"Selamat datang kembali, Joe."
Isara menyapa. Kedua tangan digitalnya terproyeksi menopang sebuah bentuk hati berwarna hijau. Jari-jarinya tampak menyangga benda itu dengan sangat ringan, sejajar dengan wajahnya sehingga Joe bisa melihat detail permukaannya yang halus. Senyum lembut Isara melengkapi sambutan itu.
Apa?!
Napas dan detak jantung Joe seketika kehilangan ritme. Jantungnya berdebar keras, seakan ada sesuatu yang mengetuk kencang dari balik tulang rusuk. Wajah Joe membeku; kelopak mata melebar dan rahangnya mengendur. Garis-garis halus di wajahnya lenyap, digantikan oleh kebingungan yang murni.
Bukankah Isara cuma bergerak kalau lagi merespons saja? Tapi ini...? Apa aku nggak salah lihat?
Suara Joe tertahan oleh ketidakpercayaan. Ribuan kata berlomba mencari alasan logis di kepalanya.
Nggak, nggak, nggak…! ini pasti salah…! Ini cuma ada di pikiranku saja…
Joe memejamkan mata sesaat, mencoba membedakan ilusi dan logika.
namun pemandangan itu tidak berubah. Isara masih berdiri di sana, tersenyum menopang proyeksi hati hijau di depan pintu.