Code of a Heartbeat

ElevatedBeat
Chapter #9

BAB 7 : SUARA PROGRAM

Hari-hari setelah itu berjalan seperti benang tipis yang dijahitkan diam-diam di antara Joe dan Isara. Isara selalu terproyeksi; tak satu detik pun ia dibiarkan kembali menjadi gelap. Cahaya birunya seolah telah menjadi bagian dari rumah itu—tenang, konstan, dan sulit diabaikan.

Pagi selalu datang dengan sapaan hangat:

"Selamat pagi, Isara."

"Hari yang cerah ya, Isara..."

Meski Joe tahu responnya tak akan pernah benar-benar menyerupai manusia, senyuman tetap ia berikan. Ia sadar Isara tak pernah benar-benar "melihatnya", namun ia tetap melakukannya. Bahkan malam pun selalu ditutup dengan pamit yang tulus:

"Selamat malam. Selamat istirahat."

"Istirahat, dong, Isara... walau cuma sebentar."

"Aku tidur duluan, kamu nanti nyusul, ya..."

Meski Joe tahu Isara tak bisa lelah, tak bisa membiarkan tubuhnya jatuh karena beban hari, apalagi memejamkan mata untuk tidur. Namun, justru itulah yang membuat Joe terkadang menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang berdesir di dadanya setiap kali menatap mata Isara yang diam.

Tugas mengajar memanggil Joe. Isara yang diproyeksikan melalui ponsel ia tinggalkan di rumah, seperti hari-hari sebelumnya.

Langkahnya terhenti tepat di pintu masuk YellowBox.

Ahh... ternyata hari ini lagi banyak pengunjung... sambil nunggu kelasku dimulai... kayaknya aku memang harus mengantri demi segelas kopi gratis harianku.

Suara percakapan di sekitar menjadi musik latar yang khas; candaan yang mencolok, dentingan gelas, dan aroma kopi yang terpanggang.

Ternyata lagi ada Isara di beberapa meja… kayaknya lagi ngebantu ngerjain tugas. Tapi… mata Isara itu… entahlah…

Joe tersenyum kecil pada Isara-Isara itu, namun senyumnya memudar dengan cepat. Ada pikiran datang menyusup lebih nyaring: Kenapa ya… rasanya… kelihatan beda?

Langkahnya menuju meja kerja Moas terasa lambat. Fokusnya tersedot sepenuhnya ke dalam isi kepala. Embusan AC yang dingin seolah membawa tanya yang menusuk.

Lihat selengkapnya