Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #33

Chapter 30

Kael berdiri kaku di ambang pintu yang hancur.

Udara dingin menusuk kulitnya dengan bau ozon bercampur besi yang menyengat seperti darah segar. Jubahnya yang basah oleh keringat tipis bergetar oleh napasnya sendiri.

Giginya mengatup, menggertak keras menahan amarah yang tak punya alamat.

“Kenapa ...!? Apa alasannya!?” suaranya pecah, lebih seperti desis yang tertahan di tenggorokan ketimbang pertanyaan yang benar-benar berharap jawaban.

Seolah kebenaran baru saja dilepas dari genggaman, Kael hanya bisa berdiri di situ, dadanya naik turun, paru-parunya menolak udara yang terkontaminasi rasa bersalah.

Lalu ia mengangkat wajahnya pelan. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski hawa ruangan menusuk tulang.

Sorot matanya gemetar saat memandang potongan tubuh yang berserakan di lantai kaca bercahaya: kepala Marrec tergeletak tanpa ekspresi, tubuh Elara terbelah rapi seperti patung retak, sosok Dren terbaring miring dengan mata yang masih membeku oleh amarah yang tak sempat dilepaskan.

Namun semua itu tidak tampak nyata. Di mata Kael, mereka hanya menyerupai bayangan hologram—kehilangan nama, kehilangan sejarah; bukti keberadaan yang meninggalkan trauma tanpa suara. Catatan yang tak pernah ia kenali, bahkan tak pernah ia ingat.

Kael menggertakkan giginya semakin kuat, menahan rasa kecewa yang menekan dadanya. Kakinya berat, seperti tertanam di lantai, tak sanggup maju, tak sanggup mundur.

“Dia menyelamatkanku ... dengan membunuh mereka? Mengapa ... kau melakukannya sekejam ini?” suaranya hampir pecah.

Tangannya mengepal. “Aku ... tak bisa mengetahuinya. Di mana kebenaran yang di bicarakan itu?” Kael menundukkan kepalanya lebih dalam, suara itu keluar pelan, pecah di udara dingin yang menggantung seperti kabut.

Kabut samar itu masih terasa di dalam aula—seperti jejak napas hantu yang baru saja lewat, menggulung perlahan seperti mimpi yang belum selesai. Kalimat terakhir wanita berjubah hitam tadi bergema di telinganya lebih keras dari sirene mana pun:

Akan ada banyak orang yang selalu menunggumu ...

Kael mengulang pelan, hampir seperti mantra. “Akan ada banyak orang yang selalu menunggumu ...”

Lalu ia mendongak, wajahnya tegang. “Kau terlihat nyata, tapi jiwa, pikiran, bahkan hatiku tidak bisa mengingatmu ...” bisiknya lirih, nyaris tanpa sadar.

Kael menarik napas panjang, namun paru-parunya seolah menolak. “Sulit ... sulit kupecahkan. Namun ...” Kael menengadah, suaranya pecah sambil menatap kapsul yang berdiri di tengah aula. “Tidak ada jalan terakhir dalam kamusku. Semuanya pasti akan kucari demi kebenaran yang dunia coba sembunyikan dariku.”

Sepatunya menginjak genangan cairan pendingin bercampur darah; suara lengket itu membuat dadanya semakin sesak. Ia melewati salah satu tubuh tapi buru-buru memalingkan wajah ketika matanya menangkap tatapan kosong yang seakan menuntutnya dengan pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

“Aku tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi di sini ... percakapan mereka, siapa mereka ... tapi setidaknya ...” desisnya dengan nada bergetar, memaksa agar jiwanya tak lumpuh. “Aku tahu ini adalah tempatnya.”

Ia menatap sekeliling, dinding logam yang memantulkan cahaya biru pucat, pipa-pipa bercahaya seperti urat nadi mesin. “Tempat di mana aku disimpan ... laboratorium yang sebelumnya ingin aku hancurkan. Fasilitas Tyrak. Dia memberikanku kesempatan dengan menggunakan kekuasaan kotor mereka.”

Pandangan Kael terpaku pada kapsul biru di tengah aula. Uap putihnya masih mengepul, panel transparan itu sudah terkunci rapat. Di balik cairan dingin, ia melihat tubuh seorang pria—tubuhnya sendiri—terbaring diam. Wajah itu mirip, tapi aneh; seperti bercermin pada bayangan yang tidak sepenuhnya miliknya.

“Ironis,” ia menggeram lirih. “Selalu seperti ini. Menjadikanku seperti mainan yang bisa diatur sesuka hati mereka.”

Ia menarik napas panjang, suaranya turun menjadi hampir bisikan. “Berterima kasih atau tidak, itu sudah tidak penting lagi. Kenapa ...? Karena kebenaran itu masih tersembunyi di dalamnya.”

Kael melangkah lebih dekat. Satu tangannya menempel di kaca kapsul yang dingin, jemarinya gemetar seolah menyentuh arwahnya sendiri. Tatapannya mencari-cari jawaban pada wajah yang sama sekali tidak menoleh.

“Kalau ini benar aku yang ada di masa lalu ... maka sekaranglah waktunya kau kembali.” Suaranya mulai mengeras, meski nadanya masih pecah. “Bangkit bersama. Menuju dunia baru. Menyelam ke dalam kekacauan, kegelapan, bahkan kemustahilan untuk mencari kebenaran ... dan kemenangan.”

Namun hening menjawabnya. Uap putih menempel di kaca, membuat bayangan di dalam terlihat seperti sosok yang perlahan larut ke dalam mimpi.

Kael memejamkan mata sejenak, giginya terkatup rapat. Tangannya menekan keras permukaan kapsul, seolah mencoba menyerap sesuatu yang ada di dalamnya—dirinya di masa lalu.

“Setiap memori, kenangan, penderitaan, amarah, kehilangan ... kembalilah padaku.” Bibirnya bergetar, matanya terbuka lebar. “Semua yang ada di dalam dirimu, hiduplah kembali bersamaku. Maka aku katakan, kenyataan ini berlaku. Dan berakhir di sini.”

Lihat selengkapnya