Terima kasih telah berjalan sejauh ini.
Volume pertama ini tidak ditutup dengan kemenangan yang bersih, juga bukan dengan dunia yang tiba-tiba menjadi lebih baik. Ia berakhir dengan luka yang belum sembuh, kelelahan yang menetap, dan satu hal yang jauh lebih penting dari segalanya—kehendak untuk tetap berdiri, bahkan ketika alasan untuk tumbang selalu lebih mudah ditemukan.
Kael Vieron tidak ditulis sebagai pahlawan yang sempurna. Ia adalah manusia yang terus melangkah, meski sering kali dirinya sendirilah rintangan terbesar yang harus ia hadapi. Pertarungan di akhir volume ini bukan semata soal menang atau kalah, melainkan tentang menatap sisi diri yang paling gelap, lalu memilih: membiarkannya menentukan arah hidup ... atau melampauinya, meski dengan langkah yang rapuh.