Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #36

Chapter 33

Bayangan Kael tidak memberi ruang sedikit pun.

Ia melangkah maju, sabitnya berputar melingkar, menciptakan badai merah yang menggulung udara di sekitarnya—liar, pekat, nyaris menelan Kael sepenuhnya. Setiap tebasan jatuh brutal, tanpa ragu, namun sarat bobot, seakan bukan sekadar memotong ruang, melainkan hendak membelah dimensi itu sendiri.

CKLINGG! CLANGG! CKLINGG!

Kael menangkis.

Tubuhnya bergeser setengah langkah—ke kiri, ke kanan—kakinya menghantam permukaan air untuk menjaga keseimbangan. Pedangnya bergetar hebat setiap kali menerima hantaman.

Sesekali ia mencoba membalikkan keadaan dengan tusukan lurus, cepat dan presisi, namun Bayangan Kael selalu membelokkannya dengan tarikan sabit yang bengis.

Satu ayunan mendatar menghantamnya.

Tubuh Kael terhempas ke belakang, melayang beberapa meter di udara, nyaris terjengkang. Namun alih-alih panik, Kael memutar tubuhnya sekali di udara—kaki menjejak kekosongan—mengubah momentum jatuh menjadi sebuah lompatan berputar yang bersih.

Dan pada saat itulah ...

Astra di tangannya berpendar singkat, lalu lenyap dalam semburat cahaya.

Ketika putaran tubuhnya selesai, kedua tangannya telah menggenggam Astron—sepasang handgun putih dengan inti cahaya merah yang berdenyut dan kilat yang menyambar di sepanjang larasnya.

Lalu—

BANG!!

Satu tembakan dilepaskan. Cepat. Lurus.

Pelurunya seolah telah menembus udara bahkan sebelum suara letusannya sempat menyusul.

Bayangan Kael tak sempat mengangkat sabit.

Peluru itu menghantam dada kirinya—menembus lurus, meninggalkan lubang bersinar merah di tengah tubuh merah darahnya.

Tubuh itu terhuyung sesaat.

Bayangan Kael menunduk, menatap lubang di dadanya ... lalu tertawa rendah. Senyum bengis perlahan mengembang, bukan karena rasa sakit, melainkan keterkejutan yang bercampur kekaguman.

“Ahhh ... aku lupa,” gumamnya pelan, suaranya dingin, bergetar tipis.

“Kau masih punya mainan lain selain pedang berkaratmu itu, ya. Dan sekarang ... ada dua. Merepotkan.” Ia mengangkat wajahnya. “Mereka telah kembali ke kondisi sempurna sebagai senjata buatanmu.”

Kael menurunkan salah satu Astron.

Namun mata merah tirusnya tetap menyala penuh keyakinan. Senyum tengil itu muncul kembali, samar namun tegas.

“Ya,” jawabnya tenang. “Kalau aku hanya mengandalkan satu bilah, aku tidak akan bisa menyebut diriku Kael.”

Tangan kanannya masih terangkat, mengarah lurus ke Bayangan Kael yang terdiam.

“Mau dilanjutkan?” Ia berhenti sejenak. “Atau—”

“Tentu saja!” potong Bayangan Kael, tertawa bahagia.

Tanpa ragu, Kael mengangkat kedua Astron.

Pelatuknya ditarik berkali-kali.

DAR! DAR! DAR!

Peluru merah-keperakan menyambar udara—beruntun, deras, seperti hujan cahaya yang jatuh tanpa ampun. Total tiga puluh tiga tembakan dilepaskan hanya dalam satu tarikan napas.

Bayangan Kael menyeringai makin lebar.

Matanya menyala merah. Sabit Dregolauth menari di tangannya.

CLINGG! CLANG! SWIISHH!

Bilah melengkung itu berputar cepat, menepis setiap peluru—ke kiri, ke kanan, ke atas, bahkan dari sudut yang mustahil. Setiap benturan memercikkan kilatan merah, membuat peluru-peluru itu meledak bagai kembang api di udara.

Namun ia tidak mundur.

Sebaliknya, Bayangan Kael terus melangkah maju. Mantap. Tak tergoyahkan. Seolah hujan tembakan itu hanyalah irama pengiring langkahnya.

Kael menghentikan gerakannya.

Ia menatap tajam—lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum penuh keyakinan.

Dan pada saat yang sama, ia melemparkan kedua Astron ke udara. Dua handgun itu melayang, memantulkan cahaya kosmik ... lalu lenyap begitu saja.

Kael menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Sekejap kemudian, cahaya keemasan tua menyala di genggamannya.

Fiyn.

Sepasang dagger kembar—saudara Astra—yang kini telah disempurnakan sepenuhnya. Bukan lagi satu kesatuan setengah daya, melainkan dual sejati, selaras seperti Astron.

Kael mengangkatnya.

Kedua bilah bersilang di depan wajahnya. Rambutnya terangkat oleh aura yang menyala, matanya berkilat dingin.

“Sekarang,” ucapnya pelan, tegas, “kita coba dengan cara lain. Datanglah padaku.”

Tanpa aba-aba, Kael melesat.

Bayangan Kael menyambutnya, sabit berputar mengiris udara.

“Ahhahahahah ...!” Tawa bengis itu menggema, menyatu dengan setiap benturan.

CKLANGGG!!!

Fiyn beradu dengan Dregolauth.

Percikan emas dan merah menyembur, riak air terangkat ke langit.

Dalam sekejap, ronde baru dimulai—duel jarak dekat.

Fiyn kembar melawan sabit raksasa.

Benturan pertama hanyalah permulaan.

Kael merendahkan tubuhnya.

Fiyn kiri menusuk lurus, sementara tangan kanannya menyapu miring ke arah pinggang Bayangan Kael. Gerakannya cepat, bertubi-tubi—setiap tusukan diikuti tebasan kecil, membangun tekanan tanpa jeda.

Dregolauth berputar.

Menepis tusukan kiri.

Lalu menghantam keras tebasan kanan.

TINGGG!

Logam menjerit.

Percikan emas dan merah darah menyembur.

Kael tak berhenti.

Ia berputar setengah lingkaran, Fiyn berkilau menusuk ke arah leher. Namun Bayangan Kael memiringkan sabitnya—gagang menangkis tusukan itu dengan presisi—lalu mengayunkan tebasan melingkar ke bawah, mengincar kaki Kael.

SWIISSHH!!

Air terbelah. Riak besar menyebar.

Lihat selengkapnya