Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #39

Chapter 36

Bayangan Kael menatapnya tajam di balik cahaya berkilau itu, suara tawa dinginnya merayap seperti gema yang datang dari dalam kepala Kael sendiri.

“Lucu sekali ...” katanya lirih namun tajam. “Kau pikir setelah semua ini, akan ada masa depan untukmu?”

Kael berhenti sejenak, kaki kirinya menjejak puing bercahaya, mata merah tirusnya menatap fokus bayangan Kael yang ada di depannya.

“Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini berakhir?” lanjut bayangan Kael. “Ketika tak ada lagi yang bisa kau selamatkan, tak ada lagi yang mempercayaimu?! Kau akan berjalan sendirian, Kael. Seperti dulu. Lagi dan lagi!”

Bayangan Kael melangkah maju, suaranya berubah menjadi seperti bisikan yang berlapis banyak suara. “Bagaimana jika suatu hari nanti, kau bangun dan mendapati semua orang yang kau lindungi telah lenyap? Bagaimana jika dunia tak lagi memanggil namamu ... dan hanya gema sunyi yang menertawakanmu di dalam kegelapan?!”

Setiap kata itu seperti racun yang merembes ke udara. Bayangan Kael menunduk sedikit, lalu mendesis pelan. “Kau berjuang demi apa, Kael? Demi harapan palsu? Demi cinta yang sudah mati? Demi takdir yang bahkan kau sendiri tak pahami?!”

”Kau akan terus gagal!!”

Kael terdiam. Namun dadanya bergetar. Ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan menyala.

Suara tawa ibunya bergaung samar di benaknya. Senyum ayahnya yang keras namun penuh keyakinan. Teriakan rekan-rekan lamanya, tawa bocah kecil di antara reruntuhan, genggaman tangan seseorang yang pernah berjanji untuk menemuinya di akhir dunia.

Semua itu datang bersamaan, bagai kilasan cahaya-cahaya kecil di tengah badai ungu.

Kael menutup matanya sesaat. Ketika ia membukanya, sorot matanya telah berubah—bukan lagi marah, tapi hangat dan mantap. Cahaya emas dari Abyssal Seal kini menari di sepanjang lengannya, mengikuti detak jantungnya sendiri.

“Aku tahu ...” katanya pelan, suaranya serak namun tenang. “Dunia bisa berubah, harapan bisa hancur, dan aku mungkin akan jatuh ribuan kali.”

Ia menggenggam pedang fusi itu erat-erat, lalu menatap bayangannya dengan pandangan yang membelah ruang. “Tapi ....“

Bayangan wajah Kael terangkat dalam tegun.

“Selama aku masih bisa mengingat mereka—yang pernah tersenyum, yang pernah mempercayaiku, bahkan mencintaiku—aku tak akan pernah berhenti.”

Bayangan Kael menyeringai. “Kata-kata indah ... tapi itu semua hanyalah ilusi, Kael. Kau tahu itu. Namun pada akhirnya, kau akan menjadi sepertiku! Iblis yang haus akan kebencian dan kekuasaan!!”

Kael melangkah maju, perlahan tapi pasti. “Kalau memang begitu ...” ia menunduk sedikit, aura di tubuhnya mulai bergetar, “maka aku akan melampaui diriku sendiri—bahkan jika itu berarti menghancurkan bayangan yang menahanku!!”

CRACKKHHH! CRACKKHHH!

Perisai kaca milik bayangan Kael mulai meretak menyebar.

Kilasan lain kembali muncul—ibu yang memeluk bayi di tengah hujan, ayah yang menatap langit saat senja, tangan seorang teman yang menepuk pundaknya di tengah api perang, dan senyum kecil seseorang yang menatapnya dengan penuh harapan.

Semua itu berpadu dalam dadanya, seperti ribuan nyala kecil yang bersatu menjadi matahari.

Kael berteriak—bukan karena marah, tapi karena semua emosi yang selama ini terkubur.

“Semuanya ... cinta, harapan, kemarahan, kehilangan, bahkan kebencian—aku akan bawa semuanya bersamaku! Sampai akhir hayatku!!”

Cahaya di tubuhnya meledak keluar, membanjiri udara dengan aura emas kemerahan yang menelan sisa bayangan di sekelilingnya. Perisai kaca di depan Bayangan Kael terus meretak pelan-pelan, bersamaan dengan langkah Kael yang terus mendorongnya.

Dengan raungan yang mengguncang udara, ia menambahkan seluruh kekuatan terakhir dari tubuhnya, dan berteriak:

“INILAH AKHIR DARI UJIAN INI! HANCURLAH BERSAMA KEGELAPANMU, BAYANGANKU!!!”

Cahaya emas kemerahan menyala dari seluruh tubuhnya—membanjiri ruang Limbus Reveria.

"HRAAAAAHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!"

Perisai kaca itu bergetar keras, lalu retak.

CRAAACKKK——

Pecahan-pecahan cahaya beterbangan seperti serpihan bintang yang jatuh ke laut. Dan pada akhir, pedang Astraveil menembus perisai itu sepenuhnya, menembus dada Bayangan Kael. Dan—

JLEBBB!——

Waktu seolah berhenti. Angin mati. Dunia sepi, hanya ada satu suara—desahan napas terakhir.

Pedang Astraveil menembus hingga ke punggungnya. Tubuh tiruan itu terhuyung, darah gelap menetes di ujung bilah yang masih bergetar. Pandangan Bayangan Kael menunduk, menatap cahaya keemasan yang kini membelah dirinya dua.

“Ketidakpantasan sepertimu ...” suaranya berat, nyaris serak. “Bagaimana bisa ... kau masih berdiri? Hingga membuatku seperti ini ....”

Bayangan Kael mengangkat kepalanya perlahan—melihat salah satu lengan kirinya Kael yang sudah kehilangan sepenuhnya. Darah mengalir deras dari bahunya, membasahi separuh tubuhnya, namun Kael masih berdiri, tegak, dengan tatapan lurus yang tak tergoyahkan.

Lihat selengkapnya