Code Abyss: Resimulation ― Volume 1

Muhamad Diyas
Chapter #41

Extra Chapter

Sunyi sesaat terjadi ....

Namun tak berselang lama, terdengar suara desis statis yang samar, seperti napas dari dunia yang baru saja padam.

kzzzt ... ssttt ... kzzzt ... ssttt ...

“... Halo? —ketua? Kau dengar aku? Respon, tolong respon, sinyalnya masih kacau nih ... astaga nyebelin banget dah.”

Suara itu pecah-pecah di antara noise elektromagnetik, tapi cukup jelas untuk menembus ruang yang dingin.

Perlahan, dari kegelapan itu, suara tetesan air mulai terdengar—

plok ... plok ... plok ... 

Berulang pelan, seirama dengan dengungan arus listrik yang bergetar di kejauhan.

Kamera bergerak naik perlahan. Sinar tipis dari celah retakan atap menembus kabut debu yang melayang, memperlihatkan lorong besar dari logam dan batu, dindingnya retak, sebagian ditelan akar kabel tua yang masih berdenyut cahaya ungu samar.

Genangan air memantulkan pantulan cahaya itu, seperti cermin kusam dari masa lalu kota yang telah mati.

Splish ... splish ... splish ...

Langkah pelan terdengar. Satu per satu, suara itu mendekat, menandakan seseorang tengah berjalan menembus air setinggi mata kaki.

krrkzt—

“... katanya mereka mindahin chip-nya ke bawah tanah, ya? Merepotkan. Tapi tentu saja, siapa lagi kalau bukan Crytek yang hobi nyembunyiin sesuatu di reruntuhan beracun begini ... oh, serius deh, dari sini saja aku masih bisa merasakan hawa kematian mereka. 453 tahun yang lalu ... Kenapa harus selalu tempat lembab kayak gini sih, Ketua?”

krrt—

“Hei, kau masih di sana, kan?”

Kamera bergerak menyamping. Dari antara kabut debu dan cahaya yang menembus, tampak silhouette seorang wanita berjalan tenang—bahunya tegap, langkahnya nyaris tanpa suara.

Rambut peraknya mengayun rendah, memantulkan kilau keemasan samar dari celah di atas. Di telinga kirinya, anting persegi panjang berlapis emas dengan ukiran motif pena dan lotus berayun ringan, memantulkan cahaya saat ia melangkah.

Di telinga kanannya, sebuah ear-comm kecil menyala redup, berkedip sinkron dengan suara operator yang terus bergumam.

“Ketua, dengar baik-baik. Scan termalku nangkep empat sinyal di koridor depan—kemungkinan drone Crytek kelas ringan. Tapi serius ... yang bikin aku heran—”

“... kenapa kau mau melakukan ini sendirian? Kau tugaskan kemana panda merah itu?"

Jauh di sisi yang lain, di antara tumpukan kontainer logam dan sisa reruntuhan modul lama, sesuatu bergerak pelan. Bukan sesuatu—seseorang. Atau lebih tepatnya, seekor makhluk mungil berbulu jingga-merah dengan ekor lebat yang kini melambai-lambai di udara, separuh tubuhnya menghilang di balik tumpukan besi tua. Hanya ujung ekornya yang tampak mencuat, bergoyang ke kiri-kanan, sesekali berhenti saat terdengar bunyi logam jatuh dari dalam tumpukan.

Panda merah itu jelas sedang mencari sesuatu di sana, entah potongan data core yang rusak, atau hanya penasaran pada bau oli terbakar. Seekor makhluk yang terlalu aktif untuk situasi sunyi seperti ini, tapi bagaimanapun, ia adalah rekannya.

Operator di comm berdeham, suaranya kembali terdengar.

"Biasanya kau selalu berdua dengannya untuk ngelakuin recon semacam ini, 'kan?”

Keheningan menjawab.

"Ketua ...?"

Ia tidak menjawab. Bahkan tak sedikit pun menoleh. Tatapan warna mata oranye keemasannya terus menatap lurus ke depan dengan bentuk tajam, naik di ujung luar, tampak superior dan tegas.

“Ah, aku lupa. Kau lebih suka diam daripada jawab, ya. Seperti biasa. Aku harus tahu apa yang harus aku lakukan sebelum menunggu jawaban darimu.”

Pandangan berpindah ke belakang bahunya. Lorong panjang itu terbentang di depan—penuh genangan air, kabel menjuntai dari langit-langit, percikan listrik menyalak di udara setiap kali arus pendek terjadi.

Asap lembap naik perlahan dari tanah, menciptakan lapisan kabut tipis yang menyelimuti kakinya. Setiap langkahnya menimbulkan riak halus di permukaan air; di atasnya, pantulan cahaya listrik menari di sepanjang siluet tubuhnya.

Di sisi pergelangan tangan kirinya, sebuah pola bercahaya tipis emas tua muncul sekejap—Abyssal Seal-nya. Lalu lenyap kembali saat ia mengangkat tangannya untuk menyingkirkan kabel yang menghalangi jalan.

“Oke, Ketua, dengar baik-baik.”

“Target kita ada di ruang penyimpanan fasilitas Tyrak G12—Harmonic Observation Kernel.Data chip model lama, seri Tyrak–V1A. Kalau bocoran ini benar, isinya fragment Aether pre-collapse. Kau ngerti kan artinya?”

Fasilitas itu—G12-HOK—dulunya bagian dari jaringan penelitian rahasia milik Tyrak Corporation, masa di mana manusia masih berusaha menulis ulang hukum energi dengan logika mereka sendiri. Harmonic Observation Kernel bukan laboratorium biasa; tempat itu dibuat untuk mengamati “resonansi Aether,” gelombang tak kasatmata yang muncul dari pergeseran ruang dan kesadaran.

Para peneliti Tyrak percaya bahwa di balik semua sistem mesin, ada frekuensi dasar realitas—sesuatu yang kelak disebut sebagai Aetherial Logic. Tapi saat itu, mereka belum tahu kalau eksperimen mereka justru membuka pintu menuju kehancuran.

Data chip Tyrak–V1A adalah peninggalan dari era itu, unit penyimpan dengan struktur biologis yang mampu menampung informasi dalam bentuk resonansi hidup. Ia bukan sekadar chip, tapi potongan memori dunia lama—dan jika benar di dalamnya tersimpan fragment Aether pre-collapse, berarti chip itu menyimpan bentuk murni energi sebelum tercemar oleh Abyssal Code.

“Aether pre-collapse” sendiri adalah istilah lama untuk sumber energi murni sebelum kehancuran sistem Aetherial. Zat itu nyaris mustahil ditemukan sekarang, karena semua bentuk Aether modern sudah tercemar oleh kode Abyssal yang mengubah struktur energinya.

Dalam istilah sederhana: yang mereka incar bukan sekadar data, tapi jejak terakhir dari dunia sebelum pecah.

Dan siapa pun yang memegangnya ... bisa menulis ulang sejarah.

“Kalau itu aktif, semua sistem kota bisa bangkit lagi, bahkan tanpa stabilizer!”

“Jadi ... tolong jangan ngelakuin hal gila dulu sebelum aku—”

Suara itu tiba-tiba tertelan oleh gangguan statis.

Lihat selengkapnya