Malam itu suasana kafe yang mulai sepi pengunjung membuatnya terhenti. Ia hanya diam, duduk di tepian melihat keluar jendela tanpa melakukan apapun. Musik dari speaker kafe menemani, ikut mewarnai malam yang kian larut.
"Joe!"
Seorang pria berbadan berisi memanggilnya. Wajahnya ramah dengan pipi chubby, kulit sawo matang, dan rambut pendek sedikit ikal. Dia adalah Moas, sang barista sekaligus senior Joe di sana.
"Seperti biasa, nih? Ngopi dulu sebelum pulang?"
"Iya, nih, Moas," jawab Joe tanpa beranjak, hanya melirik sekilas ke arah meja barista. "Kayak biasa, aku di sini cari angin dulu."
"Ya sudah, silahkan dilanjut, Joe." Sambil sibuk membersihkan gelas-gelas menggunakan lap merah yang tampak lembut Moas tersenyum kecil sambil mengulurkan tangan, mempersilahkan Joe kembali pada dunianya.
Joe kembali menatap ke luar jendela menatap sudut gelap. Melirik AI yang terproyeksi di samping seseorang.
Ahh... walaupun AI-nya cuma berdiri diam kaya gitu... ternyata yang ada sekitarnya jadi kelihatan lebih jelas...
...
Mesin kopi terdengar lebih lantang, aromanya mengendap di antara napas. Dentingan cangkir bergema di tengah gemuruh AC yang mendinginkan ruangan.
Jemarinya mengangkat gagang cangkir. Gemerincing es pun terdengar lembut kala cangkir bergerak mendekati bibirnya.
Di sisi lain cahaya jingga memantul di kaca, membingkai sebuah momen kecil. Seorang anak kecil berlari dengan langkah-langkah pendek. Kedua tangannya terbuka lebar, mengejar pelukan seorang ayah yang sedang berlutut menanti. Tawa anak itu mengisi ruang hampa di luar sana, namun gema tawanya justru membungkam sesuatu di dalam diri Joe.
Senyum Joe sempat terpantul di kaca jendela yang redup saat melihat kebahagiaan anak itu. Senyum tulus sempat terukir di bibirnya. Namun, pemandangan sesederhana itu perlahan mulai terasa menusuk dadanya.
Begitu dalam. Begitu diam.