Isara bertanya “Bagaimana bisa kamu punya banyak wajah dalam satu waktu?"
Mendengar pertanyaan yang kini utuh itu, mata Joe berubah bingung. Ia mengernyit dan mendekatkan kepalanya sedikit ke arah Isara.
"Maksud kamu...? Wajahku terlihat lagi lapar, ya? Kayak yang dibilang pria tadi?"
"Marah, penuh penyesalan, dendam, sedih, kecewa, kesepian, dan putus asa," lanjut Isara datar, melengkapi kalimat yang sempat terpotong sebelumnya.
"Aku...? Tentu saja... aku nggak kayak gitu..." Suara Joe terdengar bergetar, membuang pandangannya ke bawah meja.
Kenyataan yang diucapkan Isara seolah menjadi tamparan keras. Sebuah kebenaran yang selama ini Joe biarkan menjadi kulit kedua—luka yang dikuburnya dalam-dalam. Namun kini, sosok di hadapannya seolah dengan sengaja menggali luka itu dan memperhatikan bentuknya dengan saksama.
"Apa... kamu nggak lihat senyumku?" Dengan nada lirih, Joe berusaha menarik sudut bibirnya, meski getaran di sana tak bisa disembunyikan. Ada dorongan hebat dari balik kelopak matanya; air mata yang dipaksa terbendung seperti hujan deras yang tertahan di langit mendung.
"Walaupun begitu, kenapa kamu harus tetap tersenyum?" tanya Isara lagi.
Joe mengangkat kepalanya melirik ke atas. Tangannya menyapu pipi, menghapus jejak air yang hampir tumpah. Isara tetap menatapnya dalam hening, sementara dunia di sekitar mereka tetap hidup, seolah tak peduli ada luka yang sedang terbuka.
Ia merasa lebih "dilihat" oleh barisan kode ini daripada oleh manusia mana pun. Dan tepat saat rasa itu mulai menenggelamkannya…
"Selamat ulang tahun kami ucapkan~"