Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #34

Chapter 31

Bayangan Kael tersenyum, dingin dan lambat, seolah waktu di sekitarnya hanya memperlambat langkah napasnya sendiri.

“Bagus. Mari kita mulai permainannya.”

Kalimat itu mengambang sesaat—lalu, tanpa tergesa, bayangan Kael mundur dengan gerakan yang anggun namun mematikan. Lompatan akrobatiknya menanggalkan jarak; dalam hitungan napas, ia sudah melompat mundur, menempatkan dirinya tidak lebih dari seratus meter dari tubuh Kael yang tak bergerak. Seluruh gerakannya seakan olah raga yang memuluskan ancaman: tenang, terukur, dan meremehkan.

Kael mengedip pelan, menenangkan setiap pikiran yang mencoba menghasutnya ke dalam kebencian. Ia menegakkan wajah, menarik napas sekilas, lalu memiringkan sudut bibirnya seperti sopan santun yang bernada ejekan.

“Ya, maaf karena telah membuatmu menunggu lama,” suaranya datar—tapi ada kilau tajam di balik kata-kata itu, seperti pedang tipis yang diasah pada eratnya keyakinan.

Bayangan Kael mendengus, masih menyeringai. Ekspresinya tak pernah menyiratkan takut; ia menampakkan satu rona puas, seperti penonton yang sudah tahu akhir sandiwara.

“Sebagai gantinya ... aku akan mengakhiri kisahmu di sini. Cepat, dan licik.”

Kael mengangkat alis, tetapi nada balasannya tenang—bukan karena gentar, melainkan karena takutnya kini dialihkan; ia ingin menakutkan balik ketakutan itu.

“Tentu saja. Aku juga tidak mau berlama-lama di tempat ini. Aku penasaran dengan dunia baru itu. Aku ingin memiliki teman ... atau seorang kekasih yang bisa menerimaku sebagai seorang pembunuh.”

Bayangan Kael menatapnya sinis, menyipitkan mata kanannya sampai iris ungunya seperti bara yang mengintip dari celah gelap. Suaranya berputar lembut penuh ejekan.

“Dunia baru? Memiliki teman, bahkan kekasih? Kau masih mengharapkannya? Sudahlah—kalau pun kau berhasil, kau akan tetap menjadi boneka mainan di hadapan mereka.”

Kael mendengus kecil, nada balasnya melecut ringan, tengil yang baru pulih kembali. “Ucapanmu itu—apakah tidak ada topik lain selain merendahkanku? Dasar, kau kekurangan bahan. Selalu saja menyebutku boneka, seakan kau tak pernah bercermin pada dirimu sendiri.”

Bayangan Kael menegakkan tubuhnya, sejenak menampakkan wibawa yang ingin menutupi kegusarannya. Pandangannya tetap datar, suaranya datar tapi berlapis provokasi.

“Untuk apa kau bicara begitu? Kepercayaan diri tidak masalah, asal ada buktinya. Kalau kau cuma bisa bicara tanpa aksi, lebih baik mundur saja.”

Kael mengepalkan tangan, lalu melepaskannya dengan sedikit gerak lemah—sebuah permainan jeda yang sengaja dibuatnya.

“Ah, ya, ya—kau benar, diriku. Memang itu yang ingin aku lakukan sekarang.” Nada itu seolah menertawakan sendiri pernyataannya.

Bayangan Kael berancang-ancang. Ototnya menegang, gerakan seluruh tubuhnya menyiapkan eksplosinya—sebuah isyarat: ia siap menyerang kapan saja.

“Kalau begitu, aku akan mempercepatnya.”

Kael menggeleng, menutup matanya sebentar. Ketika ia membuka lagi, satu telunjuk tangan kanannya terangkat, menunjuk ke udara seperti memberi aba-aba halus.

“Tidak, tidak bisa seperti itu. Bagaimana kalau gini saja ... " kalimatnya berhenti sejenak, tapi ia segera melanjutkannya. ”Aku punya satu ide. Tapi mungkin kau tak akan menyukainya.”

Bayangan Kael mendelik, terangkat sedikit—penasaran sekaligus waswas. “Peraturan?”

Telunjuk Kael turun, ia mengangguk pelan. Suaranya ringan, penuh kepastian.

“Benar. Tampaknya kau sudah mengerti duluan, ya. Baguslah.”

Bayangan Kael tersenyum, nada suaranya berubah menjadi tantangan yang manis. “Peraturan agar terlihat siapa yang bisa lebih baik, dan layak keluar ya? Baiklah.”

Kael membalas senyumannya, nadanya jelas. "Ya, sebelum kita memulainya—aku ingin membuat permainan ini lebih menarik untuk mereka yang sedang mengawasi kita. 3 peraturan pembuktian tentang siapa yang lebih pantas, siapa yang lebih unggul, dan menjadi yang nyata di antara kita. Setuju?”

Tubuh Bayangan Kael tampak rileks, senyum di bibirnya menipis menjadi ekspresi puas. Ada sesuatu yang memunculkan kegembiraan di nadanya, perasaan bahwa sandiwara ini akhirnya akan membuahkan puncak yang diinginkan.

Kael mengangguk, lalu menjelaskan aturan dengan nada tenang namun gamblang—seakan menyusun skenario pertandingan. “Aku melihatnya ... ekspresimu memberikan satu jawaban yang bisa aku mengerti.”

Kael mengangkat satu telunjuk kirinya ke atas. ”Untuk peraturan yang pertama: pertarungan dimulai dengan tangan kosong.” Jari tengah terangkat. ”Yang kedua: dilanjutkan dengan penggunaan senjata.” Jari manis terangkat. ”Dan yang terakhir: bebas.”

Bayangan Kael mengerutkan kening, ragu pada ketentuan ketiga. “Pertarungan bebas?”

“Ya,” Kael mengulang. “Kau boleh pakai apa saja. Tidak ada larangan. Sesuai keinginanmu—cepat dan licik, atau apapun yang kau suka.”

Senyum Bayangan Kael melebar, namun ada kilasan kekhawatiran tipis di matanya; ia tahu aturan itu bisa menghapus beberapa keunggulannya. “Apa kau bercanda? Itu sangat tak menguntungkanmu.”

Kael malah menampilkan senyum tipis penuh percaya diri, hampir seperti anak yang menantang guru. “Tak masalah. Selama aku masih lebih hebat darimu, dan lebih memahami tentang siapa diriku yang sebenarnya. Aku pasti bisa bertahan.”

Senyum itu bertahan—bukan sok, melainkan bahaya yang sudah siap meledak. Di permukaan air di antara mereka, riak kecil mulai menyusun pola seperti tepuk tangan yang pelan dan merayap. Limbus Reveria beriak, langitnya menunduk sedikit, menunggu gerak pertama.

Di antara bayang-bayang dan pantulan, dua Kael itu—satu nyata, satu cerminan iblis—mengunci janji tak terucap: bukan hanya soal menang atau kalah, tapi tentang siapa yang akan menulis ulang kata 'aku' untuk masa depan mereka.

Pertarungan akan dimulai bukan hanya dengan tangan, tapi juga dengan alasan, ingatan, dan setiap luka yang membuat salah satu dari mereka layak disebut: yang benar-benar ada.

Lihat selengkapnya