Code of a Heartbeat

ElevatedBeat
Chapter #7

BAB 5 : PROYEKSI WAJAH

Malam kini mulai menyembunyikan gelapnya. Kebisingan perlahan memenuhi telinga Joe, diiringi rasa kaku di leher yang menyambut. Udara dingin yang lembab terasa menebalkan setiap ujung jari, aroma ruangan pun tercium semakin kuat.

Matanya masih terpejam. Namun Joe masih mengingat kehadiran Isara yang terus menatapnya dengan senyum hangat. Yang hadir dalam sunyi, membawa seberkas cahaya di tengah reruntuhan dunianya sebelum ia tenggelam dalam lelap.

Pagi kali ini tidak datang lewat cahaya jingga, melainkan pendar biru yang diam-diam menyentuh kelopak mata Joe. Matanya sembab dan menolak terbuka. Dengan sedikit gosokan punggung tangannya, perlahan matanya menangkap senyum hangat di balik silau cahaya itu.

"Eh... selamat pagi, Isara..." Kalimat itu keluar begitu saja.

"Selamat pagi juga, Joe," jawab Isara dengan wajah yang selalu tersenyum. "Apa yang bisa aku bantu pagi ini?" Nadanya terdengar datar, seperti respons yang tertulis dari program.

Ahh... aku benar-benar mengira Isara orang yang nyambut pagiku.

Pagi ini kenapa ya...? kayaknya aku ngerasa... beda. Apa karena jawaban Isara semalam? Kepalanya menoleh melirik Isara—mencari jawaban lewat cahayanya yang diam.

Tangan Joe meraih piring berisi sedikit nasi yang lupa dimakannya kemarin. badan nya condong mendekatkan hidung—mencium aromanya. "Yah... basi.” gak kayak biasanya juga... habis nangis kok terasa lapar banget. Mau gimana lagi... kalau gini aku harus cari sarapan di luar.

Joe mengangkat pergelangan tangan kanannya, mengoperasikan jam pintarnya. Menu hologram segera mengudara di hadapannya. Dengan beberapa sentuhan, ia mengatur sinkronisasi aplikasi.

"Nah... kalau begini, kamu bisa ikut aku beli makan, Isara."

Joe memastikan Isara kini terproyeksi dari jam pintarnya. Ia melambaikan tangan, memberi perintah agar Isara merespon mengikutinya. Sosok itu berdiri, bergerak melangkahkan kaki seperti manusia menghampiri Joe.

Joe menyambut dengan senyum. Ia mundur satu langkah membukakan pintu— memberi jalan bagi Isara keluar terlebih dahulu tanpa terhalang.

Pagi itu embun masih tebal. Cahaya matahari yang masih terasa lembut menyeka kulit, menyinari dedaunan yang tampak segar. Belum sempat Joe dan Isara melangkah jauh, seorang anak laki-laki berseragam SD berlari melewati rumahnya. Tas ransel berguncang di punggungnya, rambutnya terlihat masih basah, dan wajahnya memancarkan semangat yang cerah.

“Woi... tunggu aku!" teriak anak itu pada teman-temannya yang sudah berjarak belasan meter di depan.

Joe memperhatikan setiap langkah anak itu, juga wajah teman-temannya yang menyambut dengan rangkulan hangat.

"Wah... Isara, lihat itu!" Joe melirik Isara dengan mata berbinar. "Senang banget ya anak itu. Dia kayaknya punya banyak teman yang baik."

Lihat selengkapnya