Langit belum biru, tapi juga tak lagi hitam. Warna abu-abu yang menyelimuti pagi itu terasa dingin—menggigit kulitnya yang menghitam jejak sang mentari. Di bawah sana, kota mulai menyapa: suara motor tua, penjual keliling, teriakan ibu memanggil anak sekolah, dan derak langkah tetangga yang menyiram halaman.
Tapi di atas sini, hanya ada dirinya dan ponsel yang selalu hening. Ia berkali-kali menyalakan layar hanya untuk melihat angka jam, berharap ada satu saja titik merah notifikasi yang muncul, meski ia tahu itu mustahil.
Ia duduk di loteng sebuah rumah yang sederhana, kakinya menggantung di tepian menghadap jalan, tangan kirinya mengangkat gelas setengah kosong—bekas kopi semalam yang tak sempat dihabiskan.
Ia tak bicara, tak berpikir panjang. Hanya terdiam seolah berharap gravitasi pelan-pelan menarik dirinya.
Kalau aku jatuh dari sini... apa ada yang bakal memperhatikanku?
Pikirannya terdengar seperti gema di lorong kosong.
Burung-burung kecil melintas, sejenak menjadi teman satu-satunya yang bersuara. Satu dua terbang melewati kepalanya, dan ia hanya mengangkat dagunya sedikit, menatap kosong ke langit.
Dalam lamunannya, ia merasa dunia tak bergerak. Seperti waktu yang telah lama terhenti di wajahnya hingga orang-orang tak akan menyangka bahwa kini umurnya 37 tahun.
Angin pagi menyapu pelan rambut pendeknya. Dingin, tapi tak menusuk. Seperti kenangan yang tak diundang, tapi datang juga.
"Kadang aku mikir... kalau waktu bisa diputar ulang... apa hidupku bakal tetep kaya gini? Duduk di sini? Dan tetap ngerasa kalau dunia bukan tempat seharusnya aku berada?" tanya penasaran tanpa suara pada dirinya sendiri.