Keheningan turun sesaat setelah gema kata-kata Kael memudar. Langit Limbus Reveria terasa berat; dua semesta di atas mereka membeku, putih dan merah bagai napas yang tertahan.
Bayangan Kael tidak langsung bicara. Wajahnya menegang—lalu, perlahan, menyeringai. Tapi senyum itu bukan lagi tanda kepercayaan diri, melainkan sesuatu yang lebih rapuh ... lebih takut.
“Keparat ... kau ... kau!”
Suara itu bergetar, lalu berubah menjadi raungan seratus iblis yang tumpang tindih.
“Berani-beraninya kau berbicara seperti itu padaku! Aku—AKULAH YANG SEJATI! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANNYA!!”
Ia menunduk; kedua tangannya meraih kepala, mencengkeram seolah ingin merobek dirinya sendiri.
Aura merah darah keunguan menyembur liar dari tubuhnya, membumbung tinggi menembus langit semesta merah di atasnya. Air, udara—semuanya bergetar, melengkung oleh tekanan yang ia keluarkan.
“KKYAHHAHAHAAHAAAAAAAAAA!!”
Bayangan Kael menjerit; suara tertawanya berbaur dengan amarah yang menggema dalam ribuan gema tak manusiawi.
Langit memerah. Genangan air hitam di bawah mereka mendidih.
Kael hanya berdiri diam. Namun tak lama setelahnya, pandangannya berubah—kedua alisnya menurun tajam. Ada sesuatu yang tidak beres dengan apa yang sedang dilihatnya.
Tubuhnya bergeser perlahan ke belakang; langkah pertamanya menimbulkan riak kecil, lalu ia melompat jauh—sekitar seratus meter—untuk menjaga jarak dengan bayangan Kael.
Darah dari bahu kiri Kael masih menetes perlahan, tiap tetes melambung sebentar sebelum jatuh ke genangan hitam, membentuk riak yang bergelombang lambat, seperti waktu yang ikut melambat di sekelilingnya.
Kael menekuk lutut, tubuhnya condong sedikit ke depan. Tangan kanannya tetap menggenggam pedang Astra; cahaya keemasan dari bilahnya berputar pelan, mengikuti ritme detak jantungnya.
Bahu kirinya yang berdarah tak bisa ditahan secara fisik—tak ada yang bisa menahan darah itu. Tetes-tetes darah yang jatuh selalu membeku sejenak di udara, berkilau di bawah cahaya auranya, sebelum perlahan menetes ke genangan.
Namun setiap tarikan napas Kael menggetarkan aura di sekelilingnya; arus keemasan mulai merambat dari punggu telapak tangan kanannya ke bahu kirinya, menahan aliran darah dengan sentuhan energi yang hampir tak terlihat—mengisi setiap celah luka dengan resonansi jiwanya.
Aku tahu mungkin ini berisiko. Tapi ini ... satu-satunya cara yang bisa kulakukan sekarang.
Jika aku tak bisa menutup luka ini dengan kekuatan tubuh, maka aku harus menahannya dengan kekuatan dari Abyssal Seal ini.
Lima belas menit ... itu cukup. Cukup untuk menahan hidup ini sampai segalanya selesai.
Napas Kael keluar berat, seakan setiap hembusan menyalurkan tekadnya ke dalam Abyssal Seal yang menahan luka. Meski luka masih terbuka, tubuhnya tetap berdiri—tegak oleh tekad, bukan kekuatan fisik semata.
Sampai kapan pun. Aku tidak akan menyerah. Batin Kael bergema—dingin, namun penuh keyakinan.
Perlahan, Kael meluruskan lututnya lagi. Genangan hitam di bawahnya beriak seiring cahaya energi yang memantul, menciptakan pola-pola abstrak di permukaan air.
Matanya tetap menatap siluet iblis itu di kejauhan; pupil merahnya membara, menembus aura kegelapan yang memutar liar di udara bayangan Kael.
Suara tenangnya memecah hiruk-pikuk energi di sekelilingnya, menegaskan bahwa meski tubuhnya terluka, tekadnya tetap utuh.
“Sudah cukup. Kalau kau masih berpikir semua ini akan menakutiku, berarti kau masih belum benar-benar mengenalku. Aku pernah mati sekali—bahkan kematian pun menolak tubuhku kembali. Aku berdiri di sini bukan untuk menyerah pada ketidakmampuanku, tapi untuk menulis ulang kisah yang mereka tinggalkan padaku. Aku di sini… karena aku berhak melukis ulang takdirku sendiri.”
Cahaya dari Astra terus beresonansi dengan setiap denyut Abyssl Seal-nya. Partikel energi kecil berterbangan di udara, berputar mengelilingi luka, memvisualisasikan tenaga hidup yang menahan pendarahan sementara. Darah di bahu kirinya terus menetes, tapi aura dan tekadnya membuat setiap tetes darah seolah dikendalikan oleh kehendaknya sendiri.
Aura itu menegaskan satu hal;' Kael Vieron tidak akan jatuh hari ini.'
Tak peduli seberapa dalam luka yang ia derita. Ia akan terus ada, dan tetap berdiri menjadi dirinya yang sejati.
Bayangan Kael berhenti tertawa. Matanya menyala seperti bara hidup; pupilnya memanjang bagai celah retakan neraka. Aura merah darahnya semakin kental, berputar di sekitar tubuhnya hingga membentuk badai pekat.
“Heh ... seharusnya sedari awal aku tidak menerimanya. Tapi baiklah, kita sudahi semua omong kosong di sini. Tak usah menunggu lama, karena sebentar lagi ....”
Seketika—
Langit kosmik retak—secara harfiah. Celah dimensi terbuka di atas kepala Bayangan Kael, menganga bagai luka di angkasa.
“Kesaksikan perang terakhir—akan membuatmu tahu artinya keputusasaan.”
Dari sana, ribuan tangan hitam menetes keluar, jatuh ke genangan air yang kini beriak seperti lautan tinta.
Dari riak itu, muncul wujud-wujud manusia—prajurit Tyrak yang telah diputarbalikkan oleh Abyss. Tubuh mereka diselimuti kabut hitam dengan mata merah yang menyala tajam.
Setiap langkah menimbulkan suara berat, logam beradu; senjata di tangan mereka meneteskan cairan merah yang berpendar seperti darah panas.
Bayangan Kael menyeringai dingin, suaranya merendah. “Nikmatilah ... waktu-waktu terakhirmu.”