Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #38

Chapter 35

Namun di tengah serbuan itu, suara keras menggema dari arah Hydra. Bayangan Kael memegangi wajahnya, matanya merah menyala liar.

“KAU MASIH BERDIRI?!”

“KENAPA ...!?”

“KAU TIDAK TAHU KAPAN HARUS RUNTUH, HAH?!”

Aura merah keunguan dari tubuhnya semakin meluap, berputar bagai badai di atas permukaan air hitam. Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi—dan dari pusaran itu, tiga pilar energi kegelapan muncul ke permukaan, menyembur dari bawah seperti magma.

“BAIKLAH ... MAKA RASAKANLAH AKIBATNYA!”

Dalam hitungan detik, ketiga pilar itu membentuk wujud raksasa—seluruh tubuh mereka tersusun dari baja hitam retak, wajahnya tanpa bentuk, hanya lubang kosong yang meneteskan api ungu.

Satu membawa palu sebesar rumah, satu lagi kapak bermata dua, dan satu terakhir menghunus pedang bergerigi raksasa.

Tiga monster—tiga golem penghancur—mengangkat senjatanya bersamaan.

Ketiganya meraung keras.

WRRAAGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!

Suara itu mengguncang udara seperti gempa surgawi.

Kael menurunkan pedang fusinya setengah, keningnya berkerut, menatap tanpa kata.

Sebelum ia sempat bergerak atau bereaksi, seketika—

TRAANGGG!!!

Ketiga monster raksasa itu menghilang dari posisi sebelumnya.

Tiga palu besar menghantam turun dari langit!

Tanah bergetar, air hitam menyembur ke segala arah, dan riak tekanan udara memecah langit di atas.

Namun itu masih belum cukup. Refleks Kael masih lebih cepat. Ia mengangkat pedangnya—dengan satu tangan. Hanya satu tangan.

Cahaya emas meledak saat bilah suci itu menahan tiga kekuatan raksasa sekaligus. Suara benturannya mengaum seperti guntur di ruang sempit, membentuk gelombang kejut yang menghancurkan ratusan pasukan bayangan di sekitarnya.

Tubuh Kael bergetar. Wajahnya mengeras. Kakinya tertekan, lututnya hampir menyentuh air—tapi matanya tetap menatap lurus, penuh api.

Napasnya tertahan, lalu ia berteriak—

“RRRAAAHHHHHHHHHHHHHH!!!”

Dengan satu dorongan penuh amarah dan tekad, ia mendorong pedangnya ke atas—mendorong balik tiga raksasa itu bersamaan. Kolam kelam di bawahnya terguncang, percikan cahaya keemasan membuncah dari permukaannya.

Dan sebelum monster itu sempat menyeimbangkan diri, Kael berputar cepat; tubuhnya seperti badai cahaya—

TIGA TEBASAN SUCI.

Satu tebasan diagonal dari kanan ke bawah, dua tebasan diagonal dari kiri ke bawah, lalu tiga—tebasan vertikal dari atas langit.

Masing-masing golem terbelah di bagian dada, meledak menjadi pecahan energi hitam yang terbakar lalu menguap ke udara.

Dalam sekejap, tiga raksasa itu ambruk—meninggalkan kabut kegelapan yang hancur berantakan.

Melihat itu ... bayangan Kael hanya bisa terdiam. Wajahnya membeku; pupil merahnya bergetar halus. Ia menggertakkan gigi—darah hitam menetes dari matanya, tapi ia tidak berhenti.

“KAU ... KAU ... KAU!!!”

“MANUSIA BAJINGAN! AKU AKAN MEREMUKKANMU SAMPAI TAK BERSISA!!”

Dari tangannya yang gemetar, dua lingkaran hitam muncul di permukaan air. Dan dari kedua lingkaran itu, dua leopard hitam sebesar kuda perang naik ke permukaan. Tubuh mereka diselimuti kabut ungu, otot-ototnya menegang, dan mata mereka menyala merah bara—seperti bara neraka.

GRAAAAHHHKHHHH!!

Suara dua leopard meledak dari dalam kabut—liar, berat, dan mengguncang air di sekitarnya.

Dan tanpa basa basi, keduanya langsung melesat ke arah Kael.

Gerakan mereka begitu cepat; hanya bayangan hitam yang terlihat.

Kael berbalik cepat, pedangnya memantulkan kilatan cahaya. Satu leopard menyerang dari depan, yang lain berputar dari belakang.

Tebasan pertama Kael hanya mengenai udara—leopard itu menghindar dengan kecepatan luar biasa.

Cakar-cakar tajamnya menyambar dari kiri dan kanan, mengenai pelindung bahu Kael—percikan cahaya berhamburan.

Kael terhuyung. Napasnya berat. Tubuhnya berputar ke belakang, pedang suci di tangannya memantul di atas air, menciptakan riak bercahaya emas.

Dengan pandangannya yang sedikit menunduk, ia berbicara di dalam batinnya, dingin lalu menajam;

Lagi, lagi, lagi ... dan lagi! Semuanya ... hanyalah untukku!

Leopard pertama melompat lagi, kali ini dari atas—dan Kael menyadari hal itu, ia menatapnya lurus, tanpa mundur.

“Terlalu cepat? Tidak juga.”

Dengan satu gerakan cepat, Kael memutar pedangnya ke belakang, memantulkan serangan leopard kedua yang datang dari arah punggung.

Lihat selengkapnya