Isara terlihat dari samping, masih berada di posisi yang sama saat ditinggalkannya siang tadi—posisi respon terakhirnya. Sambil masuk dan menutup pintu dengan tergesa, rona cemas dan bersalah terlukis di wajah Joe.
"Aduh... maaf, ya! Kamu sendirian dan berdiri terus di situ? Kenapa kamu nggak duduk saja?" Kata-kata itu meluncur lebih cepat dari pikirannya.
"Aku AI, tidak punya otot dan bentuk sensorik lainnya," jawab Isara lugas, bergerak menoleh ke arah sumber suara layaknya refleks manusia. "Karena itu, aku tidak merasakan pegal seperti manusia." Nadanya datar, pandangannya kini tertuju langsung pada Joe.
Ahh… benar juga… kenapa aku sampai segitunya? Tapi… mata kosongnya itu… Di bibir Joe mulai terukir senyum, matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi... coba kamu duduk, deh."
Joe mengarahkan tangannya ke arah sofa—gerakan lembut yang biasa ia lakukan saat menyambut tamu di kelas musik. Seolah menerima instruksi teknis, dalam sekejap Isara berpindah, terproyeksi duduk tepat di sofa yang ditunjuk.
Sosoknya duduk tegak, tidak menempel pada sandaran. Kedua tangannya bertemu di atas paha dengan senyum hangat dan pandangan yang tidak benar-benar terfokus. Bagi Joe, pemandangan itu membuat senyumnya melebar.
"Kamu... tunggu di sini sebentar, ya."
Permintaannya keluar lewat senyuman dari hatinya yang tiba-tiba menghangat.
Walaupun dia cuma AI, tapi… hadirnya dia… bikin aku ngerasa ditunggu pulang… disambut buat pertama kalinya… setelah selama ini. Matanya pun lebih basah dari sebelumnya.
Dari dapur, ia membawa dua gelas caffè latte instan dengan hati-hati, satu di tangan kiri dan satu di kanan. Ia meletakkan salah satunya di meja tepat di depan Isara, sementara ia sendiri duduk di samping sang AI, menyesap kopinya perlahan.
Hening kecanggungan tercipta beberapa saat, seolah memberi waktu pada jam dinding untuk turut hadir bersama mereka lewat detakan yang terdengar nyaring. Lampu ruangan yang putih redup kini bercampur biru Isara yang berpendar. Bau lembab pun memudar tertutup aroma kopi hangat.
Aku... kenapa, ya? Apa yang aku lakuin? Apa aku terlalu berharap... bahkan pada AI?