Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #35

Chapter 32

Benturan demi benturan beradu, tapi perlahan Kael asli mulai kehilangan tempo. Bayangan Kael membaca setiap celah, setiap detik keterlambatan.

Satu pukulan menghantam bibir Kael, darah segar menyembur. Tinju lain mendarat di pipi, kepalanya terpelintir ke samping. Tumbukan keras menghantam perut, dadanya, bahunya, bahkan dagu yang terangkat terpaksa menerima hantaman kejam.

Lalu―

SMASHK!!

Pukulan brutal tepat di ulu hati membuat tubuh Kael melengkung ke belakang. Mulutnya terbuka, darah memancar deras dari tenggorokannya, tumpah ke genangan hitam.

Belum sempat ia jatuh, Bayangan Kael sudah melesat. Dalam sekejap, ia muncul di belakang.

DUAGHH!!

Sikunya menghantam punggung Kael dengan tenaga penuh, membuat tulang belakangnya terasa bengkok seolah dipatahkan. Tubuh Kael terhempas ke depan, seperti boneka yang tak berdaya.

Namun Bayangan Kael tidak memberi kesempatan. Ia menghilang, lalu muncul tepat di depan, menyambar tubuh Kael.

Tubuh Kael dibanting ke air, cipratan hitam meledak ke segala arah.

BRAAKKK!!

Lagi.

BRAAKKK!!

Tubuh Kael ditarik dan dibanting ke belakang. Air meledak sekali lagi, riaknya menjulang tinggi seperti gelombang pasang.

Dan sekali lagi.

BRAAAKKK!!

Tubuh Kael dipukulkan ke permukaan air untuk ketiga kalinya, hingga air itu terasa seperti kaca yang retak, pecah dan meledak.

Ketika Bayangan Kael melepaskannya, tubuh Kael tetap berdiri. Bukan karena kekuatan dirinya sendiri, tapi karena dilempar dengan cara licik. Tubuhnya limbung, kepalanya terkulai, mata putih kosong seperti orang kehilangan kesadaran penuh, namun tetap tegak—dipaksa oleh serangan lawan.

Bayangan Kael berjalan pelan, suaranya dingin, penuh kepastian. “Hhh ... Lihat dirimu. Boneka yang bahkan tak bisa memilih jatuh dengan benar.”

Ia mengangkat tinjunya lagi.

DUAGHH!!

DUAGHH!!

Serangan demi serangan menghantam wajah Kael. Darah muncrat, cipratan merah bercampur dengan riak air hitam.

Lalu, satu pukulan terakhir—pukulan mengangkat dagu.

DOOOOMMM!!!

Dagu Kael terpukul ke atas, tubuhnya terhempas, terlempar ke langit kosmik yang mengguncang.

Namun sebelum ia sempat jatuh—Bayangan Kael sudah ada di atasnya. Kedua tangannya terkepal, diangkat tinggi, lalu dihantamkan serentak ke tubuh Kael.

DUUUARRRRR!!!

Tubuh Kael dihantam keras ke bawah, menghantam permukaan air dengan ledakan maha dahsyat, menciptakan kawah air hitam yang menggelegar.

Air belum sempat tenang—Bayangan Kael sudah melesat lagi dari atas langit, kaki kanannya terjulur, menendang tubuh Kael yang masih terhempas ke bawah.

BOOOOMMM!!!

DUARRRRR!!!

Ledakan kedua mengguncang lebih dahsyat. Air terbelah, meledak ke segala arah, udara bergetar, bahkan langit putih dan merah di atas terasa bergetar seperti akan runtuh.

Di tengah kobaran aura emas dan merah yang saling bertubrukan, Kael asli kini tampak benar-benar tak berdaya, tubuhnya remuk. Dan untuk pertama kalinya, Bayangan Kael berdiri tegak di atasnya, tepat dengan satu telapak kaki kanannya yang di atas dada Kael asli sambil menatap ke bawah dengan mata ungunya yang menyala, penuh keyakinan dingin—seolah kemenangan sudah ada di tangannya.

Wajahnya puas, senyum bengis terukir jelas—kemenangan seolah sudah mutlak.

”Sudah berakhir. Aku menang, poin aku satu dan kau n―”

Kalimatnya terpotong, matanya menangkap sesuatu.

Jari-jari tangan kanan Kael bergerak. Hanya sedikit, hampir tak terlihat ... namun cukup untuk membelah keheningan.

“... Tch.”

Bayangan Kael mengernyit, tujuh langkah kecil ia mundur, ekspresinya berubah. Ada sesuatu yang tidak beres.

Namun ekspresinya berubah lagi begitu cepat, kini ia tahu bahwa Kael yang ada di hadapannya adalah Kael yang tidak seharusnya selalu ia remehkan. ”Hmm. Boleh juga ... aku suka pertarungan yang lama.”

Tubuh Kael asli yang semula terkulai, kini perlahan menegakkan diri. Gerakannya tidak terburu-buru, tapi penuh keangkuhan. Darah masih menetes dari bibirnya, namun wajahnya dingin, tak menampilkan rasa sakit sedikit pun.

Lalu—

WHUUUMMMM!!!

Aura emas tua yang semula kecil, kini meledak liar bagai api yang melingkar. Mengamuk. Menyebar ke segala arah, riak air hitam di bawah mereka pecah dan bergulung seperti ombak. Kilatan petir emas berputar di sekeliling tubuh Kael, menyambar udara, menghantam permukaan air hingga mengeluarkan suara gemuruh tiada henti.

Rambut Kael berkibar liar dalam badai energi. Matanya putih sepenuhnya, dingin, seakan menatap dunia dari balik tabir lain. Ekspresinya bukan lagi manusia biasa—melainkan sesuatu yang melampaui batas.

Suara Kael tenang, kalem, namun tajam bagai pedang. “Tidak semudah itu untuk merebut poin dariku. Nah, sekarang ... giliranku.”

Lihat selengkapnya