringkan di ranjang medis otomatis di samping kapsul, wajahnya tetap pucat tak bernyawa. Elara menunduk, tak sanggup menatap lebih lama.

Myra berdiri tegak, tangannya mengepal, suara rendahnya terdengar berat dan penuh racun yang ditelan paksa.

“Sekarang ... kapsulnya kosong. Puaskah kau?”

Wanita misterius melangkah maju, kabut mengikuti tiap langkahnya. Benang merah samar bergetar di udara, seakan menegaskan bahwa ia masih bisa menguasai setiap inci ruangan.

Ia menunduk pada tubuh Kael yang ada di pelukannya, lalu menatap Myra lurus tanpa berkedip.

“Belum. Proses ini belum selesai sampai ia menggantikannya.”

Myra mengatupkan rahang. Jemarinya bergetar, namun ia menoleh ke Dren. “Ambil tubuhnya. Masukkan ke dalam kapsul.”

Dren terdiam. Matanya bergulir dari Myra ke wanita misterius, lalu ke tubuh Kael. Urat di pelipisnya menegang, pelatuk senjatanya masih terjaga, namun satu tarikan napas panjang membuatnya akhirnya menurunkan pistol. Dengan langkah berat, ia mendekat.

Wanita misterius tidak melawan. Ia menurunkan tubuh Kael perlahan, menyerahkannya ke lengan kuat Dren. Namun bahkan saat itu, benang merah di udara bergetar tipis, mengingatkan semua orang bahwa setiap perlawanan akan berakhir dengan potongan darah.

Dren mengangkat Kael dengan hati-hati, seakan menggendong benda rapuh yang bisa pecah kapan saja. Ia melangkah menuju kapsul yang terbuka, dan dengan tarikan mekanis, lengan otomatis membantu menopang tubuh itu.

Cshhrrkk—

Cairan pendingin baru dialirkan, membanjiri ruang kapsul. Kabut dingin mengalir deras, membalut tubuh Kael yang kini berbaring di dalamnya. Retakan cahaya di dadanya perlahan meredup, tertelan oleh biru cairan yang menyelubunginya.

Elara terisak kecil, menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Marrec menunduk, seakan takut menatap pemandangan itu lebih lama.

Panel kapsul berderak kembali, dua sisi transparan perlahan menutup, mengurung tubuh Kael di dalamnya. Uap putih mengepul, menari-nari bagai asap altar yang baru menerima persembahan.

Ketika suara segel terakhir terkunci, ruangan tenggelam dalam hening.

Wanita misterius menatap lekat ke arah kapsul, napasnya perlahan namun berat, seakan baru selesai mengangkat beban yang sudah terlalu lama ia bawa.

Myra sendiri berdiri kaku. Matanya tajam, tapi wajahnya kelam—percampuran antara kebencian, ketakutan, dan kesadaran pahit bahwa ia sudah kalah.

Hanya suara mesin pendingin yang bergetar pelan, menjadi latar bagi ketegangan yang belum mereda.

Lalu, suara wanita misterius kembali memecah keheningan. Ia tidak lagi menatap kapsul, melainkan menoleh lurus ke arah Myra.

“Aku ingin tahu satu hal.”

Myra mengangkat dagu, menahan diri agar tidak menunjukkan kelemahan.

“Apa yang akan terjadi,” wanita itu bertanya dengan dingin, “jika ia terbangun di dunia baru nanti? Apa efeknya?”

Lihat selengkapnya